Daya Beli Kelas Menengah Jabar Masih Tertekan meski Ekonomi Tumbuh

- Daya beli kelas menengah ke bawah di Jawa Barat masih tertekan meski ekonomi tumbuh, karena harga kebutuhan pokok tetap membebani rumah tangga berpenghasilan rendah.
- Warga makin selektif berbelanja dan menunda pembelian barang sekunder, sementara pedagang pasar tradisional serta UMKM melaporkan penjualan yang lebih naik turun dibanding sebelum pandemi.
- Jawa Barat mencatat deflasi bulanan 0,05 persen pada Juli 2026, inflasi tahunan 2,72 persen, serta surplus perdagangan USD13,79 miliar sepanjang Januari-Juni 2026.
Bandung, IDN Times - Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat turut mengungkap kondisi daya beli dari masyarakat kelas menengah di Jabar. Berdasarkan data-data di lapangan, daya beli kelas menengah masih dalam situasi tekanan.
Kepala DKPP Jawa Barat, Linda Al Amin mengatakan, meski terpantau ekonomi mengalami pertumbuhan, namun untuk kelas menengah ke bawah daya belinya saat ini masih belum begitu bergairah.
"Kelompok ekonomi menengah ke bawah, masih menghadapi tekanan, meskipun ekonomi daerah terus tumbuh. Kondisinya tidak seragam, ada sektor yang membaik, tetapi banyak rumah tangga masih sangat sensitif terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok," ujar Linda saat dikonfirmasi, Rabu (5/8/2026).
1. Harga kebutuhan pokok masih relatif tinggi

Menurut dia, ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi tersebut terjadi, salah satu di antaranya yaitu soal harga kebutuhan pokok yang masih tinggi jika dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya.
"Harga kebutuhan pokok masih relatif tinggi dibanding beberapa tahun lalu. Walaupun laju inflasi Jawa Barat kini berada di kisaran sekitar 2,72 persen (yoy), harga pangan seperti beras, cabai, dan beberapa bahan makanan tetap menjadi beban bagi keluarga berpenghasilan rendah, (BPS Jawa Barat)," katanya.
Kebutuhan pokok ini merupakan hal yang dasar bagi seluruh rumah tangga, baik kelompok ekonomi menengah dan ke bawah. Di sisi lain, Linda membenarkan kondisi pertumbuhan ekonomi di Jabar mengalami peningkatan.
"Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama ekonomi Jawa Barat. Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat masih cukup baik, namun hal ini tidak berarti seluruh lapisan masyarakat merasakan peningkatan kesejahteraan secara merata," kata dia.
2. Pendapatan pedagang di pasar tradisional dan UMKM tidak stabil

Belum meningkatnya daya beli masyarakat ekonomi kelas menengah ini, kata Linda berdampak langsung di mana warga kelas tersebut lebih selektif dalam berbelanja kebutuhan dasar, sandang, papan, pangan.
"Masyarakat lebih selektif dalam berbelanja, pembelian barang sekunder seperti pakaian, elektronik, atau rekreasi cenderung ditunda," ucapnya.
Dampak lain dari kondisi ini, disebutkan Linda, membuat para pelaku UMKM mendapatkan pemasukan yang tidak stabil.
"Pedagang di pasar tradisional maupun UMKM lebih sering melaporkan penjualan yang naik turun dibanding periode sebelum pandemi," kata Linda.
3. Jabar deflasi 0,05 persen pada Juli 2026

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat ada penurunan harga komoditas bahan pokok yang mendorong terjadinya deflasi di Jabar secara month-to-month (m-to-m) pada Juli 2026 sebesar 0,05 persen. Beberapa bahan pokok yang mengalami turun harga di antaranya bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, dan daging ayam ras.
Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati mengatakan, penurunan harga komoditas bahan pokok tersebut disebabkan oleh panen raya di beberapa wilayah produsen. Contohnya, panen bawang merah yang berlangsung di Kabupaten Bandung, Kabupaten Garut dan wilayah luar Jawa Barat.
"Deflasi juga disebabkan oleh penurunan permintaan daging ayam dan telur ayam ras selama periode libur sekolah karena tidak berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG)," kata Margaretha saat acara Rilis Berita Resmi Statistik Provinsi Jawa Barat, Senin (3/8/2026).
Ia merinci, komoditas yang memberikan andil deflasi tertinggi secara month-to-month pada Juli 2026 yakni bawang merah (0,09 persen), cabai merah (0,07 persen), emas perhiasan (0,07 persen), cabai rawit (0,05 persen) dan telur ayam ras (0,04 persen).
Adapun, komoditas yang menyumbang inflasi tertinggi pada Juli 2026 secara month-to-month adalah bensin (0,09 persen), ketimun (0,02 persen), sekolah dasar (0,02 persen), bawang putih (0,02 persen) dan mobil (0,01 persen).
Sementara itu, secara year on year, terjadi inflasi di Jawa Barat pada Juli 2026 sebesar 2,72 persen. Komoditas dengan andil inflasi tertinggi Juli 2026 secara year on year adalah emas perhiasan (0,62 persen), bensin (0,31 persen), minyak goreng (0,16 persen), beras (0,13 persen), cigaret kretek mesin (0,09 persen).
BPS Jawa Barat juga menyampaikan perkembangan ekspor impor Jawa Barat. Dikatakan Margaretha, neraca perdagangan Jawa Barat mengalami surplus USD 13,79 miliar selama Januari-Juni 2026.
Hal itu terjadi karena Jabar berhasil mencetak ekspor hingga USD 19,60 miliar, lebih besar dibandingkan impor USD 5,81 miliar. Nilai ekspor Jabar pada periode tersebut naik 5,11 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Pangsa pasar terbesar ekspor nonmigas Januari-Juni 2026 adalah ke Amerika Serikat, sebesar USD 3,26 miliar, disusul Filipina USD 1,74 miliar dan Jepang sebesar USD 1,40 miliar dengan kontribusi ketiganya terhadap ekspor mencapai 32,95 persen.
Sementara, negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-Juni 2026 ditempati oleh Tiongkok senilai USD 2,30 miliar (41,85 persen), disusul Korea sebesar USD 654,64 juta (11,90 persen), dan dari Jepang sebesar USD 651,17 juta (11,84 persen).



















