WyataGuna Siapkan Aplikasi Baca Buku hingga Portal Kerja untuk Difabel

- Sentra Wyata Guna Kemensos menguji layanan digital nasional untuk memperluas akses informasi, pekerjaan, dan alat bantu bagi penyandang disabilitas.
- Aplikasi Digitabilitas akan menyediakan buku audio digital bagi penyandang disabilitas sensorik netra, melalui kolaborasi dengan penerbit dan penulis.
- Kemensos juga menyiapkan portal pencarian kerja serta akses alat bantu; uji coba melibatkan penyandang disabilitas dan ditargetkan digunakan dalam satu hingga dua bulan.
Bandung, IDN Times - Sentra Wyata Guna Kementerian Sosial (Kemensos) tengah mengembangkan layanan digital untuk memperluas akses penyandang disabilitas terhadap informasi, pekerjaan, hingga alat bantu.
Kepala Sentra Wyata Guna Feri Afriyanto mengatakan, inovasi tersebut saat ini masih dalam tahap uji coba. Layanan ini nantinya tidak hanya diperuntukkan bagi penyandang disabilitas yang berada di Wyata Guna, tetapi ditargetkan dapat dikembangkan dan digunakan secara nasional.
"Harapan kami dengan uji coba sistem ini, itu bisa membantu membuka akses bagi penyandang disabilitas, baik itu buku audio, kemudian mencari kerja, termasuk juga untuk mereka punya akses-akses yang lain," kata Feri, Jumat (18/9/2026).
1. Kolaborasi dengan banyak penerbit

Kepala Wyata Guna Kota Bandung Feri Afriyanto. IDN Times/Debbie Sutrisno Salah satu layanan yang sedang dikembangkan adalah aplikasi Digitabilitas yang ditujukan untuk membantu penyandang disabilitas sensorik netra mengakses buku dalam format audio digital.
Menurutnya, selama ini, Sentra Wyata Guna memberikan buku kepada penyandang disabilitas sensorik netra dalam bentuk flash disk. Namun, cara tersebut dinilai masih memiliki keterbatasan karena akses terhadap buku belum cukup luas.
Melalui aplikasi tersebut, buku nantinya dapat dialihsuarakan dari teks menjadi suara menggunakan reader. Dengan demikian, penyandang disabilitas sensorik netra dapat mendengarkan buku secara digital.
"Jadi buku-buku yang nanti bisa diakses oleh para penyandang netra. Jadi buku ini bentuk audio," ujarnya.
Feri mengatakan, pihaknya juga akan bekerja sama dengan penerbit maupun penulis untuk menyediakan berbagai buku. Buku yang diperoleh kemudian akan dialihsuarakan dan dimasukkan ke dalam sistem.
Langkah tersebut juga menjadi alternatif karena penyediaan buku dalam format braille membutuhkan biaya dan ruang yang besar.
"Nah karena begitu banyaknya, cost-nya tinggi, kami akan audiokan. Jadi orang bisa baca dalam bentuk suara," kata dia.
2. Penyandang disabilitas dan perusahaan dipertemukan

penyandang disabilitas netra memanfaatkan ubin pemandu bertekstur garis (go) untuk membantu mobilitas dan navigasi saat berjalan di trotoar. (sumber: Shutterstock) Selain akses buku, Kemensos juga menyiapkan portal yang mempertemukan penyandang disabilitas pencari kerja dengan perusahaan. Melalui sistem tersebut, perusahaan dapat mendaftarkan kebutuhan tenaga kerja, sedangkan penyandang disabilitas dapat mencantumkan kompetensi yang dimiliki.
Nantinya, sistem akan membantu mempertemukan kebutuhan perusahaan dengan kemampuan pencari kerja. Kompetensi yang dimaksud beragam, mulai dari bidang pemasaran, teknologi informasi, penulisan hingga manajemen sumber daya manusia.
"Jadi kita mempertemukan itu," ujarnya.
Menurut dia, layanan tersebut dikembangkan karena penyandang disabilitas masih menghadapi tantangan dalam mengakses pekerjaan. Di sisi lain, perusahaan juga membutuhkan mekanisme untuk menemukan tenaga kerja disabilitas yang sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan.
3. Akses alat bantu dibuat lewat portal khusus

ilustrasi portal web (pexels.com/Pixabay) Layanan ketiga yang tengah disiapkan adalah portal untuk mempermudah penyandang disabilitas mengakses bantuan alat bantu. Feri mencontohkan, kebutuhan seperti kursi roda, alat bantu dengar hingga kaki palsu. Selama ini, penyandang disabilitas yang membutuhkan alat bantu harus mengajukan permohonan melalui mekanisme tertentu yang dinilai masih cukup menyulitkan.
"Nanti kita buatkan portal khusus, jadi penyandang disabilitas yang membutuhkan misalnya kursi roda, alat bantu dengar, kemudian misalnya butuh kaki palsu, ke mana mereka mau akses, nah kita open," kata Feri
Saat ini, seluruh sistem tersebut masih dalam tahap uji coba. Tim pengembang juga melibatkan penyandang disabilitas agar layanan yang dibuat sesuai dengan kebutuhan penggunanya.
Feri berharap aplikasi dan portal tersebut dapat rampung dalam waktu dekat. Jika proses uji coba berjalan sesuai rencana, layanan tersebut ditargetkan mulai dapat digunakan sekitar satu hingga dua bulan mendatang.
Untuk tahap awal, uji coba difokuskan pada penyandang disabilitas sensorik netra. Ke depan, layanan tersebut akan dikembangkan untuk penyandang disabilitas dengan ragam kebutuhan lainnya.
"Inisiasinya dari Wyata Guna, tapi ke depan ini harus bisa berlaku secara nasional," ujarnya.











.jpg)






