Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Transaksi Digital Melesat, Perusahaan Hadapi Tantangan Baru
Dok.Istimewa
  • Volume transaksi pembayaran digital Indonesia mencapai 6,11 miliar pada Agustus 2026, tumbuh 40,36 persen secara tahunan, sehingga perusahaan perlu memperkuat treasury, keamanan siber, dan ketahanan operasional.
  • AI, aset digital, pembayaran real-time, serta otomatisasi berpotensi mempercepat transaksi dan perdagangan lintas negara; digitalisasi perdagangan diproyeksikan menambah nilai global US$2,8 triliun pada 2031.
  • Realisasi investasi Indonesia 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun, dengan hilirisasi Rp584,1 triliun; penguatan pemasok lokal, keterampilan, teknologi, logistik, dan pembiayaan dibutuhkan untuk meningkatkan nilai tambah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pembayaran digital di Indonesia jadi sangat banyak, sampai 6,11 miliar kali pada Agustus 2026. Angka ini naik lebih dari 40 persen. Pak Donny dari Standard Chartered bilang AI dan uang digital bisa membuat pembayaran lebih cepat. Sekarang perusahaan harus menjaga uang, sistem, dan keamanan supaya tidak mudah ada penipuan atau gangguan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Lonjakan transaksi digital dan investasi hilirisasi mencerminkan ruang pertumbuhan yang semakin terbuka bagi dunia usaha Indonesia. Teknologi pembayaran, AI, serta dokumen digital berpotensi membuat proses keuangan dan perdagangan lintas negara lebih efisien, sementara forum lintas pemangku kepentingan menyediakan ruang untuk membahas ketahanan, keamanan, dan penguatan nilai tambah domestik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times — Volume transaksi pembayaran digital di Indonesia mencapai 6,11 miliar transaksi pada Agustus 2026, tumbuh 40,36 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menunjukkan semakin besarnya kebutuhan transaksi digital, sekaligus menuntut perusahaan memperkuat pengelolaan keuangan, keamanan sistem pembayaran, dan ketahanan operasional.

CEO Standard Chartered Indonesia, Donny Donosepoetro OBE, mengatakan perkembangan teknologi berpotensi mengubah cara perusahaan menjalankan transaksi keuangan. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan mata uang digital dapat membuat transaksi semakin otomatis, cerdas, dan terhubung.

“Pertumbuhan pembayaran digital di Indonesia menunjukkan betapa cepatnya kebutuhan transaksi terus berkembang. Menurut Bank Indonesia, volume transaksi pembayaran digital pada bulan Agustus 2026 mencapai 6,11 miliar transaksi, atau tumbuh lebih dari 40% dibandingkan tahun sebelumnya. Ke depan, kecerdasan buatan (AI) dan mata uang digital berpotensi mengubah cara perusahaan melakukan transaksi keuangan, sehingga transaksi tidak hanya menjadi lebih cepat, tetapi juga semakin otomatis, cerdas, dan terhubung,” kata Donny.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Indonesia Treasury Leadership Forum 2026 yang diselenggarakan Standard Chartered Indonesia di Jakarta, Selasa (13/10/2026). Forum tahunan ini mempertemukan regulator, pelaku industri, pemimpin perusahaan, dan para ahli untuk membahas perkembangan teknologi serta perubahan ekonomi global yang memengaruhi pengelolaan keuangan perusahaan.

Di tengah perubahan tersebut, perusahaan tidak hanya dituntut mempercepat transaksi. Pengelolaan likuiditas, modal kerja, risiko keuangan, serta keamanan sistem juga menjadi bagian penting dari fungsi treasury, yakni pengelolaan arus kas dan kebutuhan pendanaan perusahaan.

1. Transaksi makin Cepat, Keamanan Sistem Jadi Perhatian

Dok.Istimewa

Perkembangan pembayaran real-time, AI, aset digital, dan konektivitas antarsistem menjadi sejumlah faktor yang mengubah cara perusahaan mengelola pembayaran dan likuiditas. Namun, semakin terhubungnya sistem pembayaran juga membuat keamanan siber, pencegahan penipuan, dan ketahanan operasional perlu mendapat perhatian.

Isu tersebut dibahas dalam sesi The Future of Payments: Intelligent. Instant. Resilient. yang menghadirkan Siva Ramanathan, Partner sekaligus Chief Growth and Corporate Officer Ksher Group; Sean Letz, Asia Cyber Leader Marsh McLennan; serta Jasan Manghnani, Cluster Head, Digital Channels Solutions, ASEAN, Standard Chartered. Diskusi dimoderatori Jenny Tantono, Head of Transaction Banking, Standard Chartered Indonesia.

Perkembangan teknologi memungkinkan proses pembayaran berlangsung lebih cepat dan otomatis. Meski demikian, perusahaan tetap perlu memastikan sistem yang digunakan mampu melindungi transaksi dan beroperasi secara andal ketika menghadapi gangguan.

Dengan semakin luasnya penggunaan sistem digital, pengelolaan treasury juga tidak lagi sebatas memastikan ketersediaan dana dan kelancaran pembayaran. Fungsi ini semakin berkaitan dengan pengelolaan risiko, efisiensi modal kerja, serta kesiapan perusahaan menghadapi perubahan teknologi.

2. Digitalisasi Perdagangan Berpotensi Membuka Peluang Baru

Ilustrasi digitalisasi

Selain pembayaran, digitalisasi juga berpotensi mengubah perdagangan lintas negara. Dalam laporan Future of Trade 2026, Standard Chartered memproyeksikan percepatan digitalisasi perdagangan dapat meningkatkan nilai perdagangan global pada 2031 sebesar US$2,8 triliun atau 6,9 persen di atas proyeksi dasar.

Potensi tersebut didukung oleh penggunaan teknologi seperti AI, dokumen perdagangan digital, dan otomatisasi proses bisnis yang dapat membantu perusahaan menjalankan perdagangan lintas negara secara lebih efisien.

“Laporan Future of Trade 2026 dari Standard Chartered menunjukkan bahwa percepatan digitalisasi perdagangan berpotensi meningkatkan nilai perdagangan global sebesar USD2,8 triliun, atau 6,9% di atas proyeksi dasar, pada tahun 2031. Artinya, semakin luasnya penggunaan teknologi seperti AI, dokumen digital, dan otomatisasi proses bisnis dapat membantu perusahaan melakukan perdagangan lintas negara dengan lebih efisien, sekaligus membuka peluang bisnis yang lebih besar. Melalui Treasury Leadership Forum, kami ingin mendorong diskusi mengenai bagaimana perusahaan dapat memanfaatkan teknologi tersebut sekaligus memperkuat ketahanan dalam menghadapi perubahan ekonomi dan rantai pasok global,” tambah Donny.

Angka tersebut merupakan proyeksi berdasarkan skenario percepatan digitalisasi, bukan nilai tambahan perdagangan yang sudah terealisasi. Peluang itu juga bergantung pada kemampuan perusahaan beradaptasi dengan perubahan teknologi dan kondisi perdagangan internasional.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan, serta strategi diversifikasi produksi mendorong perusahaan meninjau kembali rantai pasok global. Perusahaan perlu mempertimbangkan cara menjaga kelancaran produksi dan distribusi di tengah perubahan kondisi pasar.

Persoalan ini dibahas dalam sesi Rewiring Global Supply Chains: From Uncertainty to Opportunity yang menghadirkan Aldian Taloputra, Senior Economist Standard Chartered Indonesia; Purbaja Pantja, CEO ALVA; Namrit Kamra, Corporate CFO Indorama Polychem Indonesia; serta Maisie Chong, ASEAN and South Asia Head of Trade & Working Capital, Standard Chartered.

3. Investasi Hilirisasi Meningkat, Indonesia Perlu Memperkuat Nilai Tambah

Ilustrasi investasi (freepik.com)

Perubahan rantai pasok global juga membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam perdagangan internasional. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM yang dikutip Standard Chartered, realisasi investasi Indonesia sepanjang 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun, tumbuh 12,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun atau meningkat 43,3 persen secara tahunan. Angka tersebut menunjukkan besarnya aktivitas investasi pada sektor yang berkaitan dengan peningkatan nilai tambah sumber daya.

Namun, besarnya investasi yang masuk bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Tantangan berikutnya adalah memastikan kegiatan investasi turut memperkuat kemampuan industri domestik dan memberikan nilai ekonomi yang lebih besar di dalam negeri.

Hal ini membutuhkan pemasok lokal yang semakin kuat, peningkatan keterampilan tenaga kerja dan kemampuan teknologi, serta dukungan infrastruktur, logistik, dan pembiayaan.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) sekaligus CEO Sintesa Group, Shinta Kamdani, menekankan tiga faktor untuk menghadapi perubahan ekonomi global, yakni peluang, daya saing, dan konektivitas.

“Peluang berarti menangkap pasar baru, beradaptasi dengan perubahan rantai pasok global, dan memanfaatkan perkembangan teknologi. Daya saing berarti meningkatkan produktivitas, mengelola biaya, serta menciptakan iklim usaha yang lebih pasti. Sementara itu, konektivitas berarti memperkuat rantai pasok, logistik, akses pembiayaan, dan sistem pembayaran, baik di dalam negeri maupun lintas negara,” kata Shinta.

Menurut Shinta, ketiga faktor tersebut perlu berjalan beriringan agar dunia usaha mampu memanfaatkan perubahan ekonomi global.

“Ketiga hal ini harus berjalan bersama. Peluang saja tidak cukup. Dunia usaha membutuhkan daya saing untuk memanfaatkan peluang tersebut, serta konektivitas untuk mengubahnya menjadi nilai ekonomi. Dengan cara inilah kita dapat mengubah disrupsi hari ini menjadi peluang di masa depan, sekaligus membangun dunia usaha yang lebih tangguh dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih berkelanjutan,” tambahnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article