Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Modal Tak Cukup, Petambak Garam Cirebon Butuh Kepastian Pasar

Kab. Cirebon
3 min read
Modal Tak Cukup, Petambak Garam Cirebon Butuh Kepastian Pasar
Seorang pekerja dari PT SPHJ saat mengerjakan pemilahan garam dari petambak garam Kabupaten Pati. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)
  • Petambak garam Cirebon membutuhkan kepastian harga, pembeli, dan pasar karena tambahan modal saja belum menjamin pendapatan saat panen sulit terserap serta biaya produksi tetap tinggi.

  • OJK Cirebon mendorong ekosistem pergaraman melalui pembiayaan sesuai kebutuhan, teknologi, peningkatan kualitas, pendampingan, dan kemitraan industri agar produksi terhubung dengan pemasaran berkelanjutan.

  • Kabupaten Cirebon memiliki pesisir 79,23 kilometer di delapan kecamatan dan 36 desa; pemerintah menerima masukan regulasi harga serta pengelolaan usaha untuk memperkuat ekonomi pesisir.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Cirebon, IDN Times - Petambak garam di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, membutuhkan kepastian harga jual dan pasar untuk meningkatkan pendapatan. Tambahan modal dinilai belum cukup apabila hasil panen tidak terserap secara konsisten dan biaya produksi masih menjadi beban usaha.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon mendorong pengembangan sektor pergaraman melalui perluasan akses pembiayaan, peningkatan kapasitas produksi, dan kemitraan dengan industri. 

Upaya tersebut diarahkan agar petambak tidak hanya mampu memproduksi garam, tetapi juga memiliki akses ke pembeli yang jelas.

Kepala OJK Cirebon Agus Muntholib mengatakan, pengembangan usaha garam memerlukan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah dan lembaga keuangan hingga pelaku usaha serta mitra industri.

  1. 1. Permodalan bukan satu-satunya masalah

    IMG_20251031_142223.jpg
    Kondisi tambak garam yang tersebar di pesisir Jawa. (IDN Times/Dok KPPMPI)

    Menurut Agus, kebutuhan petambak tidak berhenti pada pembiayaan. Mereka juga memerlukan dukungan teknologi, peningkatan kualitas produk, dan akses pasar agar usaha dapat berjalan secara berkelanjutan.

    “Penguatan kapasitas produksi dan penyerapan hasil panen oleh industri juga diperlukan agar usaha pergaraman memiliki keberlanjutan,” kata Agus, Senin (12/10/2026).

    Akses modal tetap penting untuk mendukung kegiatan produksi. Namun, kata Agus, pembiayaan perlu disesuaikan dengan kemampuan usaha dan kebutuhan petambak agar tidak menambah beban ketika hasil panen sulit dijual.

    "Kami mendorong agar penjajakan kemitraan tidak berhenti pada pertemuan antara petambak dan lembaga keuangan. Pendampingan perlu diteruskan hingga petambak dapat memenuhi persyaratan pembeli industri," katanya.

  2. 2. Kepastian pembeli jadi kunci

    IMG_20251031_142204.jpg
    Tambak garam yang ada di pesisir Jawa. (IDN Times/Dok KPPMPI)

    Salah satu kebutuhan yang disoroti adalah kehadiran pembeli berskala besar atau off-taker yang mampu menyerap hasil panen secara konsisten.

    Kepastian pembeli diperlukan agar petambak memiliki gambaran mengenai kebutuhan produksi, standar kualitas, serta persyaratan yang harus dipenuhi untuk memasuki pasar industri.

    Tanpa permintaan yang jelas, peningkatan produksi belum tentu meningkatkan pendapatan. Karena itu, hubungan antara pembiayaan, produksi, dan pemasaran perlu dibangun sebagai satu kesatuan.

    Deputi Direktur Direktorat Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Daerah OJK Pusat Putu Gede Indra Setyadi mengatakan, pembiayaan usaha pergaraman harus memperhatikan karakteristik usaha dan prinsip kehati-hatian.

    “Pendekatan ekosistem keuangan tertutup atau close-loop menjadi salah satu cara yang didorong agar kegiatan produksi dan pemasaran saling terhubung secara berkelanjutan,” ujarnya.

  3. 3. Pesisir Cirebon punya potensi

    Foto tanah retak di area tambak garam Dusun Muku Desa Sanolo (IDN Times/Juliadin)
    Foto tanah retak di area tambak garam Dusun Muku Desa Sanolo (IDN Times/Juliadin)

    Wakil Bupati Cirebon Agus Kurniawan Budiman menyebutkan, Kabupaten Cirebon memiliki wilayah pesisir sepanjang 79,23 kilometer yang mencakup delapan kecamatan dan 36 desa.

    Potensi wilayah tersebut dinilai dapat dikembangkan untuk memperkuat perekonomian masyarakat pesisir, termasuk melalui usaha pergaraman.

    "Pengembangan usaha juga membutuhkan tata kelola yang memberikan kepastian bagi petambak. Pemerintah Kabupaten Cirebon menerima masukan mengenai perlunya regulasi yang berkaitan dengan harga dan pengelolaan usaha," katanya.

    Menurut Agus Kurniawan, harga jual, biaya produksi, dan kemampuan memenuhi standar pasar turut menentukan hasil usaha yang diperoleh petambak.

  4. 4. Pendampingan menyesuaikan siklus panen

    ilustrasi tambak garam (pexels.com/Quang Nguyen Vinh)
    ilustrasi tambak garam (pexels.com/Quang Nguyen Vinh)

    Saat ini, lanjut Agus Muntholib, OJK Cirebon tengah mengembangkan program pergaraman melalui Program Pengembangan Ekonomi Daerah dengan melibatkan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah Kabupaten Cirebon.

    Program tersebut diarahkan untuk mempertemukan potensi usaha lokal dengan dukungan pembiayaan dan kemitraan industri.

    Agus Muntholib mengatakan, petambak juga membutuhkan pendampingan agar lebih mengenal layanan keuangan dan mampu mengelola pendapatan usaha. 

    Siklus panen garam yang dapat berlangsung selama 15–30 hari menjadi salah satu karakteristik yang perlu dipertimbangkan dalam penyediaan dukungan keuangan.

    Petambak disebut telah menyatakan kesiapan meningkatkan produktivitas dan memenuhi kebutuhan industri. 

    "Namun, upaya itu tetap membutuhkan dukungan modal, teknologi, peningkatan kualitas, serta kepastian pasar. Dengan demikian, pengembangan usaha garam tidak cukup hanya melalui penambahan pembiayaan," tuturnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More