Jabar Belum Bisa Swasembada Plastik, Produsen Masih Tergantung Impor

- Produsen plastik di Jawa Barat masih bergantung pada biji plastik impor, sehingga kenaikan harga global akibat perang Timur Tengah berdampak langsung pada harga jual di dalam negeri.
- Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar menyebut produksi lokal baru mampu memenuhi 40–50 persen kebutuhan, sementara sisanya harus diimpor dari negara lain.
- Kenaikan harga plastik hingga lebih dari Rp50.000 per kilogram membuat UMKM dan masyarakat terdampak, dengan penurunan pesanan serta biaya produksi yang melonjak tajam.
Bandung, IDN Times - Pabrik plastik di Jawa Barat saat ini tengah mengeluh karena bahan baku mengalami kenaikan harga selama terjadinya perang di wilayah Timur Tengah. Imbasnya, harga plastik yang dijual kepada pelaku UMKM dan masyarakat pun naik.
Dinas Perindustrian Dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Barat mengakui, para produsen plastik di wilayah Jabar masih tergantung dengan biji plastik import. Sehingga, ketika terjadi eskalasi konflik maka berdampak signifikan ke harga jual.
Kepala Disperindag Jawa Barat, Nining Yuliastiani menjelaskan, sampai saat ini biji plastik dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan yang ada. Sehingga, bahan impor masih menjadi andalan.
"Di sisi lain pada posisi domestik kami itu memang sangat bergantung pada bahan baku luar. Bisa dibilang bahwa kami baru bisa memproduksi plastik itu 40 sampai 50 persen memenuhi kebutuhan, sedangkan sisanya masih sifatnya impor," ujar Nining saat dikonfirmasi, Sabtu (11/4/2026).
1. Kenaikan harga bahan plastik juga berkaitan melemahnya nilai tukar Rupiah

Produsen plastik di Jawa Barat, kata Nining, selama ini terus mengandalkan impor dari negara lain, dan tercatat setiap tahun angkanya di kisarannya delapan sampai sembilan dari seluruh nilai impor Provinsi Jabar. Angka itu boleh dibilang cukup tinggi.
"Enggak terlalu dominan, tetapi cukup signifikan sebagai bahan baku penting. Dengan adanya masalah atau kemudian gangguan seperti ini tentu saja berdampak pada kenaikan harga plastik," katanya.
"Lebih lagi nilai tukar Rupiah kita juga melemah dan ini berdampak pada harga juga semakin lebih tinggi lagi," ucap Nining.
2. UMKM sangat terganggu

Di sisi lain, para produsen memilih impor karena dinilai lebih murah dibandingkan membeli produk dalam negeri. Nining menyampaikan, kenaikan harga plastik di Jabar sudah sangat berdampak ke masyarakat sekaligus UMKM yang saat ini menjadi tulang punggung perekonomian.
"Ini adalah masalah bersama kita dan kebetulan plastik ini banyak dibutuhkan oleh industri dan UMKM ya, posisinya akan sangat mengganggu kalau ini tidak ada treatment tertentu," katanya.
Dengan semua kondisi ini, Nining menegaskan, Pemprov Jabar tidak bisa mencegah terjadinya kenaikan harga plastik tersebut. Menurut dia, solusinya ialah produsen dalam negeri melakukan penyesuaian produk dan mencari negara importir biji plastik lainnya.
"Posisi ketergantungan kita masih cukup tinggi untuk bahan baku impor. Tentu saja kita perlu mencari negara supplier lainnya untuk mengisi kebutuhan plastik kita, agar menghindari adanya shortage pasokan. kami berharap dengan cara ini produsen bisa menurunkan harga agak tidak terlalu melonjak naik," tuturnya.
3. Produsen plastik di Jabar akui masih mengandalkan biji plastik impor

Kenaikan harga plastik di Jawa Barat terjadi hampir di semua daerah, salah satu di antaranya yaitu Kota Bandung. Masyarakat banyak mengeluhkan kenaikan harga ini, bahkan para produsen pun mengeluh karena biji plastik naik selama sebulan perang Amerika-Israel terhadap Iran.
Para produsen plastik di Cibuntu, Kota Bandung ini masih mengandalkan bahan biji plastik impor. Sehingga, untuk harga plastik saat ini dijual dengan harga lebih dari Rp50.000 per kilogram.
"Saat ini plastik lagi naik dari harga sekitar kurang dari Rp50.000 sekarang bisa lebih dari Rp50.000 per kilogram. Ini dari perang yang Iran sama Amerika," ujar pegawai pabrik plastik Cibuntu, Riska Surihartati saat ditemui di lokasi, Selasa (31/3/2026).
Riska menyampaikan, harga Rp50 ribu ini tergolong mengalami kenaikan yang signifikan, karena penjualan normal sebelum harga biji plastik naik hanya di Rp40 ribu per kilogram. Bahkan, kata dia, harga jual saat ini bisa menyentuh Rp60 ribu.
Banyaknya keluhan dari konsumen, kata Riska, turut mempengaruhi penjualan yang mana saat ini untuk pesanan dan pembelian mengalami penurunan.
Sementara untuk produksi dalam satu pekan di pabrik tersebut membutuhkan sekitar dua ton biji plastik. Harga beli saat ini sudah di atas dari Rp40 juta, dan kenaikan ini pun terjadi saat perang Timur Tengah.
"Harga dua ton itu waktu sebelum ada kejadian perang ini sekitar Rp40 jutaan. Sekarang harganya mencapai Rp80 juta. Naik dua kali lipat," ucapnya.
Riska mengatakan, pabrik mencoba memutar otak dengan mencari penyedia bahan baku biji plastik yang harganya bisa lebih murah, karena untuk bahan yang daur ulang kualitasnya belum bagus.
Pada dasarnya, pabrik plastik Cibuntu ini sudah melakukan antisipasi untuk membeli banyak stok biji plastik sebelumnya. Hanya saja, untuk persediaan tersebut sudah dalam kondisi menipis.
















