Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tiga Faktor Penyebab Bencana Hidrometeorologi di Jabar Versi BMKG
Longsor yang terjadi di jalur menuju Air Terjun Madakaripura. (Dok. BPBD Kabupaten Probolinggo)
  • Hujan deras di beberapa wilayah Jawa Barat seperti Bandung, Cianjur, dan Tasikmalaya memicu banjir, longsor, serta pohon tumbang akibat curah hujan tinggi pada awal April.
  • BMKG menjelaskan suhu muka laut yang hangat dan adanya belokan angin serta gelombang atmosfer aktif memperkuat pembentukan awan hujan di wilayah Jawa Barat.
  • Kelembapan udara tinggi dan atmosfer labil meningkatkan potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang, sehingga masyarakat diminta waspada terhadap risiko banjir dan longsor.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur sejumlah wilayah Jawa Barat pada Kamis (2/4) memicu bencana hidrometeorologi di beberapa daerah.

BMKG Bandung mencatat wilayah terdampak meliputi Kabupaten Bandung, Kabupaten Cianjur, Kota Bandung, dan Kota Tasikmalaya. Kejadian yang dilaporkan antara lain longsor, banjir, hingga pohon tumbang.

Di Kabupaten Bandung, longsor terjadi di Kampung Neglasari, Desa Cibeureum, Kecamatan Kertasari sekitar pukul 15.00 WIB dan sempat menutup akses jalan. Di Kabupaten Cianjur, longsor juga terjadi di Kampung Awilarangan, Desa Cikahuripan, Kecamatan Gekbrong sekitar pukul 14.15 WIB akibat luapan irigasi yang menggerus tebing.

Sementara di Kota Bandung, banjir terjadi di kawasan Jati Permai akibat luapan Sungai Citepus. Adapun di Kota Tasikmalaya, banjir dan pohon tumbang terjadi di sejumlah kecamatan seperti Cihideung, Cibeureum, Cipedes, dan Purbaratu.

1. Suhu muka laut hangat tingkatkan uap air

ilustrasi gelombang air laut (unsplash.com/Jakob Owens)

Kepala BMKG Bandung, Teguh Rahayu, mengungkapkan ada sejumlah faktor atmosfer yang memicu kondisi tersebut. Salah satunya karena suhu muka laut di sebagian besar perairan Indonesia masih relatif hangat. Kondisi ini berkontribusi pada meningkatnya suplai uap air yang bergerak menuju wilayah Jawa Barat, sehingga mendukung pembentukan awan hujan dalam skala luas.

Dengan ketersediaan uap air yang melimpah, atmosfer menjadi lebih “basah” dan memudahkan terbentuknya awan-awan hujan, terutama saat terjadi pemanasan pada siang hari. Hal ini membuat potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat semakin meningkat di sejumlah wilayah.

“Ini mengindikasikan adanya potensi suplai uap air yang cukup besar ke Jawa Barat,” ujar Teguh, Jumat (3/4/2026).

2. Belokan angin dan gelombang atmosfer aktif

Ilustrasi pasang surut air laut (pexels.com/Pok Rie)

BMKG juga mendeteksi adanya area belokan angin di sekitar wilayah Jawa Barat. Pola angin ini menyebabkan perlambatan aliran udara dan penumpukan massa udara di satu wilayah, yang kemudian memicu pertumbuhan awan konvektif.

Selain itu, gelombang atmosfer tipe Equatorial Rossby terpantau aktif di wilayah Jawa Barat. Gelombang ini berperan dalam memperkuat proses pembentukan awan hujan dan meningkatkan intensitas curah hujan yang terjadi.

“Kondisi ini mendukung terbentuknya awan konvektif di sebagian wilayah Jawa Barat,” jelasnya.

3. Kelembapan tinggi dan atmosfer labil

Sejumlah Pohon Tumbang saat Hujan Lebat di Bandung. Dok Istimewa

Kelembapan udara pada lapisan 850 hingga 500 mb terpantau cukup tinggi, yakni berkisar antara 50 hingga 95 persen. Ditambah dengan indeks labilitas atmosfer yang berada pada kategori sedang hingga kuat, kondisi ini membuat atmosfer lebih mudah membentuk awan konvektif.

Kombinasi faktor tersebut memperbesar peluang terjadinya hujan lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang dalam waktu singkat. BMKG juga mencatat hujan terjadi selama beberapa hari berturut-turut pada akhir Maret hingga awal April, yang membuat tanah jenuh dan meningkatkan risiko longsor.

Teguh mengimbau masyarakat waspada terhadap potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang, terutama pada sore hingga malam hari. Wilayah rawan longsor dan daerah dekat aliran sungai diminta meningkatkan kewaspadaan. BMKG memprakirakan potensi hujan lokal masih akan terjadi dalam satu hingga tiga hari ke depan di wilayah Bandung, Cianjur, dan Tasikmalaya.

Editorial Team