Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Wacana Penarikan SPP SMA/SMK Negeri Jabar Bukan Usulan DPRD
MPLS Sekolah Maung Bandung (IDN Times/Azzis Zulkhairil)
  • DPRD Jawa Barat membantah menjadi pengusul wacana reaktivasi SPP SMA/SMK negeri, menegaskan ide itu muncul dari hasil diskusi dengan Dinas Pendidikan dan berbagai unsur pendidikan.
  • Wacana SPP muncul dalam konteks asas keadilan, agar siswa dari keluarga mampu ikut berkontribusi sementara siswa kurang mampu tetap disubsidi melalui mekanisme silang.
  • Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meminta kajian mendalam sebelum menerapkan SPP, menekankan fokus utama pada optimalisasi penggunaan dana BOS dan perbaikan fasilitas sekolah terlebih dahulu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
15 Juli 2026

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi wacana penarikan SPP bagi siswa SMA/SMK negeri. Ia menegaskan rencana tersebut bukan usulannya dan meminta agar dikaji secara hati-hati.

16 Juli 2026

Anggota DPRD Jawa Barat Komisi V, Zaini Shofari, menjelaskan bahwa wacana reaktivasi SPP muncul dari hasil rapat Komisi V dengan Dinas Pendidikan. Ia menegaskan pembahasan masih dalam tahap inventarisasi masalah oleh Pansus Penyelenggaraan Pendidikan.

kini

Wacana reaktivasi SPP di SMA/SMK negeri Jawa Barat masih sebatas diskusi dan belum menjadi usulan resmi. Pemerintah provinsi berfokus pada optimalisasi penggunaan dana BOS untuk perbaikan sekolah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Wacana reaktivasi Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) di SMA dan SMK negeri Jawa Barat muncul dalam diskusi antara DPRD Jabar, Dinas Pendidikan, serta unsur pendidikan lainnya, namun belum menjadi usulan resmi.
  • Who?
    Anggota DPRD Jawa Barat Komisi V Zaini Shofari, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, perwakilan Dinas Pendidikan, KCD, PGRI, dan Forum Komunikasi Sekolah Swasta terlibat dalam pembahasan wacana ini.
  • Where?
    Pembahasan berlangsung di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, termasuk rapat Komisi V DPRD Jabar di Bandung serta kunjungan ke beberapa SMA dan SMK negeri seperti SMAN 1 Depok.
  • When?
    Pernyataan dan klarifikasi terkait wacana ini disampaikan pada Rabu hingga Kamis, 15–16 Juli 2026.
  • Why?
    Wacana muncul untuk meninjau asas keadilan dalam pembiayaan pendidikan agar siswa dari keluarga mampu dapat berkontribusi sementara yang tidak mampu tetap mendapat subsidi silang.
  • How?
    Pembahasan dilakukan melalui rapat Komisi V dengan Dinas Pendidikan serta pengumpulan masukan dari berbagai pihak; saat ini masih tahap inventarisasi masalah tanpa keputusan penerapan SPP.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Ada orang-orang di Jawa Barat yang ngobrol soal uang sekolah SMA dan SMK negeri. DPRD bilang mereka tidak mengusulkan itu, cuma hasil rapat dengan Dinas Pendidikan saja. Mereka bikin tim buat bahas aturan sekolah. Gubernur Dedi bilang jangan buru-buru, sekarang fokus pakai uang BOS dulu supaya sekolahnya bisa bagus dan rapi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Wacana reaktivasi SPP di SMA dan SMK negeri Jawa Barat memperlihatkan proses kebijakan yang terbuka dan partisipatif. DPRD bersama Dinas Pendidikan serta berbagai unsur masyarakat berupaya meninjau ulang regulasi pendidikan agar lebih berkeadilan, sementara Gubernur menekankan pentingnya pengelolaan dana BOS secara optimal sebelum mengambil keputusan baru, menunjukkan kehati-hatian dan tanggung jawab bersama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat membantah telah mengusulkan reaktivasi Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) di SMA dan SMK negeri Jawa Barat. Wacana tersebut muncul berdasarkan hasil diskusi dari para Kantor Cabang Dinas (KCD) dan juga perwakilan sekolah swasta.

Anggota DPRD Jawa Barat Komisi V, Zaini Shofari pun membantah wancana tersebut merupakan inisiatif tunggal dari legislatif. Dia mengatakan, munculnya ide reaktivasi SPP untuk sekolah SMA dan SMK negeri ini berdasarkan hasil pertemuan dengan Dinas Pendidikan.

"Jadi begini, awalnya ada rapat di Komisi V dengan Dinas Pendidikan. Saat ini juga sedang ada pembentukan Pansus (Panitia Khusus) Penyelenggaraan Pendidikan. Pansus ini membahas Perda Nomor 5 Tahun 2017 yang dianggap belum cukup mengakomodasi kebutuhan dunia pendidikan di Jawa Barat secara keseluruhan," kata Zaini saat dikonfirmasi, Kamis (16/7/2026).

1. DPRD menyerap masukan dari KCD dan juga unsur pendidikan lainnya

MPLS Sekolah Maung Bandung (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Adapun Pansus yang dibentuk ini memiliki tugas untuk meng-input dan menginventarisasi masalah soal pendidikan untuk dikaji dalam Perda tersebut. Dengan begitu, dilakukan lah pertemuan dengan unsur-unsur pendidikan untuk mendengarkan langsung keluhan atau masalah-masalah di lapangan saat ini.

"Kami menyerap masukan dari berbagai pihak, mulai dari KCD (Kantor Cabang Dinas), PGRI, Forum Komunikasi Sekolah Swasta, hingga elemen masyarakat lainnya. Saat ini posisinya masih dalam tahap input materi untuk Pansus," kata Zaini.

"Di sana muncul diskursus atau wacana untuk mengaktifkan kembali SPP bagi sekolah negeri (SMA/SMK). Namun, ada syaratnya. Perspektifnya adalah 'Pendidikan Berkeadilan'," katanya.

2. Semangatnya untuk pendidikan berkeadilan

MPLS Sekolah Maung Bandung (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Zaini pun meluruskan narasi wacana reaktivasi SPP yang saat ini berkembang di masyarakat. Dia mengungkapkan, masyarakat beranggapan hal itu diterapkan sepenuhnya di seluruh sekolah. Sementara, dalam diskusi bersama unsur pendidikan beberapa waktu lalu itu, semangatnya untuk menghadirkan asas keadilan.

Asas keadilan yang dimaksud, saat ini banyak anak dari para kepala daerah OPD dan DPRD yang bersekolah di SMA dan SMK negeri tidak dibedakan dengan murid lain. Sementara, secara finansial mereka sangat mampu.

"Menurut saya, tidak adil jika anak Gubernur atau anak anggota dewan yang bersekolah di negeri mendapatkan 'beasiswa' alias tidak membayar sama sekali, padahal mereka mampu. Jadi, bagi yang mampu silakan membayar sesuai kemampuannya, sedangkan bagi yang tidak mampu tetap mendapatkan subsidi silang, seperti model di kampus-kampus," tuturnya.

3. Wacana ini dipastikan bukan usulan tunggal dari DPRD Jabar

MPLS Sekolah Maung Bandung (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Dengan begitu, Zaini mengatakan, anggapan wancana reaktivasi SPP muncul dari Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat tidak tepat. Bahkan, saat ini rencana tersebut belum masuk pada usulan resmi, baru sebatas hasil diskusi saja.

"Iya, kurang tepat jika disebut hanya usulan DPRD. Kami duduk bersama dan ada masukan seperti itu. Setiap masukan kan harus ditampung dan dituntaskan. Ini bahkan belum masuk wilayah usulan resmi, baru tahap inventarisasi masalah, saran, dan masukan untuk pembenahan pendidikan di Jawa Barat," ujarnya.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi pun sudah merespons wacana tersebut. Dia mulanya memastikan, rencana agar murid dengan ekonomi menengah ke atas ini ditarik SPP bukan usulannya. Dia meminta wacana ini harus dikaji secara hati-hati.

"Itu kan kami harus melakukan pengkajian secara mendalam. Nanti kalau gubernur mengaktifkan SPP nanti opininya beda lagi, disebut gubernur tidak memprioritaskan pendidikan," ujar Dedi, Rabu (15/7/2026).

Sebelum muncul rencana tersebut, Dedi mengatakan, sudah menyisir dan mendatangi beberapa sekolah SMA dan SMK negeri di Jabar yang gedung dan pengelolaannya baik. Salah satunya di SMAN 1 Depok yang mana sekolah tersebut bisa mengelola dana BOS dengan tepat sasaran.

"Gini, dana BOS itu saya kan sudah mengunjungi setiap sekolah nih. Sekolah ini pakai dana BOS, sekolahnya berantakan. SMA 1 Depok itu pakai dana BOS, sekolahnya rapi. Dan saya nanya ke kepala sekolah saya tanya, 'Kok sekolah Bapak bisa rapi?' 'Ya kami mengelola ini dengan baik'," kata Dedi.

Dengan begitu, Dedi menginginkan agar saat ini yang bisa menjadi fokus pengembangan sekolah dan perbaikan-perbaikan gedung sekolah dilakukan dengan memaksimalkan dana BOS.

"Jadi tahap pertama sekarang saya ingin berfokus sekolah itu mengelola dana BOS dulu dengan baik," katanya.

Adapun dalam perjalanannya sekolah belum mampu memperbaiki seperti fasilitas toilet dan juga ruang kelas, Dedi mengungkapkan, hal tersebut akan ditanggung oleh pemerintah provinsi. Namun, dana BOS itu dia meminta agar dimaksimalkan untuk infrastruktur sekolah.

"Nanti ada kekurangan-kekurangan apa, kan gitu. Biasanya kan kekurangannya fasilitas toilet, sekolahnya kurang ruang kelas, sekolahnya kurang pendingin ruangan, sekolahnya kurang sarana ibadah, sekolahnya kurang pagar. Nah itu kita penuhi oleh provinsi," tuturnya.

Lebih lanjut, Dedi menegaskan, ada baiknya langkah ini dilakukan terlebih dahulu dan jangan terburu-buru menerapkan pungutan SPP bagi murid yang masuk ekonomi menengah ke atas.

"Tapi operasional sekolah itu dipenuhi dulu oleh BOS. Jangan dulu membuka SPP. Saya menghormati usulan itu tetapi juga saya mempertimbangkan aspek publik gitu loh. Nanti polemik lagi," ujar Dedi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article