Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Waspada Bencana, Sepekan ke Depan Jabar Bakal Diguyur Hujan
ilustrasi bencana alam (pexels.com/Read Once)
  • BMKG Jabar memperingatkan potensi hujan sedang hingga lebat di wilayah Jawa Barat pada 23–29 April 2026 yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor.
  • Peningkatan curah hujan dipengaruhi suhu muka laut hangat, gelombang ekuatorial kelvin aktif, serta potensi belokan angin yang mendukung pembentukan awan konvektif lokal.
  • Musim kemarau 2026 diprediksi datang lebih cepat dengan sifat hujan Bawah Normal dan durasi lebih panjang, berpotensi menimbulkan kekeringan serta penurunan ketersediaan air bersih.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
11 Maret 2026

Teguh Rahayu menjelaskan bahwa musim kemarau tahun ini diprakirakan datang lebih cepat dari normal dengan sifat hujan Bawah Normal di sebagian besar wilayah Jawa Barat.

Maret hingga Juni 2026

Awal musim kemarau diprediksi terjadi bertahap, dengan sebagian besar wilayah Jawa Barat memasuki musim kemarau pada Mei 2026.

April 2026

Awal musim kemarau diperkirakan terjadi di sebagian wilayah Bekasi, Karawang, Purwakarta bagian timur laut, Subang bagian utara, Indramayu, serta sebagian wilayah Cirebon.

Mei 2026

Sebagian besar wilayah Jawa Barat mulai memasuki musim kemarau meliputi Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung Raya, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Pangandaran dan daerah sekitarnya.

Juni 2026

Musim kemarau diperkirakan meluas ke sebagian besar wilayah Bogor, Sukabumi bagian utara, Cianjur bagian barat laut, Bandung Raya, Garut bagian tenggara, Tasikmalaya bagian selatan dan Pangandaran bagian barat.

Agustus 2026

Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi di bulan ini dengan durasi sekitar 13–15 dasarian dan cenderung lebih panjang dari normal.

23–29 April 2026

BMKG memprakirakan hujan intensitas sedang hingga lebat akan mengguyur wilayah Jawa Barat selama periode ini akibat dinamika atmosfer yang mendukung peningkatan suplai uap air.

25 April 2026

Teguh Rahayu mengeluarkan imbauan resmi agar masyarakat waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti hujan lebat, angin kencang, banjir dan tanah longsor di Jawa Barat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    BMKG memperingatkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah Jawa Barat yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang.
  • Who?
    Peringatan disampaikan oleh Koordinator UPT BMKG Jawa Barat sekaligus Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Teguh Rahayu, kepada masyarakat dan instansi di seluruh Jawa Barat.
  • Where?
    Wilayah terdampak meliputi seluruh provinsi Jawa Barat, termasuk Bandung Raya, Bogor, Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Cirebon, Indramayu, dan daerah sekitarnya.
  • When?
    Periode hujan diprakirakan terjadi selama sepekan ke depan pada 23–29 April 2026. Informasi ini disampaikan secara resmi pada Sabtu, 25 April 2026.
  • Why?
    Kondisi atmosfer mendukung peningkatan suplai uap air akibat suhu muka laut hangat di perairan barat Indonesia serta aktivitas gelombang ekuatorial Kelvin dan belokan angin di sekitar Jawa Barat.
  • How?
    Masyarakat diminta tetap waspada terhadap perubahan cuaca dengan memantau informasi melalui aplikasi InfoBMKG serta mengikuti arahan pemerintah daerah bila terjadi bencana hidrometeorologis
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
BMKG bilang nanti di Jawa Barat bakal banyak hujan selama seminggu. Katanya hujannya bisa deras sekali dan bisa bikin banjir, angin kencang, atau tanah longsor. Pak Teguh dari BMKG suruh orang-orang hati-hati dan tetap tenang. Sekarang semua diminta siap-siap dan sering lihat info cuaca biar aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Peringatan BMKG tentang potensi hujan lebat di Jawa Barat menunjukkan kesiapsiagaan lembaga tersebut dalam melindungi masyarakat melalui pemantauan atmosfer yang cermat dan penyampaian informasi cuaca secara terbuka. Upaya ini membantu warga dan instansi merencanakan kegiatan dengan lebih aman, sekaligus memperkuat kesadaran publik terhadap pentingnya mitigasi bencana berbasis data ilmiah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Bandung meminta masyarakat se-Jawa Barat untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi. Hal ini dikarenakan dalam sepekan ke depan atau 23- 29 April 2026 mendatang, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi mengguyur wilayah Jabar.

Koordinator UPT BMKG Jabar sekaligus Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Teguh Rahayu menyampaikan, potensi hujan ini disebabkan terdapatnya dinamika atmosfer yang diprakirakan masih mendukung adanya peningkatan suplai uap air di sebagian wilayah Jawa Barat.

"Di antaranya adalah suhu muka laut yang masih relatif hangat di sebagian perairan Indonesia bagian barat, aktifnya gelombang eguatorial kelvin diawal minggu, serta masih adanya potensi terbentuknya daerah belokan angin di sekitar wilayah Jawa Barat," kata Teguh, dalam keterangan resminya, Sabtu (25/4/2026).

1. Potensi pembentukan awan konvektif ada di tingkat ringan hingga kuat

Ilustrasi bencana (Pexels.com/Pok Rie)

Teguh menjelaskan, kondisi labilitas atmosfer yang mendukung peningkatan potensi pembentukan awan konvektif, terutama pada skala lokal, diprakirakan masih bervariasi pada kategori ringan hingga kuat.

"Masih diprakirakan bervariasi pada kategori ringan hingga kuat yang mendukung peningkatan potensi pembentukan awan konvektif pada skala lokal," jelasnya.

Kendati begitu, berdasarkan prakiraan perkembangan dinamika atmosfer dan analisis data pengamatan, baik pada skala global, regional, lokal, serta luaran model cuaca probabilistik atau deterministik sebagian wilayah Jabar diperkirakan masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

2. Masyarakat diminta waspada

Ilustrasi Bencana Banjir Akibat Deforestasi (unsplash.com/Iqro Rinaldi)

Untuk itu, Teguh mengimbau masyarakat dan instansi untuk waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang disebabkan oleh kondisi cuaca.

"Masyarakat dan instansi terkait diimbau untuk tetap waspada terhadap kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu dan berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologis seperti hujan lebat hingga sangat lebat, angin kencang, banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang," imbaunya.

"Tetap tenang tapi siaga, mengenali risiko di lingkungan sekitar, serta selalu memperbarui informasi cuaca dan mengikuti arahan serta protokol evakuasi dari pemerintah daerah apabila terjadi bencana," lanjutnya.

3. Musim kemarau di Jabar diprediksi akan pendek

Ilustrasi kemarau basah (unsplash.com/redcharlie)

Teguh menambahkan agar masyarakat lebih berhati-hati dalam merencanakan aktivitas, khususnya bagi yang akan melaksanakan perjalanan darat, laut, dan udara, dengan memantau informasi cuaca terkini yang dapat diakses melalui aplikasi Info BMKG.

"Bagi masyarakat yang hendak memperoleh informasi cuaca terkini, dapat langsung mengakses website dan media sosial resmi BMKG," katanya.

Sebelumnya, Teguh menjelaskan, musim kemarau tahun ini diprakirakan datang lebih cepat dari normal dengan sifat hujan didominasi Bawah Normal di sebagian besar wilayah.

"Awal musim kemarau diprediksi terjadi bertahap mulai Maret hingga Juni 2026, dengan sebagian besar wilayah memasuki musim kemarau pada Mei 2026," kata Teguh Rabu (11/3/2026).

Secara umum, sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami sifat hujan Bawah Normal, dengan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dan durasi kemarau berkisar 13–15 dasarian dan diprediksi memiliki durasi lebih panjang dari normal.

Dengan sifat hujan yang didominasi Bawah Normal dan durasi kemarau yang cenderung lebih panjang, ada beberapa potensi dampak yang perlu diwaspadai masyarakat.

"Beberapa di antaranya kekeringan meteorologis, penurunan ketersediaan air bersih, gangguan irigasi pertanian, peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan," ujar Ayyu.

BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengantisipasi potensi kekeringan, penurunan ketersediaan air, gangguan irigasi pertanian, serta peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan, melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih optimal dan penyesuaian kalender tanam.

Adapun awal musim kemarau 2026 diprediksi terjadi di wilayah Bekasi bagian utara, Kota Bekasi bagian utara, dan Karawang bagian barat laut. Selanjutnya pada April 2026 diperkirakan terjadi di sebagian wilayah Bekasi, Karawang, Purwakarta bagian timur laut, Subang bagian utara, Indramayu, serta sebagian wilayah Cirebon.

Sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026, meliputi sebagian wilayah Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung Raya, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Pangandaran, serta wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Ciamis, dan Banjar.

Kemudian pada Juni 2026, musim kemarau diperkirakan meluas ke sebagian besar wilayah Bogor, Sukabumi bagian utara, Cianjur bagian barat laut, Bandung Raya, Garut bagian tenggara, Tasikmalaya bagian selatan, dan Pangandaran bagian barat. Selain itu terdapat 1 ZOM bertipe satu musim (2,4%).

Editorial Team