Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mitigasi Gempa Sesar Lembang, BMKG Kekurangan Alat Sensor

Kota Bandung
3 min read
Mitigasi Gempa Sesar Lembang, BMKG Kekurangan Alat Sensor
Ilustrasi Sesar Lembang. (IDN Times/Bagus F)
  • BMKG Bandung menyebut enam sensor khusus di Sesar Lembang belum memadai dan membutuhkan sekitar empat unit tambahan untuk memperkuat pemantauan aktivitas gempa kecil.

  • Sensor tambahan diperlukan untuk mengamati pola kegempaan dan meningkatkan kewaspadaan masyarakat, sementara BMKG menegaskan gempa kecil tidak selalu diikuti gempa besar.

  • Pemkab Bandung Barat menggenjot edukasi mitigasi hingga tingkat keluarga, sedangkan Pemprov Jabar menyiapkan Cirebon dan Purwakarta sebagai pusat pemerintahan sementara.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Bandung menyebut jumlah sensor pemantau gempa yang terpasang di sepanjang jalur Sesar Lembang masih belum memadai.

Dari enam sensor yang telah dipasang khusus untuk memantau aktivitas sesar tersebut, BMKG memperkirakan masih membutuhkan sekitar empat unit tambahan. Hal itudiperlukan untuk memperkuat pemantauan aktivitas kegempaan, termasuk gempa bermagnitudo kecil di sekitar Sesar Lembang.

"Sesar Lembang itu kita sudah pasang sensor gempa khusus untuk Sesar Lembang ada enam. Kita masih kurang sekitar empat lagi," kata Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi dikutip Selasa (27/10/2026).

  1. 1. Jaringan sensor memadai akan membantu melihat pola kegempaan

    IMG20260829095739.jpg
    daerah Gunung Batu untuk mengamati Sesar Lembang (IDN Times/Fatkhur Rozi)

    Menurut dia, keberadaan sensor berperan penting untuk merekam aktivitas gempa bumi, termasuk rangkaian gempa kecil yang dapat menyertai proses terjadinya gempa. Namun, kemunculan gempa bermagnitudo kecil tidak selalu berarti akan disusul gempa yang lebih besar.

    "Ada tiga tipe gempa. Satu, mainshock, aftershock. Jadi gempa kuat dulu baru gempa kecil-kecilnya. Yang kedua adalah foreshock dan mainshock, gempa kecil-kecil, mainshock. Dan yang terakhir adalah swarm, gempanya kecil-kecil terus," ujar Suaidi.

    Dia menjelaskan, jaringan sensor yang lebih memadai dapat membantu BMKG mengamati pola kegempaan secara lebih baik. Informasi tersebut diharapkan bisa menjadi bahan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi bahaya gempa.

    "Kalau sensornya banyak, ada gempa-gempa kecil dan kemungkinan potensi ancaman dengan magnitudo yang akan besar, masyarakat jadi lebih waspada dulu," katanya.

  2. 2. Pemkab Bandung Barat akui jumlah sensor belum optimal

    IMG20260829094451.jpg
    daerah Gunung Batu untuk mengamati Sesar Lembang (IDN Times/Fatkhur Rozi)

    Senada dengan Suaidi, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Asda I) Pemkab Bandung Barat, Duddy Prabowo juga mengakui jumlah sensor pemantau gempa di jalur Sesar Lembang masih perlu ditambah.

    "Memang sudah ada yang dipasang, hanya memang jumlahnya masih belum optimal, mungkin seperti itu," kata Duddy.

    Meski demikian, Pemkab Bandung Barat terus mendorong sosialisasi mitigasi bencana kepada masyarakat yang tinggal di sekitar jalur sesar. Edukasi dinilai penting agar warga memahami langkah yang perlu dilakukan ketika gempa terjadi.

    "Edukasi saya kira harus terus dilakukan, bila perlu sampai ke tingkat keluarga," ujarnya.

  3. 3. Pemprov Jabar sudah siapkah skenario jika Gempa Sesar Lembang terjadi

    IMG20260829101622.jpg
    daerah Gunung Batu untuk mengamati Sesar Lembang (IDN Times/Fatkhur Rozi)

    Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai melakukan mitigasi dan mematangkan semua skenario terhadap dampak aktivitas sesar Lembang. Salah satunya memindahkan pusat pemerintahan sementara di Cirebon dan Purwakarta.

    Sekda Provinsi Jabar, Herman Suryatman mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi langsung dengan pemerintah daerah untuk mempersiapkan dampak terburuk jika terjadi aktivitas Sesar Lembang, termasuk memindahkan pusat pemerintahan.

    "Pemerintah Provinsi Jawa Barat memiliki sejumlah kantor pemerintahan, termasuk di Bandung, Cirebon, Purwakarta, Bogor, dan Garut. Perlu dipastikan sarana pendukung yang dibutuhkan ketika bencana terjadi tersedia, termasuk alat berat dan perlengkapan lainnya," ujar Herman, Selasa (13/10/2026).

    Berdasarkan hasil kajian, Cirebon dan Purwakarta merupakan daerah yang tergolong aman untuk dijadikan pusat pemerintahan sementara jika terjadi aktivitas Sesar Lembang dengan skala besar.

    Oleh karena itu, Pemprov Jabar saat ini tengah mempersiapkan semua kebutuhan di dua kantor negara milik pemerintah provinsi di dua daerah tersebut.

    "Khusus di Cirebon dan Purwakarta yang berdasarkan kajian awal relatif lebih aman dari potensi dampak Sesar Lembang, Pak Gubernur meminta agar disiapkan command center sederhana," katanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More