Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Warga Keluhkan Sampah Tak Kunjung Diangkut di Makam Caringin

Warga Keluhkan Sampah Tak Kunjung Diangkut di Makam Caringin
Penumpukan sampah di Kota Bandung. IDN Times/Istimewa
Intinya Sih
  • Tumpukan sampah di Jalan Makam Caringin Bandung sudah terjadi sejak sebelum Lebaran, menutupi sebagian jalan dan menimbulkan bau menyengat hingga radius 100 meter.
  • Pengurus TPS Porib mengaku kapasitas penampungan sudah penuh dan pengangkutan terbatas karena kuota dari DLH, membuat warga hanya bisa menunggu giliran pengangkutan.
  • Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menargetkan penghentian open dumping tahun ini serta mendorong warga memilah sampah, dengan rencana pembangunan fasilitas pengolahan dan teknologi Waste to Energy.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times - Sampah yang menggunung di Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, menjadi pemandangan sehari-hari warga sejak sebelum Lebaran. Gunungan sampah memanjang sekitar 300 meter di Jalan Makam Caringin Porib, Kelurahan Margahayu Utara, Kecamatan Babakan Ciparay.

Tumpukan sampah itu juga menutup sebagian jalan, dan mengganggu arus lalu lintas kendaraan yang melintas.

Apabila ada kendaraan datang dari dua arah, salah satunya harus mengalah, tidak bisa lewat bersamaan karena ada sampah yang menutup jalan.

Bau busuk sampah juga tercium radius 100 meter dari Tempat Pemakaman Umum (TPU) Porib. Ketika melintasi jalan, otomatis pengguna jalan akan menutup hidungnya karena bau yang tak sedap.

1. Sudah dibiarkan lama

IMG-20260421-WA0023.jpg
Warga Keluhkan Sampah Tak Kunjung Diangkut di Makam Caringin

Pengurus TPS Porib, Dudung, mengatakan, tumpukan sampah ini sudah terjadi sejak sebelum Lebaran. Sampah pernah diangkut, tetapi karena jumlahnya terus bertambah maka berujung terjadinya penumpukan.

"Dari sebelum puasa sudah ada tumpukan (sampah). Mau Lebaran tumpukannya, makin banyak. Setelah itu diambil dulu terus habis, terus ada lagi tumpukannya," kata Dudung, Selasa (21/4/2026).

Kondisi ini diperparah, kata Dudung, karena kuota sampah pengangkutan yang dibatasi oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Ritase pengangkutan pun hanya satu kali dalam sehari.

"Mobil (pengangkut sampah) mentok lagi, kehabisan kuota. Habis kuota 4 hari, gak ada yang angkut," tuturnya.

2. Pasrah menunggu pengangkutan

ilustrasi sampah plastik
ilustrasi sampah plastik (unsplash.com/tanvi sharma)

Dudung menuturkan, TPS Porib memiliki kapasitas maksimum 12 meter kubiik, dan kini kondisi sudah membludak. Kini pihaknya hanya bisa menunggu giliran pengangkutan sampah oleh dinas.

Dia pun berharap, pemerintah dalam hal ini DLH Kota Bandung bisa membantu mengatasi tumpukan sampah yang kondisi sudah memprihatinkan.

"Ini nutup hampir setengah jalan dan ganggu lalu lintas. Warga yang mau lewat jadi harus gantian," tutur dia.

3. Walkot ajak warga rajin pilah sampah

ilustrasi sampah
ilustrasi sampah (unsplash.com/Jon Tyson)

Pemerintah menargetkan seluruh praktik open dumping (pembuangan sampah terbuka) dihentikan paling lambat tahun ini. Sebanyak 472 TPA ditargetkan selesai ditangani mulai akhir Juli 2026. Kebijakan ini mencakup penegakan hukum pidana bagi pengelola yang melanggar dan peralihan ke sistem sanitary landfill atau penutupan permanen.

Di Kota Bandung, Wali Kota Muhammad Farhan memastikan bahwa upaya untuk mengatasi sampah secara mandiri terus dilakukan dengan berbagai program. Untuk tiga bulan ke depan Pemkot menargetkan ada 300 ton sampah per hari yang bisa diolah sendiri.

"Saat ini produksi sampah mencapai sekitar 1.800 ton per hari, sementara yang mampu diolah baru sekitar 300 ton, dan 1.000 ton dibuang ke TPA Sarimukti. Artinya masih ada sekitar 500 ton yang harus diatasi," kata dia.

Saat ini Pemkot telah menyiapkan 36 lahan milik pemerintah daerah untuk dijadikan tempat pengolahan sampah organik maupun non-organik. Di sisi lain, Pemkot Bandung juga tengah menjajaki pembangunan teknologi Waste to Energy (WTE), meskipun investasi dan persyaratannya sangat besar termasuk kebutuhan lahan minimal tujuh hektare dan ketersediaan sumber air.

"Sebagai langkah awal, kami menyiapkan lahan sekitar 5.000 meter persegi untuk fasilitas pemilahan sampah sebelum masuk ke sistem WTE," paparnya.

Share
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More