Bandung Zoo Terlibat Program 5 Ambulans Satwa untuk Gajah Sumatra

- Faunaland Indonesia pengelola Bandung Zoo berkolaborasi dengan Vantara India dalam konservasi satwa liar, diumumkan saat HKAN 2026 dan mendapat apresiasi Menteri Kehutanan.
- Kerja sama menyediakan lima ambulans satwa untuk evakuasi serta penanganan medis awal di lapangan, terutama di kawasan konservasi atau wilayah jauh dari fasilitas kesehatan hewan.
- Vantara mendukung vaksin EEHV guna mencegah penyakit berbahaya pada gajah Sumatra, melanjutkan kerja sama sejak akhir 2025 terkait pemeriksaan kesehatan dan pemetaan kesejahteraan gajah.
Bandung, IDN Times – Bandung Zoo kini menjadi bagian dari kolaborasi konservasi satwa liar tingkat internasional yang menghadirkan dukungan nyata bagi perlindungan gajah Sumatra di Indonesia. Melalui Faunaland Indonesia yang mendapat mandat mengelola Bandung Zoo, kerja sama dengan Vantara India menghadirkan lima unit ambulans satwa serta dukungan vaksin untuk mencegah penyakit yang mengancam populasi gajah Sumatra.
Kolaborasi yang diumumkan dalam momentum Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026 itu tidak hanya memperkuat kapasitas penanganan darurat satwa liar, tetapi juga membuka jalur pertukaran teknologi, pengetahuan, dan keahlian konservasi antara Indonesia dan India.
1. Bandung Zoo Masuk Jejaring Konservasi Internasional

potret Gajah Sumatera di Balai Taman Nasional Way Kambas (instagram.com/ele_partner) Keterlibatan Faunaland Indonesia dalam kerja sama dengan Vantara menandai langkah baru Bandung Zoo dalam penguatan konservasi satwa liar. Melalui kolaborasi ini, Bandung Zoo tidak hanya berperan sebagai lembaga konservasi di tingkat lokal, tetapi juga menjadi bagian dari jaringan konservasi internasional.
Vantara merupakan pusat penyelamatan, rehabilitasi, dan konservasi satwa liar berskala besar yang berbasis di Jamnagar, India. Lembaga yang didirikan Shri Anant Ambani tersebut dikenal aktif mengembangkan riset, pendidikan, dan teknologi konservasi satwa.
Kerja sama ini sekaligus memperluas akses Indonesia terhadap pengalaman dan praktik terbaik dalam penyelamatan serta pengelolaan satwa liar. Penguatan kapasitas konservasi dinilai penting mengingat tantangan perlindungan satwa di Indonesia semakin kompleks, mulai dari kehilangan habitat hingga ancaman penyakit.
Kolaborasi tersebut juga mendapat apresiasi dari Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam rangkaian HKAN 2026. Apresiasi diberikan kepada CEO Faunaland Danny Gunalen dan CEO Vantara Sir Ajit Kulkarni atas kontribusi mereka dalam mendukung konservasi satwa liar di Indonesia.
2. Lima Ambulans Satwa Disiapkan untuk Penanganan Darurat

Seekor bayi gajah Sumatera lahir dari indukan gajah jinak bernama Mega (25 tahun) di Taman Satwa Lembah Hijau, Kota Bandar Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna) Salah satu hasil konkret dari kerja sama tersebut adalah penyediaan lima unit Vantara Animal Ambulance yang akan digunakan untuk membantu penanganan satwa liar di Indonesia.
Ambulans khusus ini dirancang untuk mendukung proses evakuasi sekaligus memberikan penanganan medis awal di lapangan sebelum satwa mendapatkan perawatan lanjutan. Kendaraan tersebut dilengkapi berbagai fasilitas yang memungkinkan dokter hewan melakukan tindakan darurat saat menghadapi kondisi kritis.
Keberadaan ambulans satwa menjadi penting karena banyak kasus penyelamatan terjadi di wilayah yang jauh dari fasilitas kesehatan hewan atau berada di kawasan konservasi yang sulit dijangkau.
CEO Faunaland Indonesia, Danny Gunalen, mengatakan program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan satwa liar melalui kolaborasi yang lebih luas.
"Kami berterima kasih atas apresiasi yang diberikan Kementerian Kehutanan. Bagi kami, apresiasi ini bukan hanya merupakan pengakuan atas apa yang telah dilakukan, tetapi juga menjadi dorongan untuk terus memperkuat kolaborasi dalam menjaga satwa dan keanekaragaman hayati Indonesia," kata Danny dalam keterangan yang diterima IDN Times, Minggu (23/8/2026).
Dengan tambahan armada tersebut, kemampuan Indonesia dalam merespons kondisi darurat yang melibatkan satwa liar diharapkan menjadi lebih cepat dan efektif.
3. Perlindungan Gajah Sumatra Diperkuat Lewat Vaksin EEHV

Pengelola Bandung Zoo Bantu Siapkan 5 Ambulans Khusus Gajah Cegah Ancaman Virus EEHV. Dok Istimewa Selain ambulans satwa, kerja sama antara Faunaland dan Vantara juga berfokus pada perlindungan kesehatan gajah Sumatra yang saat ini menghadapi ancaman Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV).
EEHV merupakan penyakit yang dikenal berbahaya bagi gajah, terutama individu berusia muda. Karena itu, pendekatan pencegahan menjadi salah satu prioritas dalam upaya konservasi jangka panjang.
Vantara akan mendukung Indonesia melalui penyediaan vaksin EEHV sebagai bagian dari langkah preventif untuk memperkuat perlindungan kesehatan gajah Sumatra. Program ini melanjutkan kerja sama yang telah dibangun sejak akhir 2025 antara Kementerian Kehutanan dan Vantara dalam pemeriksaan kesehatan serta pemetaan kondisi kesejahteraan gajah di Indonesia.
Menurut Danny, kolaborasi lintas negara menjadi salah satu kunci untuk memperkuat upaya konservasi di tengah berbagai tantangan yang dihadapi satwa liar saat ini.
"Kami percaya konservasi tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kerja bersama, pertukaran pengetahuan, serta dukungan teknologi dan keahlian agar upaya perlindungan satwa di Indonesia semakin kuat dan berkelanjutan," ujarnya.
Bagi Bandung Zoo dan Faunaland Indonesia, kerja sama dengan Vantara bukan sekadar menghadirkan ambulans satwa atau dukungan vaksin. Kolaborasi ini juga menjadi langkah untuk memperkuat kapasitas konservasi nasional sekaligus membangun jejaring global yang dapat mendukung perlindungan satwa liar Indonesia, termasuk gajah Sumatra yang statusnya masih terancam di alam liar.

















