Gerai B&B Italia Terbesar di Asia Pasifik, LFLO Perkuat Poros Desain Global

- Jakarta menjadi destinasi gaya hidup bagi anak desain Bandung
- B&B Italia Jakarta bukan hanya showroom, tapi ruang eksplorasi urban modern
- Desain bukan soal mahal, tapi soal nilai hidup dan identitas bagi generasi muda urban
Bandung, IDN Times – Buat anak urban Bandung, Jakarta sering dianggap “tetangga ribet”: macet, padat, dan serba cepat. Tapi belakangan, ibu kota juga makin menarik sebagai destinasi gaya hidup—terutama buat mereka yang hidup di antara kopi, ruang kreatif, dan desain estetik.
Terbaru, PT Imago Mulia Persada Tbk (LFLO) meresmikan flagship store B&B Italia Jakarta, yang kini tercatat sebagai monobrand B&B Italia terbesar di Asia Pasifik. Dengan luas 1.300 meter persegi, tempat ini bukan sekadar showroom furnitur, tapi ruang eksplorasi gaya hidup urban modern.
1. Jakarta Makin Jadi ‘Playground’ Anak Desain Bandung

Bandung selama ini dikenal sebagai kota kreatif, rumah bagi arsitek muda, desainer interior, hingga content creator visual. Tapi untuk urusan akses langsung ke brand desain global, Jakarta masih jadi magnet.
Kehadiran B&B Italia terbesar di Asia Pasifik ini memperpendek jarak itu. Anak Bandung yang biasa berburu inspirasi lewat Pinterest atau Instagram, kini bisa langsung “merasakan” desain kelas dunia hanya dengan naik kereta cepat atau travel.
Di satu ruang, tiga jenama legendaris—B&B Italia, Maxalto, dan Azucena—dikurasi tanpa kesan kaku. Setiap sudut terasa seperti set hunian impian, bukan etalase jualan.
2. Bukan Showroom Kaku, Tapi Tempat Nongkrong yang Estetik

LFLO menyebut ruang ini sebagai “galeri hidup”. Artinya, pengunjung tidak dituntut datang untuk beli, tapi untuk mengalami. Cocok dengan gaya Gen Z yang lebih suka eksplorasi daripada transaksi.
Konsep Zeitgeist atau semangat zaman terasa kuat: ruang dibuat hangat, mengalir, dan relatable dengan kehidupan urban masa kini—kerja hybrid, nongkrong produktif, sampai healing tipis-tipis.
Pendekatan Demokrasi Desain juga bikin tempat ini terasa inklusif. Desain premium tidak diposisikan sebagai simbol pamer, tapi sebagai inspirasi. Mirip vibes creative space Bandung, tapi dengan skala global.
3. Desain bukan soal mahal, tapi soal nilai hidup

Menariknya, narasi besar di balik pembukaan gerai ini justru bukan soal kemewahan. Presiden Direktur LFLO, Erlangga Boenawan, menekankan bahwa desain harus tetap manusiawi.
Bagi generasi muda urban—yang makin sadar makna ruang, kesehatan mental, dan work-life balance—pesan ini terasa relevan. Bahwa rumah, kafe, atau ruang kerja bukan cuma tempat, tapi bagian dari identitas.
Jakarta boleh jadi pusatnya, tapi resonansinya sampai ke Bandung. Ketika desain tidak lagi elitis, melainkan jadi bagian dari keseharian, jarak antarkota pun terasa makin tipis.

















