(IDN Times/Azzis Zulkhairil)
Yeyen Komar, Ketua KCBI menilai, kesadaran memakai kebaya mulai tumbuh sejak usia dini. Ia menyebut, banyak sekolah yang kini menjadikan kebaya sebagai busana wisuda sehingga anak-anak sudah terbiasa mengenal dan mencintai pakaian tradisional tersebut.
"Anak-anak sekarang ya sudah mulai dari mulai sekolahnya. Anak-anak kami sekolah begitu wisuda ya, pada wisuda pakai kebaya wisudanya. Jadi mulai kecil juga dia sudah merasakan memang dilihat tuh cantik-cantik amat anak masih muda-muda pakai kebaya begitu," katanya.
Meski selama ini PIM menjalankan seluruh kegiatan secara mandiri, ia berharap ke depan pemerintah dapat memberikan dukungan terhadap berbagai program pelestarian budaya yang dilakukan komunitas tersebut.
"Selama ini gak, kita usaha dulu sendiri, mandiri. Tapi itu jadi harapan kami. Kami adalah penjaga budaya yang akan melestarikan kebudayaan. Kami paling konsisten menjaga budaya, termasuk melalui pelestarian kebaya dan seni angklung," tuturnya.
Ketua Panitia Pelaksana, Tike Dwi C. mengatakan, semangat berkebaya akan terus digelorakan melalui berbagai kegiatan. Pihaknya berencana menyisipkan lomba kebaya pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
"Di situ mungkin bisa selipkan lomba kebaya juga mungkin bisa untuk minimal ya buat remaja-remajanya supaya bisa ikut berpartisipasi juga kita berusaha juga untuk itu gitu," kata dia.