Bandung, IDN Times – Ratusan karung kopi spesialty Java Preanger dari kelompok petani Kopi Wanoja dimasukkan ke dalam truk kontainer. Kopi dari Kabupaten Bandung tersebut hendak diekspor ke Arab Saudi secara bertahap hingga 38,4 ton yang nilainya bisa mencapai Rp 8 miliar.
Pengiriman kopi dari Wanoja ke luar negeri bukanlah yang pertama dilakukan. Kopi Wanoja saat ini sudah menjadi langganan konsumen kopi dari berbagai belahan dunia baik di Asia maupun Eropa.
"Kami sekarang mendapat penghasilan yang cukup dari berkebun kopi. Harga kopi tinggi dan peminatnya juga semakin banyak termasuk di luar negeri," kata Herdis ketika berbincang dengan IDN Times di kawasan Center of Excellent Korporasi Petani Kopi, Selasa (27/10/2026).
Herdis merupakan satu dari ratusan anggota koperasi Kopi Wanoja. Sudah enam tahun dia menggarap lahan untuk perkebunan kopi. Sebelumnya, Herdis sekedar ikut berkebun kopi bersama orang tuanya sebelum kemudian dipercaya mengelola lahan sendiri.
Berkebun kopi, lanjutnya, sekarang sangat menjanjikan. Meski panen hanya beberapa bulan saja dalam setahun, tapi penghasilan yang didapat cukup untuk berbagai keperluan sepanjang tahun. Terlebih dengan adanya perkumpulan Kopi Wanoja, banyak petani kopi yang sekarang mampu hidup sejahtera.
"Dulu awal saya harap itu dua hektare, tapi karena uang hasil kopi lumayan sekarang saya bisa tambah 100 tumbak setiap tahunnya untuk perluasan kebun," ungkap Herdis.
Sebelum menikah, uang yang didapat dari perkebunan kopi lebih banyak digunakan untuk pembelian barang. Selayaknya anak muda, ketika mendapatkan penghasilan besar dari perkebunan kopi, Herdis, cukup banyak mengeluarkan uang untuk hal konsumtif. Namun, sekarang ceritanya berbeda ketika dia sudah menikah dan memiliki satu buah hati.
Herdis mulai menyisihkan uang baik untuk ditabung atau investasi pada penyewaan lahan tanah demi menambah luasan perkebunan kopi. Berbagai pelatihan dari lembaga keuangan termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan dia pengetahuan tata cara mengelola keuangan hingga nantinya ketika masa pensiun pun sudah tenang dan tidak merepotkan anaknya.
Di usianya yang memasuki 26 tahun, Herdis sekarang sudah lebih memikirkan masa depan. Mulai dari penambahan lahan berkebun, menabung uang, dan persiapan lainnya dilakukan agar uang yang dihasilkan tidak menguap begitu saja.
"Kan saya sekarang mikir buat anak sekolah nanti, jadi uangnya tidak asal keluar," ungkap Herdis.
