Bandung, IDN Times — Volume transaksi pembayaran digital di Indonesia mencapai 6,11 miliar transaksi pada Agustus 2026, tumbuh 40,36 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menunjukkan semakin besarnya kebutuhan transaksi digital, sekaligus menuntut perusahaan memperkuat pengelolaan keuangan, keamanan sistem pembayaran, dan ketahanan operasional.
CEO Standard Chartered Indonesia, Donny Donosepoetro OBE, mengatakan perkembangan teknologi berpotensi mengubah cara perusahaan menjalankan transaksi keuangan. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan mata uang digital dapat membuat transaksi semakin otomatis, cerdas, dan terhubung.
“Pertumbuhan pembayaran digital di Indonesia menunjukkan betapa cepatnya kebutuhan transaksi terus berkembang. Menurut Bank Indonesia, volume transaksi pembayaran digital pada bulan Agustus 2026 mencapai 6,11 miliar transaksi, atau tumbuh lebih dari 40% dibandingkan tahun sebelumnya. Ke depan, kecerdasan buatan (AI) dan mata uang digital berpotensi mengubah cara perusahaan melakukan transaksi keuangan, sehingga transaksi tidak hanya menjadi lebih cepat, tetapi juga semakin otomatis, cerdas, dan terhubung,” kata Donny.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Indonesia Treasury Leadership Forum 2026 yang diselenggarakan Standard Chartered Indonesia di Jakarta, Selasa (13/10/2026). Forum tahunan ini mempertemukan regulator, pelaku industri, pemimpin perusahaan, dan para ahli untuk membahas perkembangan teknologi serta perubahan ekonomi global yang memengaruhi pengelolaan keuangan perusahaan.
Di tengah perubahan tersebut, perusahaan tidak hanya dituntut mempercepat transaksi. Pengelolaan likuiditas, modal kerja, risiko keuangan, serta keamanan sistem juga menjadi bagian penting dari fungsi treasury, yakni pengelolaan arus kas dan kebutuhan pendanaan perusahaan.
