Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil
Di sektor energi terbarukan, pemanfaatan data lingkungan pun menjadi faktor krusial untuk mitigasi risiko operasional. Manager Environmental Sustainability PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE), Fajar Adi Prasetyo menjelaskan bahwa industri panas bumi (geothermal) yang umumnya berada di wilayah bercurah hujan tinggi sangat bergantung pada akurasi data presipitasi dan cuaca.
"Lokasi potensi panas bumi di Indonesia mayoritas berada di area berisiko tinggi terhadap bencana tanah longsor. Keberadaan data curah hujan dan meteorologi sangat membantu PGE dalam memitigasi risiko tersebut. Selain itu, bagi perusahaan terbuka (Tbk), pengungkapan risiko terkait iklim (climate-related risks) kini menjadi standar kewajiban yang dituntut oleh pasar," kata Fajar.
Sementara, Regional Manager Consultant Carbon Disclosure Project (CDP), Haryono Hansen Sirait menyampaikan, transparansi data dampak lingkungan kini telah menjadi perhatian utama para investor global.
Saat ini, ratusan investor internasional mewajibkan perusahaan dalam portofolio mereka untuk melaporkan data dampak lingkungan secara terbuka dan independen.
"Investor ingin melihat sejauh mana risiko lingkungan dan perubahan iklim dapat memengaruhi aset bisnis mereka. Data meteorologi dan oseanografi menjadi pijakan mendasar untuk mengukur tingkat bahaya serta potensi kerugian finansial di lokasi proyek," kata Hansen.
Kemudian, Deputy for Financing and Investment Development in the Maritime Sector, Mohammad Irfan Saleh menyampaikan, selama ini upaya penanganan di pesisir Jawa Tengah kalah cepat dibanding eskalasi bencana abrasi. Oleh karena itu, pemerintah mengambil langkah percepatan melalui strategi kombinasi penanganan teknis dan investasi berkelanjutan.
"Kecepatan kita menangani dengan kecepatan terjadinya bencana itu jauh. Selama ini kita coba proteksi pakai tanggul pantai, tetapi itu jauh lebih lambat daripada bencananya karena abrasi di Demak sangat cepat," ujar Irfan.
Namun, kata Irfan, atas arahan Presiden, proyek penanganan pesisir ini dirancang untuk mempercepat perlindungan kawasan pantai sepanjang ratusan kilometer di Pulau Jawa. Khusus di wilayah Sayung, strategi yang diterapkan tidak hanya mengandalkan struktur keras (hard structure), melainkan mengombinasikan pendekatan berbasis alam (nature-based solutions) seperti penanaman mangrove serta pembangunan tanggul pantai dan tanggul laut.
President Director PT Haskoning Indonesia, Mark van Zanten mengatakan, ancaman abrasi di pesisir Jawa merupakan masalah besar yang membutuhkan penanganan berbasis perencanaan matang dan integrasi berbagai solusi.
"Ini masalah besar, tetapi saya melihat sudah banyak perencanaan yang dilakukan. Hal terpenting adalah membuat kebijakan pengelolaan pesisir atau coastal management policy yang tepat untuk melawan erosi dan abrasi," kata Mark.
Menurut Mark, pendekatan untuk menyelamatkan garis pantai tidak bisa seragam, melainkan harus mengombinasikan berbagai solusi teknis sesuai kondisi wilayah. Penanganan tersebut mencakup pendekatan berbasis alam (nature-based solutions) seperti penanaman mangrove, hingga pembangunan infrastruktur fisik seperti tanggul laut dan tanggul pantai.
"Terkadang solusinya berupa penanaman mangrove, terkadang membangun tanggul (dike). Solusinya berbeda-beda, tetapi yang dibutuhkan adalah perencanaan yang baik serta ketersediaan anggaran untuk menangani masalah ini," katanya.