Dana Tak Cair, Satu SPPG di Bandung Berhenti Sementara

- Dana operasional belum cair, SPPG di Bandung henti sementara menyediakan makanan bergizi gratis (MBG) karena perubahan sistem yang membuat pencarian dana tertunda.
- Penyiapan makanan tidak lama, petugas bisa segera membeli barang untuk dipersiapkan dan dimasak nanti malam sebelum disebar pada keesokan harinya.
- SPPG memasak hingga 3.000 porsi setiap hari untuk siswa, lansia, ibu hamil, dan menyusui, namun jumlah porsi kemungkinan akan dipangkas karena peningkatan jumlah SPPG di setiap wilayah.
Bandung, IDN Times - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terletak di Kecamatan Antapani Kulon, Kota Bandung, berhenti sementara dalam menyediakan makanan bergizi gratis (MBG). Penghentian tersebut dikarenakan dana operasional belum didapat sehingga tidak bisa membeli barang belanjaan untuk dimasak.
Informasi mengenai penghentian pendistribusian didapat dari grup WhatsApp (WA). Dari surat yang beredar disebut bahwa SPPG tersebut dilakukan sebagai pertanggungjawaban agar ke depannya MBG bisa kembali disalurkan. Surat itupun ditandatangani Kepala SPPG, Firmansyah Bentang Saputra.
IDN Times coba mendatangi SPPG tersebut yang beralamat di Jalan Jakarta Nomor 143, Kota Bandung. Dari bagian depan rumah terlihat sebuah mobil pengantar SPPG yang terpakir. Sedangkan di area dalam rumah ada beberapa pegawai yang tidak bekerja sementara.
"Kalau itu banyak hal, karena ada administrasi (belum selesai)," kata Ketua SPPG Firmansyah saat ditemui, Senin (9/2/2026).
1. Seharusnya tidak lama bisa cair

Dia belum bisa menjabarkan lebih jauh mengapa dana tersebut belum cair. Namun memang ada perubahan sistem yang membuat pencarian dana tertunda.
Sejak berjalan enam bulan lalu, belum pernah ada kejadian seperti ini. Firmansyah pun berharap operasional bisa segera berjalan kembali setelah uang untuk belanja makanan bisa cair.
"Mungkin ini karena sebelumnya pakai proposal sekarang diubah jadi sistem top up (penambahan anggaran). Jadi setelah uang realisasinya dicek, baru dikeluarkan untuk disesuaikan," paparnya.
2. Penyiapan makanan tidak lama

Menurutnya, untuk menyiapkan MBG sebenarnya tidak lama. Asalkan uang tersebut hari ini cair maka petugas bisa segera membeli barang untuk dipersiapkan dan dimasak nanti malam sebelum disebar pada keesokan harinya.
Sementara masalah uang tersebut diurus oleh pihak yayasan sehingga SPPG hanya fokus pada penyediaan makanan ketika memang sudah ada yang bisa dimasak.
"Kalau kita di bawah kan tahunya harus menjaga (makanan tetap baik) aja. Menjadi dapur ini operasionalnya lancar," ujar Firman.
3. Biasa memasak sampai 3.000 porsi

Dia menyebut bahwa setiap hari memasak hingga 3.000 porsi baik untuk siswa maupun kebutuhan lansia, ibu hamil hingga menyusuai. Untuk sekolah jumlahnya mencapa 12 yang mayoritas adalah sekolah Muhammadiyah yang berada di Antapani Kulon.
Jumlah porsi ini kemungkinan juga akan dipangkas karena sekarang jumlah SPPG meningkat di setiap wilayah. Terlebih untuk membuat terlalu banyak MBG di atas 3.000 itu riskan membuat mutu makanan tidak terjaga.
"Kalay terlalu banyak misanya, susah (dijaga mutunya), bisa kenapa-napa lah. Makanya kita harus pengecekan rutin karena tiap masukin makanan itu kadang kaya deratanya berubah drastis gitu. Menurut saya kalau misalkan di atas 3.000 (MBG tiap masa) itu ya untuk kualitas pasti berkurang. Takutnya, yang ditakutkan ya," pungkas Firman.
















