Bandung, IDN Times - Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar, tetapi peluang tersebut membutuhkan kesiapan agar dapat diterjemahkan menjadi proyek yang benar-benar berjalan. Pemerintah pun mulai mendorong agar agenda transisi energi tidak berhenti pada kebijakan, melainkan terhubung dengan kebutuhan dan potensi masing-masing daerah.
Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM bersama Global Green Growth Institute (GGGI) membahas tantangan tersebut dalam rangkaian EBTKE ConEx 2026. Diskusi diarahkan untuk melihat bagaimana perencanaan energi di daerah dapat berkembang menjadi proyek yang siap dikembangkan sekaligus menarik bagi investasi.
Indonesia diperkirakan memiliki potensi energi terbarukan sekitar 3.687 gigawatt (GW). Ambisi pengembangannya juga semakin besar, salah satunya melalui peluncuran Program PLTS 100 GWp pada Agustus 2026. Kondisi tersebut membuka peluang pengembangan energi bersih di berbagai wilayah, sekaligus menuntut kesiapan perencanaan, proyek, dan pembiayaan.
Upaya memperkuat kesiapan daerah telah dilakukan melalui kolaborasi Kementerian ESDM dan GGGI dengan dukungan Kementerian Luar Negeri Selandia Baru melalui Renewable Energy–Accelerated Transition in Indonesia (RE-ACT) sejak 2021. Selama lima tahun, program tersebut mendorong keterhubungan antara kebijakan nasional, perencanaan daerah, pengembangan proyek, serta akses pembiayaan dan investasi.
