Pengamat: Perlintasan Sebidang Masih Jadi Biang Kecelakaan di Indonesia

- Kecelakaan di perlintasan sebidang Bekasi menunjukkan lemahnya mitigasi keselamatan transportasi dan perlunya pembangunan flyover atau underpass untuk mengurangi risiko tabrakan.
- Keterlibatan mobil listrik yang mogok di atas rel menjadi sorotan baru, memunculkan pertanyaan soal keamanan dan penyebab gangguan teknis kendaraan tersebut.
- Pengamat menilai perlu investigasi mendalam terkait potensi pengaruh listrik statis rel terhadap sistem kelistrikan mobil listrik serta dampaknya pada sistem persinyalan kereta.
Bandung, IDN Times - Kecelakaan di perlintasan sebidang kembali menjadi sorotan publik setelah kasus kereta cepat yang menabrak KRL di kawasan Bekasi. Pengamat transportasi dari ITB Sony Sulaksono Wibowo, menilai insiden ini menunjukkan masih lemahnya mitigasi keselamatan pada layanan transportasi di Indonesia.
Ia menyoroti sejumlah faktor krusial, mulai dari kedisiplinan pengguna jalan hingga aspek teknis kendaraan listrik yang terlibat dalam kecelakaan tersebut.
1. Harus ada pembenahan di perlintasan sebidang

Sony menilai kecelakaan ini berawal dari pelanggaran di perlintasan sebidang, di mana kendaraan tetap memaksa melintas meski berisiko tinggi.
Menurutnya, kejadian seperti ini bukan yang pertama dan kerap berujung tabrakan dengan kereta api. Karena itu, ia menekankan pentingnya pembangunan flyover atau underpass sebagai solusi jangka panjang, selain peningkatan disiplin pengguna jalan.
“Kasus ini menunjukkan mitigasi bencana transportasi kita masih perlu pembenahan, terutama di perlintasan sebidang,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
2. Mobil listrik mogok di rel jadi perhatian

Hal lain yang disorot adalah keterlibatan mobil listrik yang dilaporkan mogok di atas rel. Soni menyebut ini menjadi isu baru dalam aspek keselamatan transportasi.
Ia mempertanyakan penyebab mogoknya kendaraan tersebut, apakah karena kehabisan baterai atau gangguan kelistrikan akibat interaksi dengan rel berbahan baja.
“Ini perlu investigasi lebih lanjut, karena menyangkut keamanan mobil listrik saat melintasi rel,” katanya.
3. Dugaan gangguan sinyal hingga listrik statis rel

Sony juga menyinggung kemungkinan dampak lanjutan dari tabrakan tersebut, termasuk potensi gangguan pada sistem persinyalan kereta. Ia menjelaskan, rel kereta memiliki aliran listrik statis yang bisa menjalar hingga sekitar satu kilometer. Hal ini memunculkan pertanyaan apakah listrik tersebut dapat memengaruhi sistem kelistrikan mobil listrik hingga menyebabkan mogok.
Dia juga mempertanyakan apakah insiden tersebut berdampak pada sistem pengereman kereta jarak jauh seperti Argo Bromo Anggrek sehingga tidak sempat menghindari tabrakan.
“Kalau memang listrik statis itu berpengaruh, ini jadi catatan penting bagi produsen mobil listrik terkait aspek keamanan,” ujarnya.
Seluruh temuan ini perlu dikaji lebih dalam oleh pihak berwenang agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.

















