Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tolak Regulasi, Petani Tembakau Jabar Minta Perlindungan Prabowo
Ilustrasi petani tembakau. (Dok. Istimewa)
  • Petani tembakau Jawa Barat menolak rancangan aturan baru pemerintah yang dinilai mengancam keberlangsungan usaha dan pendapatan mereka, termasuk pembatasan kadar nikotin serta penyeragaman kemasan produk.
  • Dalam forum Saung Sawala di Sumedang, perwakilan petani dari berbagai daerah menandatangani deklarasi penolakan dan meminta perlindungan Presiden Prabowo agar kebijakan tidak merugikan sektor pertanian tembakau.
  • Sektor tembakau masih menjadi tumpuan ekonomi masyarakat di banyak wilayah Jawa Barat, dengan beragam varietas lokal unggulan dan kondisi alam yang mendukung budidaya serta penyerapan hasil panen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times – Perwakilan petani tembakau dari sejumlah daerah di Jawa Barat menyatakan penolakan terhadap sejumlah rancangan aturan yang sedang dibahas pemerintah pusat terkait sektor hasil tembakau. Mereka menilai kebijakan yang diusulkan berpotensi memengaruhi keberlangsungan usaha pertanian tembakau dan pendapatan masyarakat yang bergantung pada komoditas tersebut.

Penolakan disampaikan dalam forum rembuk petani bertajuk Saung Sawala: Menjaga Kedaulatan Tembakau Tatar Sunda yang digelar di Sumedang. Dalam forum itu, petani menyampaikan kekhawatiran terhadap usulan penyeragaman kemasan produk tembakau, pembatasan kadar nikotin dan tar, serta aturan lain yang dinilai dapat berdampak pada penyerapan hasil panen.

“Kami memperjuangkan penghidupan. Mengapa ada rancangan aturan seperti pembatasan kadar nikotin dan penyeragaman kemasan yang dianggap bisa mematikan tembakau, padahal ini sumber ekonomi petani,” ujar Ketua DPD Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Barat, Sambas, melalui siaran pers diterima IDN Times, Jumat (12/6/2026).

1. Khawatir berdampak pada serapan hasil tembakau

Tolak Regulasi, Petani Tembakau Jabar Minta Perlindungan Prabowo. IDN Times/Istimewa

Dalam pertemuan tersebut, petani dari sejumlah sentra produksi seperti Garut, Sumedang, Kabupaten Bandung, Kuningan, Pangandaran, Tasikmalaya, Majalengka, dan Cirebon menyampaikan sikap bersama terhadap rancangan kebijakan yang sedang dibahas pemerintah. Mereka sepakat menandatangani deklarasi penolakan atas berbagai rancangan aturan tersebut dan meminta perlindungan pada Presiden Prabowo agar Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tidak mengkhianati berbagai upaya yang dilakukan untuk mensejahterakan petani lewat berbagai program prioritas Pemerintah.

Menurut Sambas, selama ini hasil budidaya petani tembakau masih terserap industri hasil tembakau sehingga perubahan aturan dinilai perlu mempertimbangkan kondisi di lapangan.

“Tembakau merupakan sumber ekonomi petani dan sampai saat ini hasil budidayanya masih diserap industri,” kata dia.

2. Banyak komoditas dari Jabar dicari konsumen

Ilustrasi petani tembakau. (Dok. Istimewa)

Sambas menilai sektor pertembakauan di Jawa Barat memiliki karakter yang berbeda dibanding daerah lain karena didukung kondisi geografis dan keberagaman varietas lokal.

Ia menyebut Jawa Barat memiliki sejumlah varietas tembakau yang telah dikembangkan dan diakui secara resmi. Selain itu, terdapat komoditas unggulan dari Sumedang yang telah memiliki sertifikasi indikasi geografis.

“Jawa Barat punya 14 varietas tembakau lokal unggulan yang telah dilepas Kementerian Pertanian. Ada juga komoditas unggulan asal Sumedang yang sudah memiliki sertifikat indikasi geografis,” ujar Sambas.

3. Tembakau masih jadi penopang ekonomi banyak warga

Tolak Regulasi, Petani Tembakau Jabar Minta Perlindungan Prabowo. IDN Times/Istimewa

Sementara itu, Ketua DPC APTI Sumedang, Otong Supendi mengatakan sektor pertembakauan masih menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat di daerahnya.

Menurut dia, banyak wilayah di Sumedang yang menggantungkan aktivitas ekonomi pada budidaya tembakau karena kondisi tanah dan iklim yang mendukung. Ia berharap proses penyusunan kebijakan dapat mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi petani.

“Hampir di setiap kecamatan di Sumedang kondisi tanah dan iklimnya cocok untuk pertumbuhan tanaman tembakau. Produksi daun tembakau di Sumedang juga cukup besar sehingga dampaknya akan dirasakan langsung masyarakat,” ujar Otong.

Editorial Team

Related Article