Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Harga Pangan Cirebon Awal 2026 Bergejolak, Cabai Merah Paling Panas

Pedagang cabai merah di pasar Kebon Kembang Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (15/1/2025). (Linna Susanti/IDN Times).
Pedagang cabai merah di pasar Kebon Kembang Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (15/1/2025). (Linna Susanti/IDN Times).
Intinya sih...
  • Beras dan cabai jadi pemicu kenaikan inflasi awal tahun
  • Permintaan awal tahun masih tinggi
  • Harga protein hewani bergerak berlawanan arah
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Cirebon, IDN Times - Sejumlah harga kebutuhan pangan di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, tercatat mengalami pergerakan yang bervariasi pada awal Januari 2026.

Data pemantauan harga per Sabtu (3/1/2026) terlihat adanya tekanan kenaikan pada sejumlah komoditas strategis, terutama beras dan cabai, di tengah stabilnya beberapa bahan pangan lain serta penurunan harga pada komoditas tertentu seperti daging sapi dan sebagian jenis cabai.

1. Beras dan cabai jadi pemicu kenaikan inflasi awal tahun

Ilustrasi cabai merah siap dikeringkan/(pexels.com/jens)
Ilustrasi cabai merah siap dikeringkan/(pexels.com/jens)

Kenaikan harga paling terasa terjadi pada kelompok beras. Beras kualitas medium I tercatat naik 0,33 persen menjadi Rp15.150 per kilogram. Kenaikan lebih tinggi terjadi pada beras kualitas super I yang melonjak 1,21 persen ke level Rp16.750 per kilogram.

Sementara itu, beras super II mengalami kenaikan 0,32 persen menjadi Rp15.750 per kilogram. Adapun beras kualitas medium II relatif stabil di harga Rp14.450 per kilogram.

Di sektor hortikultura, cabai kembali menjadi komoditas paling fluktuatif. Harga cabai merah besar tercatat melonjak signifikan sebesar 6,25 persen menjadi Rp46.750 per kilogram. Kenaikan juga terjadi pada cabai rawit hijau yang naik 3,39 persen ke harga Rp74.650 per kilogram.

Sebaliknya, cabai merah keriting dan cabai rawit merah justru mengalami koreksi harga. Cabai merah keriting turun 6,11 persen menjadi Rp43.800 per kilogram, sedangkan cabai rawit merah terkoreksi cukup dalam sebesar 7,97 persen menjadi Rp68.750 per kilogram.

2. Permintaan awal tahun masih tinggi

Aktivitas jual beli di pasar Besar Ngawi. IDN Times/ Riyanto.
Aktivitas jual beli di pasar Besar Ngawi. IDN Times/ Riyanto.

Pedagang di Pasar Sumber, Kabupaten Cirebon, mengakui adanya kenaikan harga pada sejumlah komoditas utama. Salah seorang pedagang sembako, Dede (45 tahun), mengatakan kenaikan harga beras sudah terasa sejak akhir Desember dan berlanjut hingga awal Januari.

“Beras yang kualitas bagus itu naik pelan-pelan. Pembeli masih tetap ada karena kebutuhan pokok, apalagi habis tahun baru,” ujar Dede, Sabtu (3/12/2025).

Ia juga menyebutkan harga cabai cenderung tidak stabil karena pasokan dari petani belum sepenuhnya lancar akibat faktor cuaca. “Cabai itu paling cepat berubah. Kadang naik, besoknya bisa turun lagi, tergantung barang datangnya,” katanya.

3. Harga protein hewani bergerak berlawanan arah

Ilustrasi daging ayam. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)
Ilustrasi daging ayam. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Pada kelompok protein hewani, harga daging ayam ras segar terpantau naik tipis sebesar 0,25 persen menjadi Rp39.700 per kilogram. Kenaikan ini dinilai masih dalam batas wajar dan belum terlalu memengaruhi daya beli masyarakat.

Namun, harga daging sapi justru menunjukkan tren penurunan. Daging sapi kualitas 1 turun 0,66 persen menjadi Rp142.500 per kilogram, sementara daging sapi kualitas 2 turun 0,56 persen ke level Rp133.950 per kilogram.

Penurunan ini dinilai memberikan sedikit ruang napas bagi konsumen, khususnya pelaku usaha kuliner.

Pergerakan harga juga terjadi pada komoditas gula dan minyak goreng, meski cenderung lebih terkendali. Gula pasir kualitas premium tercatat naik tipis 0,26 persen menjadi Rp19.100 per kilogram. Sementara itu, gula pasir lokal masih stabil di harga Rp17.700 per kilogram.

Untuk minyak goreng, harga minyak goreng curah relatif tidak berubah di angka Rp19.600 per kilogram. Minyak goreng kemasan bermerek 1 mengalami penurunan tipis 0,23 persen menjadi Rp21.650 per kilogram, sedangkan minyak goreng kemasan bermerek 2 bertahan stabil di level Rp21.050 per kilogram.

Pedagang menilai stabilnya harga gula dan minyak goreng membantu menjaga daya beli masyarakat di tengah kenaikan beberapa komoditas lain. “Kalau semua naik, pembeli pasti mengeluh. Sekarang masih campur, ada yang naik, ada yang turun,” tutup Dede.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More

UMSK 2026 Jabar Direvisi, Ada 17 Daerah Punya Upah Sektoral

03 Jan 2026, 14:30 WIBNews