21.182 Warga Indramayu Jadi PMI, OJK Ingatkan Pentingnya Kelola Gaji

Sebanyak 21.182 warga Indramayu menjadi PMI sepanjang 2025, dengan penghasilan mereka berpotensi menjadi modal usaha dan bekal ekonomi keluarga setelah pulang.
OJK Cirebon menekankan literasi keuangan agar PMI mampu menetapkan prioritas, memakai layanan formal, serta menyiapkan pendapatan untuk kebutuhan produktif pascakontrak.
Indramayu mencatat pengangguran terbuka 6,47% dan kemiskinan 11,02%; pemerintah menyiapkan SMK Go Global untuk mencetak 500.000 calon PMI terampil hingga 2029.
Indramayu, IDN Times - Penghasilan 21.182 pekerja migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Indramayu sepanjang 2025 berpotensi menjadi sumber modal usaha bagi keluarga dan bekal ekonomi setelah mereka pulang ke kampung halaman.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon Agus Muntholib mengatakan, peningkatan kesempatan kerja di luar negeri perlu disertai kemampuan pekerja migran dalam mengelola pendapatan.
Langkah tersebut penting agar penghasilan selama bekerja tidak hanya habis untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
1. Literasi keuangan jadi kunci

Ilustrasi pekerja migran Indonesia. (Dok. KP2MI) Agus mengatakan, pemahaman mengenai layanan keuangan dapat membantu PMI menentukan prioritas penggunaan pendapatan, memilih produk keuangan yang sesuai, dan menyiapkan sumber penghidupan setelah kontrak kerja berakhir.
“Perluasan peluang kerja bagi PMI perlu diiringi dengan kesiapan dalam mengelola penghasilan dan merencanakan masa depan keuangan,” ujar Agus dikutip Selasa (20/10/2026).
OJK Cirebon juga mendorong kerja sama dengan pemerintah daerah dan lembaga jasa keuangan untuk memperluas literasi keuangan bagi pekerja migran.
Edukasi tersebut mencakup pemanfaatan layanan keuangan formal serta pengenalan alternatif pembiayaan sesuai kebutuhan.
2. Penghasilan perlu disiapkan untuk masa purna kerja

ilustrasi pekerja migran (unsplash.com/EqualStock) Menurut Agus, pendapatan yang diperoleh selama bekerja di luar negeri dapat dialokasikan untuk kegiatan produktif ketika PMI kembali ke daerah asal.
Melalui perencanaan yang tepat, penghasilan tersebut berpeluang menjadi modal usaha atau sumber pendapatan baru bagi keluarga.
“Selain memenuhi kebutuhan sehari-hari, pendapatan selama bekerja di luar negeri dapat direncanakan untuk mendukung kegiatan produktif ketika pekerja kembali ke kampung halaman,” katanya.
3. Pengangguran dan kemiskinan masih menjadi tantangan

Ilustrasi pekerja migran Indonesia. (IDN Times/Muhammad Nasir) Data Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Indramayu mencatat, sebanyak 21.182 PMI diberangkatkan sepanjang 2025. Pada periode yang sama, tingkat pengangguran terbuka di daerah tersebut mencapai 6,47 persen, sedangkan persentase penduduk miskin tercatat 11,02 persen.
Angka tersebut menggambarkan tantangan ketenagakerjaan dan kondisi sosial ekonomi Indramayu. Namun, data itu belum menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat langsung antara penempatan PMI, tingkat pengangguran, dan kemiskinan.
Di tingkat nasional, pemerintah menyiapkan program SMK Go Global dengan target 500.000 calon PMI terampil hingga 2029. Sasaran tersebut mencakup 300.000 lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) dan 200.000 peserta dari kalangan masyarakat umum.
Pemerintah juga memperkuat kerja sama penempatan dan pelindungan PMI dengan sejumlah negara, termasuk Portugal, Malaysia, dan Jepang.























