Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
WhatsApp Image 2026-01-16 at 12.49.36 PM.jpeg
Pengolahan sampah di Pasar Caringin Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Intinya sih...

  • Pengolahan sampah organik baru berjalan sebulan

  • Limbah organik diolah menjadi pakan ternak, RDF, dan bioetanol

  • Tidak ada pendanaan daerah, perusahaan yang berinvestasi dalam pengolahan sampah

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Masih ingat berita tentang menumpuknya sampah di Pasar Caringin Bandung? Bau menyengat sampah yang berada di dekat badan jalan Soekarno-Hatta ini bahkan tercium oleh warga dari jauh.

Namun, sampah yang mayoritas adalah organik sekarang bukan lagi jadi masalah. Itu setelah pengelola pasar bekerjasama dengan PT Solusindo Bioteknologi dalam pengolahan sampah. Menggunakan lahan di belakang pasar, puluhan ton sampah sekarang sudah bisa langsung.

Diki Haedi selaku pemilik PT Solusindo Bioteknologi mengatakan, mengolah sampah organik sebenarnya sekarang tidak sulit. Yang sulit adalah memastikan pemangku kebijakan seperti di PD Pasar Caringin agar mau bekerjasama dalam mengolah sampah.

"Dulu masuknya (ke Pasar Caringin) agak susah. Setelah kita lihat ada masalah dan kita coba masuk Alhamdulillah dikasih (tempat mengolah)," kata Diki, Minggu (18/1/2026).

1. Baru jalan sebulan

Diki Haedi selaku pemilik PT Solusindo Bioteknologi yang mengolah sampah di Pasar Caringin. IDN Times/Debbie Sutrisno

Menurutnya, pengolahan sampah organik ini baru berjalan sekitar satu bulan. Target tonase sampah yang diolah mencapai 40 ton dalam sehari. Namun, karena masih pembangunan sehingga belum semua mesin berjalan optimal.

"Sekarang baru sekitar 25 ton dalam sehari yang diolahnya," kata dia.

Diki memastikan dari sampah yang masuk ke pengolahan ini tidak akan yang sia-sia sehingga residu dari sampah pun sangat sedikit. Dari olahan sampah ada yang dicacah untuk menjadi bahan pakan ternak, menjadi RDF (Refuse Derived Fuel) atau bahan bakar alternatif, hingga bioetanol.

"Untuk bioetanolnya ini biasa dipakai perusahaan farmasi," paparnya.

2. Peternak banyak menampung olahan limbah organik

Pengolahan sampah di Pasar Caringin Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Selama ini limbah organik yang sudah dilayukan di tempat pengolahan ini tidak sulit untuk dijual kembali karena banyak peternakan sapi yang menampung baik di Bandung atau di Bogor. Sebab, para peternak menilai sapi yang mengkonsumsi olahan ini hasil susunya bisa naik satu hingga dua liter ketimbang ketika hanya makan pakan rumput.

Dari segi harga, lanjutnya, limbah organik ini pun tidak mahal. Ini membuat persaingannya dengan pakan ternak lain termasuk yang pabrikan besar bisa dibandingkan sehingga produk limbah organik dari Pasar Caringin ini tidak pernah menumpuk di gudang dan menimbulkan bau menyengat.

Diki mengatakan, dia tidak hanya mengolah sampah organik yang sudah dipilah lebih dulu seperti sayuran atau buah-buahan. Pengolahan juga dilakukan untuk sampah yang sudah tercampur dengan terigu atau plastik. Sampah dari ini tidak sulit diolah cukup dijadikan RDF dan banyak diminati oleh industri.

Maka, dengan sistem yang lebih mudah sebenarnya pengolahan sampah rumah tangga bisa dilakukan di TPS atau pasar lainnya menggunakan cara sama. Luasan lahan yang dibutuhkan pun tidak terlalu banyak sekitar 200 meter saja.

3. Tak ada pendanaan daerah

Pengolahan sampah di Pasar Caringin Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Dalam pengolahan ini, lanjutnya, Diki tidak meminta pendanaan daerah maupun PD Pasar Caringin. Justru perusahaan berinvestasi untuk bisa mengolah sampah tersebut.

Saat ini PT Solusindo Bioteknologi juga sudah berkomunikasi dengan Pemkot Bandung untuk mengolah sampah salah satunya di daerah Astana Anyar. Sayangnya hingga saat ini belum ada kejelasan surat keterangan kerjasamanya.

"Kalau yang di Astana Anyar itu sampah residu dari masyarakat langsung," kata dia.

Editorial Team