Salah satu pekerja di UMKM sepatu Moofeat sedang memilah afiliator mana yang cocok dengan kriteria produk yang hendak dipromosikan. IDN Times/Debbie Sutrisno
Waktu menunjukkan pukul 14.30 WIB, Rabu (8/7/2026), ketika Muhammad Nofal Alsyaifa mengawasi seorang pekerja yang sedang mencari afiliator di laman Shopee untuk diajak bekerja sama mempromosikan Moofeat. Di hadapan layar komputer, dia sedang memilah kreator mana yang layak diajak.
Terdapat beberapa kriteria yang diperhatikan oleh UMKM sepatu lokal dari Bandung ini ketika memilih afiliator di antaranya adalah umur, keaktifan membuat video, hingga rajin tidaknya siaran langsung. Fitur kriteria affiliate yang ada di Shopee tersebut makin memudahkan pelaku UMKM dalam menentukan kreator mana yang pas dengan target pasar.
"Kita cari yang bukan cuman upload (unggah) video di Shopee tapi juga live stream-nya (siarang langsung) seperti apa keaktifannya. Di website (laman) bisa kelihatan sih kapan dia live stream kapan dia buat video, jadi enak carinya bisa kita yang tentuin mau siapa dan yang kaya gimana pas kerja sama," ungkap Nofal.
Jenama yang hadir sejak 2007 kini menjelma menjadi merek alas kaki yang menjual ribuan produk setiap bulan dan berhasil menembus pasar internasional. Transformasi itu ditempuh lewat perubahan model bisnis, adaptasi terhadap tren pasar, hingga pemanfaatan platform digital.
Sebelum memanfaatkan lokapasar, lanjut Nofal, penjualan Moofeat mengandalkan jaringan dan toko luring. Perubahan besar terjadi setelah bergabung dengan Shopee pada 2017. Sejak saat itu, Moofeat mulai mempelajari strategi penjualan digital seperti penyusunan judul produk hingga tampilan foto.
"Kita akhirnya coba terjun di sana. Dari cara upload, dari cara nama kunci, kunci judul dan lain-lain, kita foto-foto. Terus seiring berjalannya waktu kita ngikutin, ternyata penjudulan harus seperti gimana, upload foto harus seperti gimana yang enak dilihat sama audiens (pengikut)," katanya.
Sekarang hampir 75 persen penjualan Moofeat berasal dari kanal daring. Pada hari biasa Moofeat mampu menjual sekitar 5.000 hingga 6.000 pasang alas kaki setiap bulan. Sementara ketika masuk musim ramai seperti Lebaran, Back to School, dan akhir tahun, penjualan meningkat hingga dua kali lipat.
Data perusahaan juga mencatat penjualan mencapai sekitar 5.000 hingga 7.000 paket per bulan, bahkan meningkat menjadi 7.000 hingga 10.000 paket saat periode puncak. Capaian tersebut tidak terlepas dari kerja sama dengan afiliator yang sekarang mencapai lebih dari 300 akun.
Untuk menjaga semangat para afiliator, Moofeat rutin menggelar berbagai program kampanye dan insentif. Mulai dari hadiah uang tunai hingga hadiah bernilai lebih besar bagi mereka dengan penjualan terbaik.
"Kita pasti adanya terutama campaign (kegiatan promosi)nbareng. Di mana campaign bareng tuh kita kayak mereka loyal nih untuk memasarkan produk kita, berarti kita juga harus loyal gimana caranya kita bikin salah satunya campaign terutama penjualan misalnya tertinggi itu bisa mendapatkan uang tunai, bisa mendapatkan motor atau handphone atau apa gitu," tutur Nofal.
Dampak positif dari kerja sama antara para afiliator dengan UMKM didukung oleh Pemkot Bandung. Sekretaris Dinas Koperasi dan UKM Kota Bandung Trisye Avi mengatakan, pemerintah mendorong masyarakat untuk memanfaatkan berbagai peluang usaha di era digital, termasuk menjadi rekanan penjual maupun affiliate. Menurutnya, setiap orang memiliki potensi yang berbeda sehingga tidak semua harus menjadi produsen.
"Kita mendorong pelaku usaha itu kan tidak semuanya juga yang mau punya produk. Dia mau itu jadi reseller (rekanan), mau itu menjadi afiliator dan sebagainya kita dorong. Yang penting dia punya aktivitas yang memang produktif," ujar Trisye
Menurutnya, keberadaan affiliate link menjadi solusi bagi masyarakat yang memiliki kemampuan menjual atau membuat konten, tetapi belum memiliki produk untuk dipasarkan. Sebaliknya, banyak pelaku UMKM yang mampu memproduksi barang berkualitas namun memiliki keterbatasan dalam hal promosi.
"Kita melihatnya ini peluang yang bagus sebetulnya bagi masyarakat yang tidak punya produk, tapi dia punya kemampuan untuk menjual. Menjadi afiliator kita dorong," katanya.
Dinas KUKM Kota Bandung pun mulai menjajaki kolaborasi dengan perusahaan yang memiliki program pengembangan affiliate. Salah satunya dengan menghadirkan pelaku usaha dan masyarakat yang dinilai berpotensi menjadi afiliator dalam berbagai kegiatan yang digelar pemerintah.
"Kemarin juga ada yang menawarkan. Ada suatu perusahaan yang memang dia mencetak afiliator-afiliator," ujarnya.
Meski demikian, program tersebut masih dalam tahap awal. Saat ini Dinas KUKM masih fokus menggelar pelatihan pemasaran digital secara bertahap di berbagai kecamatan sebelum memperluas materi mengenai affiliate marketing.
"Yang kemarin itu belum banyak, karena kita roadshow ke kecamatan-kecamatan. Kita sekarang lagi digital marketing, itu juga kita kolaborasi. Terus sekarang itu kemarin baru penjajakan sih. Jadi PT itu memang mencetak afiliator. Jadi nanti kita setelah digital marketing mungkin tema berikutnya adalah ini," papar Trisye.
Ia menilai affiliate memiliki peran penting dalam membangun ekosistem ekonomi digital yang saling melengkapi. Pelaku UMKM dapat fokus pada produksi, sementara affiliate membantu memperluas pemasaran melalui media digital.
"Sebenarnya bermanfaat untuk para pedagang yang mungkin punya produk tapi tidak bisa mempromosikan. Karena dia di ekosistemnya. Ada pedagang memang ada yang bisanya memproduksi, tapi dia udah gak kepikiran untuk promosi juga. Makanya sambungkan dengan yang memang punya kemampuan itu, tapi dia gak punya produk. Jadi saling mengisi lah seperti itu," tuturnya.
Kolaborasi itu tidak berhenti di antara afiliator dan pelaku UMKM. Di ujung rantai tersebut ada konsumen yang menjadi penentu apakah sebuah konten benar-benar mampu menggerakkan transaksi. Bagi sebagian pembeli, keputusan menekan tombol checkout (beli) justru berawal dari video sederhana yang mereka temukan saat menggulir layar ponsel.
Salah satu pengguna aktif aplikasi Shopee, Setia, sedang melihat video promosi sebelum membeli barang yang dicari. IDN Times/Debbie Sutrisno
Bagi Setia, warga Bandung yang kerap membeli produk secara daring di lokapasar, keberadaan video atau siaran langsung bisa membuatnya membeli sebuah barang tertentu. Dia mengaku sering bolak-balik melihat siaran langsung atau video promosi yang menjelaskan produk tertentu. Sebab, dari situ rasa percaya tumbuh hingga akhirnya memutuskan untuk membeli.
Sebagai seorang pekerja dan ibu dua anak berumur lima serta satu tahun, membeli barang secara daring sudah menjadi kebiasaan. Waktu yang terbatas untuk membeli secara langsung ke toko membuatnya lebih mudah melihat dan membeli barang langsung dari ponsel.
Alasan Setia sering melihat dulu ulasan dari pembeli lain atau melihat video yang menjelaskan produk tersebut karena dia beberapa kali tertipu dengan deskripsi yang menarik pada halaman penjual. Sayang, ada saja barang yang tidak sesuai ketika sampai ke rumahnya baik itu warna, ukuran, hingga kegunaan barang.
"Kalau nonton video promosi biasa pas di kantor kalau kerjaan lagi tidak banyak. Kalau malem di rumah kadang nonton yang live gitu kan. Suka ada diskon juga kalau beli langsung. Biasa beli baju, pokok, atau kebutuhan kecil lain buat anak. Pas nonton langsung kita bisa lihat lebih detail barangnya sebelum beli," kata Setia.
Saking sering membeli barang karena melihat video atau siaran langsung, Setia mulai percaya kepada afiliator yang selama ini dianggap memberikan penjelasan dengan rinci mengenai produk yang sering dibeli. Ketika afiliator tersebut tidak menjual barang yang hendak dibeli Setia, dia sesekali tetap masuk ke akun afiliator tersebut untuk melihat barang apa yang sedang dipromosikan.