Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dari Biji Kopi Petani Wanoja Menanam Masa Depan

Kab. Bandung
9 min read
Dari Biji Kopi Petani Wanoja Menanam Masa Depan
Petugas sedang memasukkan ratusan karung kopi Wanoja yang hendak diekspor ke Arab Saudi. Dok OJK Jawa Barat
  • Kopi Wanoja dari Kabupaten Bandung mengekspor Java Preanger ke Arab Saudi hingga 38,4 ton senilai Rp8 miliar, melanjutkan pasar internasional yang telah menjangkau Asia dan Eropa.
  • Koperasi Wanoja membina 180 petani melalui pengelolaan produksi dan keuangan, termasuk menahan sebagian hasil panen, pelatihan tabungan, KUR, serta pencegahan pinjol ilegal dan investasi bodong.
  • Pertumbuhan kopi Jawa Barat mendorong OJK dan bank bjb memperluas literasi serta akses pembiayaan, agar petani memisahkan uang usaha, menabung, dan menyiapkan dana pensiun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times – Ratusan karung kopi spesialty Java Preanger dari kelompok petani Kopi Wanoja dimasukkan ke dalam truk kontainer. Kopi dari Kabupaten Bandung tersebut hendak diekspor ke Arab Saudi secara bertahap hingga mencapai 38,4 ton yang nilainya bisa mencapai Rp 8 miliar.

Pengiriman kopi dari Wanoja ke luar negeri bukanlah yang pertama dilakukan. Kopi Wanoja saat ini sudah menjadi langganan konsumen kopi dari berbagai belahan dunia baik di Asia maupun Eropa.

"Kami sekarang mendapat penghasilan yang cukup dari berkebun kopi. Harga kopi tinggi dan peminatnya juga semakin banyak termasuk di luar negeri," kata Herdis ketika berbincang dengan IDN Times di kawasan Center of Excellent Korporasi Petani Kopi, Selasa (27/10/2026).

Herdis merupakan satu dari ratusan anggota koperasi Kopi Wanoja. Sudah enam tahun dia menggarap lahan untuk perkebunan kopi. Sebelumnya, Herdis sekedar ikut berkebun kopi bersama orang tuanya sebelum kemudian dipercaya mengelola lahan sendiri.

Berkebun kopi, lanjutnya, sekarang sangat menjanjikan. Meski panen hanya beberapa bulan saja dalam setahun, tapi penghasilan yang didapat cukup untuk berbagai keperluan sepanjang tahun. Terlebih dengan adanya perkumpulan Kopi Wanoja, banyak petani kopi yang sekarang mampu hidup sejahtera.

"Dulu awal saya harap itu dua hektare, tapi karena uang hasil kopi lumayan sekarang saya bisa tambah 100 tumbak setiap tahunnya untuk perluasan kebun," ungkap Herdis.

Sebelum menikah, uang yang didapat dari perkebunan kopi lebih banyak digunakan untuk pembelian barang. Selayaknya anak muda, ketika mendapatkan penghasilan besar dari perkebunan kopi, Herdis, cukup banyak mengeluarkan uang untuk hal konsumtif. Namun, sekarang ceritanya berbeda ketika dia sudah menikah dan memiliki satu buah hati.

Herdis mulai menyisihkan uang baik untuk ditabung atau investasi pada penyewaan lahan tanah demi menambah luasan perkebunan kopi. Berbagai pelatihan dari lembaga keuangan termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan dia pengetahuan tata cara mengelola keuangan hingga nantinya ketika masa pensiun pun sudah tenang dan tidak merepotkan anaknya.

Di usianya yang memasuki 26 tahun, Herdis sekarang sudah lebih memikirkan masa depan. Mulai dari penambahan lahan berkebun, menabung uang, dan persiapan lainnya dilakukan agar uang yang dihasilkan tidak menguap begitu saja.

"Kan saya sekarang mikir buat anak sekolah nanti, jadi uangnya tidak asal keluar," ungkap Herdis.

  1. Hasil panen tak lagi habis untuk kebutuhan hari ini

    WhatsApp Image 2026-10-28 at 2.10.50 PM (1).jpeg
    Proses pengerjaan Kopi Wanoja di Kabupaten Bandung. dok Koperasi Wanoja

    Menjaga para petani agar tidak menghamburkan uang ketika panen coba dilakukan pengelola koperasi Kopi Wanoja. Meski produk dari kelompok petani ini semakin baik dalam kualitas dan harga, para petani dipaksa agar bisa memisahkan mana kebutuhan keluarga dan mana yang harus disiapkan untuk kebutuhan usaha berkelanjutan.

    Silvi, salah satu pengelola koperasi Kopi Wanoja menuturkan bahwa uang yang didapat petani memang besar. Dulu, untuk kopi dari petik merah harganya hanya Rp8.00 per kilogram (kg), sekarang untuk semua biji kopi baik petik campur saja harganya sudah melambung di Rp25 ribu per kg yang penting mereka panen.

    Di tengah pendapatan yang makin tinggi, koperasi Kopi Wanoja mulai membentengi pengeluaran petani dengan tidak memberikan semua hasil perkebunan kepada mereka. Sebagian uang hasil panen disimpan di koperasi untuk nantinya bisa dipakai para anggota di kemudian hari ketika mereka memang membutuhkannya,

    "Kita kasih ke petani tidak full (seluruhnya). Jadi mereka secukupnya aja dan mereka juga sekarang semakin bisa membagi mana kebutuhan yang udah benar-benar urgent (sangat perlu) dan kebutuhan yang udah bisa dinantiin dulu gitu," ungkap Silvi.

    Kepiawaian ini tidak terlepas dari Kopi Wanajo yang mendapat bantuan pemahaman keuangan dari sejumlah lembaga. Mereka memberikan pelatihan literasi keuangan termasuk bagaimana memaksimalkan pinjaman lewat kredit usaha rakyat (KUR), menjaga diri agar tidak terjerumus pada pinjaman online (pinjol) ilegal, hingga waspada atas ajakan investasi bodong.

    Dengan 180 petani di kawasan Wanoja, keberadaan koperasi untuk mengelola produksi kopi memberikan dampak positif karena tidak hanya memberikan pelatihan dari cara mereka berkebun, tapi hingga pelatihan keuangan sehingga para petani bisa sejahtera meski nantinya sudah tidak bekerja di kebun.

    "Sekarang banyak anak muda juga jadi petani kopi, kami harap mereka konsisten mengelola keuangan dari sekarang, tidak pas nanti sudah tua gitu baru nabung uang," paparnya.

    Saat ini, lanjutnya, bank bjb telah memberikan berbagai pemahaman kepada para petani termasuk dalam pembuatan rekening untuk menyimpang uang. Melalui kemudahan ini petani jadi paham cara menyisihkan penghasilan sehingga tidak asal belanja kebutuhan harian yang tidak begitu penting.

    Mampu mengelola keuangan pun sekarang dimiliki Memen, salah satu petani di Wanoja. Pria 46 tahun ini sejak 2012 mulai menanam kopi di mana sebelumnya hanya memanfaatkan lahan untuk perkebunan sayur. Hampir setiap tahun dia mendapatkan KUR dari perbankan yang angkanya cukup besar bisa mencapai Rp75 juta. Dari catatan bank bjb, sepanjang 2022 hingga 2026 saja tercatat 90 fasilitas pembiayaan dengan total penyaluran mencapai Rp6,635 miliar kepada para petani.

    Kinerja_Pembiayaan_Sektor_Kopi.png
    Data pembiayaan lembaga keuangan pada sektor perkebunan kopi. Dok OJK Jabar

    Karena paham bagaimana mengelola keuangan, kredit yang didapat memang dipersiapkan untuk kebutuhan lahan perkebunan kopi. Sehingga uang yang didapat dari hasil panen digunakan untuk kebutuhan lain.

    "Alhamdulillah tidak pernah ada kredit macet sih. Setiap tahun pinjam pembayaran lancar karena memang hasil kopi lumayan," ungkap Memen.

    Menurutnya, berkebun kopi sekarang menjadi pilihan menjanjikan untuk para petani khususnya yang ada di kawasan Wanoja. Uang yang didapat cukup sehingga mereka bisa membiayai berbagai kebutuhan harian termasuk untuk pendidikan anak-anaknya.

    "Menjanjikan lah, apalagi sekarang banyak diekspor kan. Nah kita kalau pinjam uang juga ga mandet soalnya uang kita ngerti muterinnya gimana," kata dia.

  2. Potensi perkebunan kopi harus diimbangi literasi keuangan

    KOPI WANOJA MENDUNIA-488.jpg
    Kepala OJK Provinsi Jawa Barat Darwisman memberikan simbolis program kesiapan pensiun kepada perwakilan koperasi Kopi Wanoja. dok OJK Jawa Barat

    Jawa Barat menjadi salah satu provinsi dengan perkembangan industri kopi yang terus meningkat. Bukan hanya dari banyaknya coffe shop yang tersebar di setiap sudut kota, tapi juga potensi perkebunannya yang makin masif.

    Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), khusus untuk produksi kopi jenis Arabika saja, pada 2021 lahan yang digunakan mencapai 33.238 hektare dengan total produksi sebesar 14.237 ton. Angka ini naik pesat di mana pada 2025 luas lahan mencapai 38.339 hektare dengan produksi kopi hingga 17.267 ton

    Untuk urusan ekspor kopi dari Jabar pun tidak kalah dari daerah lain.

    Dari kopi Wanoja saja menunjukkan perkembangan orientasi ekspor di mana pada 2022 volume penjualan sebesar 25 ton, kemudian meningkat menjadi 35 ton pada 2023, dan mencapai 80 ton pada 2024. Pada periode yang sama, porsi ekspor meningkat dari 10 persen pada 2022 menjadi 17 persen pada 2023, kemudian mencapai 63 persen pada 2024.

    Peningkatan yang signifikan ini memberikan peluang pendapatan semakin tinggi untuk para petani kopi. Satu hal yang tidak boleh terlewatkan oleh petani adalah bagaimana mengelola keuangan sehingga pendapatan mereka bisa memberikan manfaat dalam jangka panjang.

    "Petani kopi ini harus tahu pentingnya literasi keuangan. Karena hal yang paling mudah misalnya, mereka menyisihkan 10 persen dari pendapatan untuk dana pensiun nanti," kata Kepala OJK Provinsi Jawa Barat Darwisman.

    Menurut data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan, indeks literasi keuangan di wilayah perkotaan mencapai 72,54 persen, sementara di wilayah perdesaan sebesar 64,42 persen, sehingga ada selisih sekitar 8,12 persen. Selisih ini yang coba dipersempit oleh OJK dengan turun langsung memberikan pemahaman mengenai literasi keuangan termasuk kepada para petani kopi di Wanoja.

    Bertemu dengan para petani kopi, Darwisman mengingatkan mereka agar mengelola keuangan keluarga dengan bijak, terutama dengan memisahkan uang usaha dan kebutuhan rumah tangga. Petani pun diminta mewaspadai praktik keuangan ilegal yang berpotensi menjerat mereka dalam masalah ekonomi.

    Dia mengingatkan para petani bahwa ada tiga hal penting dalam pengelolaan keuangan keluarga, yakni memisahkan keuangan usaha dan rumah tangga, menyisihkan pendapatan untuk tabungan sejak awal, serta menghindari aktivitas keuangan ilegal.

    Menurutnya, mencampurkan uang hasil usaha kebun dengan kebutuhan pribadi bisa membuat pengelolaan usaha menjadi tidak terukur. Karena itu, pendapatan dan pengeluaran perlu dicatat serta dipisahkan agar hasil usaha dapat dievaluasi. Selain itu, masyarakat disarankan menyisihkan sebagian pendapatan di awal, bukan menunggu sisa uang pada akhir bulan.

    Di sisi lain, Darwisman juga menyoroti maraknya praktik judi online, pinjaman online ilegal, pinjaman berbunga tinggi, hingga investasi bodong di Jawa Barat. Dia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur iming-iming keuntungan besar yang tidak masuk akal termasuk melalui judi online (judol).

    "Di jabar ini ada sekitar 2,6 juta pemain judi online (judol) dengan perputaran dana mencapai sekitar Rp 6 triliun. Jangan sampai ikut judi, pinjol ilegal, apalagi pinjam-pinjam ke Bank Emok. Jangan sampai juga di Jawa Barat marak ikut-ikutan investasi bodong," pungkasnya.

  3. Akses pembiayaan harus dipermudah

    WhatsApp Image 2026-10-28 at 2.10.50 PM.jpeg
    Proses pengerjaan Kopi Wanoja di Kabupaten Bandung. dok Koperasi Wanoja

    Saat ini OJK dan Bank bjb telah mendorong petani kopi memanfaatkan akses keuangan selain KUR ada juga Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Ini penting untuk mempersiapkan kebutuhan hari tua para petani. Dengan kepesertaan dana pensiun, petani memiliki kesempatan membangun cadangan finansial untuk masa ketika tidak lagi aktif bertani.

    Langkah untuk mempersiapkan masa depan para petani kopi pun dilakukan Bank bjb. Direktur Utama PT BPD Jawa Barat dan Banten, Ayi Subarna, menyebut bahwa pengembangan usaha tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga pada penciptaan nilai ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.

    Dukungan terhadap sektor kopi diharapkan mampu memperkuat hubungan antara petani, pelaku usaha, lembaga keuangan, dan pasar sehingga menghasilkan ekosistem usaha yang semakin produktif dan berdaya saing. Bagi bank bjb, sektor perkebunan merupakan salah satu bidang yang memiliki potensi untuk dikembangkan melalui dukungan pembiayaan dan layanan perbankan yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha.

    "Melalui pendekatan kemitraan, kami mendorong agar akses terhadap pembiayaan dapat mendukung aktivitas produktif petani, mulai dari penyediaan sarana produksi hingga pengembangan usaha setelah panen," ungkap Ayi.

    Menurutnya, kerja sama bank bjb dengan para petani kopi seperti di Kopi Wanoja selama ini antara lain berjalan melalui pola referral pembiayaan KUR bagi petani mitra binaan. Dalam skema tersebut, Kopi Wanoja merekomendasikan petani kepada bank bjb untuk pengajuan pembiayaan sesuai ketentuan yang berlaku, sementara proses persetujuan dan penyaluran kredit tetap dilaksanakan berdasarkan prosedur serta penilaian bank.

    "Dukungan terhadap petani kopi di Wanoja menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi usaha lokal agar semakin tangguh, produktif, dan berdaya saing, sehingga kopi Jawa Barat dapat semakin dikenal dunia serta memberikan nilai ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat," ujarnya.

    Harapan agar para petani bisa lebih paham mengenai pemanfaatan keuangan disampaikan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Ina Dewi Kania. Dia mengatakan bahwa Kabupaten Bandung memiliki potensi perkebunan kopi yang tidak hanya menjanjikan dari sisi pasar, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.

    Pengembangan komoditas kopi diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan. Potensi tersebut terlihat dari perjalanan kelompok tani Kopi Wanoja yang berhasil menembus pasar ekspor.

    Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah keberlanjutan kehidupan petani ketika mereka tidak lagi produktif bekerja. Petani perlu mulai memikirkan bagaimana hasil usaha perkebunan dapat mendukung kehidupan mereka pada masa mendatang.

    "Memang sudah ada kegiatan dari OJK dan Bank bjb baik itu untuk persiapan modalnya, tapi juga petani hak harus mulai belajar memikirkan dirinya untuk bisa bagaimana keberlanjutan kehidupan mereka setelah mereka, misalnya, berhenti untuk bekerja," ungkap Ina.

    Harus ada ilmu yang diberikan kepada petani seperti pengelolaan keuangan yang lebih baik, pemanfaatan akses pembiayaan, serta perencanaan usaha jangka panjang. Dengan demikian, peningkatan pendapatan dari kopi tidak hanya dirasakan selama petani masih aktif bekerja, tetapi juga dapat menjadi bekal untuk masa depan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More