Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rekening Eks Ketua Pengadilan Tinggi Bandung Dibobol, Uang Rp1 Miliar Raib
Ilustrasi Scam. (Pixabay/raju shrestha)
  • Mantan Ketua Pengadilan Tinggi Bandung, Mohamad Eka Kartika, kehilangan lebih dari Rp1 miliar setelah menjadi korban penipuan yang mengatasnamakan petugas Disdukcapil.
  • Pelaku menipu korban dengan modus pembaruan data dan digitalisasi, meminta pembayaran administrasi hingga akhirnya uang korban terkirim ke beberapa rekening mencurigakan.
  • Kasus ini telah dilaporkan ke Polrestabes Bandung dan sedang dalam tahap penyelidikan oleh Satreskrim untuk mengungkap pelaku di balik aksi scamming tersebut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Desember 2025

Mohamad Eka Kartika pensiun dari jabatannya sebagai Ketua Pengadilan Tinggi Bandung.

9 Juli 2026

Eka dihubungi dua orang yang mengaku petugas Disdukcapil dan diminta melakukan pembaruan data serta membayar uang administrasi.

10 Juli 2026

Ponsel Eka sempat mati, dan setelah dinyalakan kembali, uang lebih dari Rp1 miliar di rekeningnya telah hilang dikirim ke beberapa rekening lain.

18 Juli 2026

Anak korban, Zul Ahadi, memberikan keterangan kepada media mengenai kronologi kejadian penipuan tersebut.

kini

Kasus sedang diselidiki oleh Satreskrim Polrestabes Bandung setelah laporan resmi diterima kepolisian.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Rekening milik mantan Ketua Pengadilan Tinggi Bandung, Mohamad Eka Kartika, dibobol oleh pelaku penipuan dengan modus menyamar sebagai petugas Disdukcapil. Uang lebih dari Rp1 miliar raib dari rekening korban.
  • Who?
    Korban adalah Mohamad Eka Kartika (68 tahun), mantan Ketua Pengadilan Tinggi Bandung. Pelaku diduga dua orang yang mengaku sebagai petugas Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.
  • Where?
    Peristiwa terjadi di Bandung, Jawa Barat. Laporan telah disampaikan ke Polrestabes Bandung serta bank pelat merah tempat korban menyimpan dananya.
  • When?
    Kejadian berlangsung pada Kamis, 9 Juli 2026, saat korban dihubungi pelaku. Uang diketahui hilang pada Jumat, 10 Juli 2026. Laporan dibuat pada Sabtu, 18 Juli 2026.
  • Why?
    Pelaku menipu korban dengan alasan pembaruan data dan digitalisasi kependudukan serta meminta pembayaran administrasi. Korban percaya karena pelaku mengaku sebagai petugas resmi Disdukcapil.
  • How?
    Pada awalnya korban dihubungi melalui telepon oleh dua pelaku yang meminta transfer dana. Setelah ponsel korban sempat mati dan dinyalakan kembali, uang lebih dari Rp1 miliar sudah berpindah ke rekening lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Ada kakek namanya Pak Eka, dulu dia kerja di pengadilan Bandung. Suatu hari ada orang pura-pura jadi petugas catatan penduduk, bilang mau bantu perbarui data. Pak Eka percaya dan kasih uang. Tapi uangnya lebih dari satu miliar hilang di rekeningnya. Sekarang polisi lagi cari siapa yang ambil uang itu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Meskipun kasus pembobolan rekening ini menimbulkan kerugian besar, langkah cepat Mohamad Eka Kartika melapor ke bank, OJK melalui Indonesia Anti-Scam Centre, serta Polrestabes Bandung menunjukkan adanya kesadaran hukum dan kepercayaan terhadap mekanisme penegakan hukum. Respons kepolisian yang segera melakukan penyelidikan juga mencerminkan komitmen aparat dalam menindaklanjuti laporan masyarakat secara serius.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Mantan Ketua Pengadilan Tinggi Bandung, Mohamad Eka Kartika (68 tahun), diduga jadi korban scamming dengan modus pelaku menyamar menjadi petugas Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Uang senilai lebih Rp1 miliar milik Eka pun raib dibawa oleh para pelaku.

Adapun kronologi peristiwa ini terjadi pada Kamis (9/7/2026). Ketika itu, korban dihubungi dua pelaku yang mengaku sebagai petugas Disdukcapil dan meminta korban melakukan pembaharuan data dan digitalisasi. Korban juga diminta membayar uang administrasi kepada para pelaku.

"Menghubungi itu katanya, pembaruan data apa gitulah, digitalisasi semacam gitu. Nah, ayah saya tuh ya sudah, percaya gitu ya. Terus katanya perlu ada pembayaran sekian-sekian gitu," kata anak dari korban, Zul Ahadi, ketika dikonfirmasi pada Sabtu (18/7/2026).

1. Handphone sempat mati, begitu hidup uang langsung hilang

Ilustrasi scam secara daring (Pixabay/MohamedHassan)

Karena mengaku sebagai petugas Disdukcapil, Eka kemudian menuruti permintaan pelaku. Namun, pada Jumat (10/7/2026), ponsel korban tiba-tiba sempat mati. Saat kembali dihidupkan, uang senilai lebih dari Rp1 miliar yang ada di rekeningnya sudah hilang. Uang itu dikirim ke beberapa nomor rekening yang diduga milik pelaku.

"Udah nyala tuh (ponselnya). Beberapa jam kemudian sorenya diinfoin bahwa rekeningnya, ya gitulah, korban. Jadi uangnya pada hilang," ucap dia.

2. Nilai kerugian mencapai Rp1 miliar

Ilustrasi borgol. (IDN Times/Mardya Shakti)

Setelah itu, korban melapor ke sebuah bank pelat merah dan Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Namun, uang yang dikirim sudah terlanjur dinilai pihak bank sebagai transaksi sah.

"Intinya tuh mengkategorikan transaksi ini tuh transaksi sah gitu," ungkap dia.

Zul belum mengetahui cara para pelaku melakukan scamming kepada ayahnya. Namun, dia menduga para pelaku memang sengaja melakukan aksinya itu dengan menyasar ayahnya yang sudah lanjut usia.

"Kan orangtua lanjut usia, sasaran empuk ibaratnya. Ayah saya jabatan terakhirnya Ketua Pengadilan Tinggi Bandung. Pensiun Desember 2025 kalau gak salah," ujar dia.

"Nilai kerugiannya Rp1.012.000.000," ungkap dia.

3. Polisi melakukan penyelidikan perkara ini

Ilustrasi borgol. (IDN Times/Mardya Shakti)

Saat ini, Eka sudah mengadukan kasus itu ke Satreskrim Polrestabes Bandung, dan sudah teregister dengan nomor STPB/292/VII/2026/JBR/POLRESTABES. Sementara itu, Kasatreskrim Polrestabes Bandung, AKBP Anton, membenarkan pihaknya telah menerima aduan dari korban.

Anton pun memastikan, perkara ini sedang diselidiki oleh jajarannya. Dia pun belum bisa menyampaikan informasi banyak soal hal tersebut, karena masih dalam penanganan.

"Sedang dilakukan penyelidikan oleh kepolisian," kata dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article