Perjuangan Rahma Menggapai Mimpi Lolos UTBK-SNBP dari Kursi Roda

- Rahma Rahayu, penyandang cerebral palsy asal Bandung, mengikuti UTBK-SNBP 2026 dari kursi roda demi mewujudkan impiannya kuliah di Jurusan Humas Universitas Padjadjaran.
- Dengan dukungan penuh ibunya, Rahma mempersiapkan diri berbulan-bulan dan ingin membuktikan bahwa penyandang disabilitas juga berhak meraih pendidikan tinggi di perguruan negeri.
- Rahma menjadi satu dari 20 peserta disabilitas yang mengikuti tes di ISBI Bandung, dengan panitia menyediakan ruang ujian khusus yang menyesuaikan kebutuhan masing-masing peserta.
Bandung, IDN Times - Keterbatasan bukan menjadi penghalang bagi Rahma Rahayu dalam menggapai cita-citanya untuk bisa berkuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Sebagai penyandang disabilitas cerebral palsy (lumpuh otak) perempuan asal Kota Bandung ini turut mengikuti seleksi Ujian Tulis Berbasis Komputer untuk Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026.
Dari kursi rodanya, Rahma turut mengikuti semua proses pendaftaran hingga akhirnya bisa mengikuti tes untuk jurusan Humas, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjajaran. Dia mendapatkan lokasi tes di kampus Institut Seni Budaya (ISBI) Bandung.
Datang dengan didampingi ibunya, Diah Komala (50 tahun), Rahma memastikan sudah mempersiapkan semua materi tes UTBK-SNBP 2026 ini. Keterbatasan fisik tidak membuatnya patah semangat untuk menggapai cita-citanya berkuliah di Unpad.
"Saya mau ke Jurusan Humas, Unpad," ujar Rahma saat ditemui IDN Times sebelum tes, Selasa (21/4/2026).
1. Yakin bisa lolos dan masuk Unpad

Rahma yang memang memintai ilmu-ilmu sosial itu, yakin betul bisa lolos seleksi UTBK-SNBP dan daapt diterima di kampus Unpad. Proses pembelajaran dan latihan sudah dijalani Rahma selama berbulan-bulan sebelum akhirnya mendapatkan tiket ujian ini.
"Yakin banget (bisa lulus), Berbulan-bulan belajar," kata dia.
Sebagai orang tua, Diah turut mendukung penuh keinginan sang anak yang hendak melanjutkan jenjang pendidikan setelah sebelumnya lulus dari SLB. Kemauan Rahma, kata Diah, bukan karena dorongan dari orang tua, melainkan murni keinginannya sendiri.
Di sisi lain, Diah pun ingin membuktikan bahwa anak-anak disabilitas memiliki hak pendidikan yang sama hingga ke bangku kuliah. Sehingga, keinginan anaknya tersebut didukung penuh hingga akhirnya kini ikut tes UTBK-SNBP 2026.
"Suka katanya, suka berinteraksi sama masyarakat dan melihat banyak kaum disabilitas jadi ingin memajukan sesama disabilitas untuk mencapai harkat dan mengejar cita-citanya," jelas Diah.
2. Rahma memang suka belajar ilmu-ilmu sosial

Selama duduk di bangku SLB, Rahma memang suka membaca buku dan membuat beberapa karya sastra. Dari kemampuan tersebut, Diah yakin anaknya itu bisa mengembangkan bakatnya jika nantinya diterima di kampus Unpad.
"Dia suka menulis buku, membuat sajak, kalau ada event dia membaca sajak dan menulis sendiri," ucap Diah.
"Jadi kalau nanti bisa diterima syukur, kalaupun ini kita (terima), yang penting dia bisa mengembangkan bakatnya. Memang gemar menulis, mengarang," jelasnya.
Rahma baru pertama mengikuti UTBK-SNBP pada tahun ini, karena di tahun sebelumnya belum mendapatkan informasi, soal disabilitas bisa mengikuti seleksi untuk PTN ini.
"Kemarin enggak kita mengembangkan bakat saja. Gak tahu informasinya bisa lanjut ke pendidikan tinggi," kata Diah.
3. Ada 20 peserta UTBK-SNBP penyandang disabilitas ikut tes di ISBI Bandung

Rahma merupakan salah satu dari 20 peserta UTBK-SNBP dari kelompok disabilitas yang menjali tes di ISBI Bandung. Dia dan peserta disabilitas lainnya akan mengikuti tes diruangan khusus yang telah disediakan oleh panitia seleksi.
"Seluruh peserta disabilitas melaksanakan ujian hari ini di sesi siang yang memang oleh panitia ditempatkan satu ruang kami konfirmasikan semuanya ada 13 orang tuna rungu, ada tujuh orang tuna tunadaksa, tiga orang pakai kursi roda, ada satu peserta yang mengerjakan ujian dengan kaki," kata Ketua Pelaksana UTBK-SNBT ISBI Bandung, Indra Ridwan.
Redhiana menjelaskan, ruangan khusus disabilitas ini diatur menyesuaikan dengan kemampuan dari peserta, seperti letak meja dan juga beberapa hal lainnya. Bahkan, petugas turut memberikan bantuan membacakan soal khusus peserta disabilitas dengan tunadaksa.
"Kami juga tanya kepada peserta kebutuhan khusus apa, salah satu peserta mengatakan ada tunadaksa bisa melaksanakan ujian kalau dibacakan sehingga butuh pendamping dan kami akomodir. Menggunakan kursi roda, jadi kami pisahkan," kata dia.

















