Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Respon Bobotoh Soal Kemunculan Spanduk Shut Up KDM di Stadion GBLA

Respon Bobotoh Soal Kemunculan Spanduk Shut Up KDM di Stadion GBLA
Spanduk bertuliskan Shut Up KDM terbentang di tribun utara Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) saat Persib melawan Arema FC, Jumat (24/4/2026) malam (Istimewa/IDN Times)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif

  • Spanduk 'Shut Up KDM' di GBLA muncul sebagai respons keresahan Bobotoh terhadap dugaan keterlibatan figur politik dalam dinamika Persib Bandung.
  • Bobotoh menilai unggahan Dedi Mulyadi soal bantuan Rp1 miliar dari Maruarar Sirait ke Persib memunculkan kesan politisasi klub sepak bola tersebut.
  • Pesan utama spanduk itu menjadi peringatan bagi seluruh politisi agar tidak menjadikan Persib Bandung sebagai alat pencitraan atau kepentingan politik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times - Pendukung Persib Bandung, Bobotoh turut merespons mengenai spanduk bertuliskan Shut Up KDM yang terbentang di tribun utara Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) saat Persib melawan Arema FC, Jumat (24/4/2026) malam.

Spanduk ini muncul dalam babak kedua dan membuat publik bertanya-tanya maksud sepanduk tersebut. Bobotoh, Arland Sidha mengatakan, kemunculan banner berasal dari keresahan yang berkembang di kalangan Bobotoh.

"Pertama kita flashback dulu, ada keresahan apa soal Persib? Sebenarnya kalau kita lihat Persib ini punya modal sosial yang tinggi, artinya modal sosial ini berupa suporter dan Bobotoh," ujar Arland saat dihubungi, Sabtu (25/4/2026).

1. Suporter menduga ada kepentingan Dedi Mulyadi

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Menurutnya, para suporter beranggapan ada keterlibatan figur politik dalam dinamika Persib saat ini. Sehingga hal itu dinilai berpotensi menimbulkan tafsir bahwa tim sepak bola asal Jabar itu dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu.

"Kehadiran sosok dalam tanda kutip adalah elite politik atau kepala daerah yang pemahaman di masyarakat melihat bahwa ada kepentingan-kepentingan. Saya tidak tahu kepentingan apa yang mungkin untuk elektabilitas," katanya.

Dia menambahkan, pada dasarnya tidak ada masalah jika seorang politisi memang sejak awal mencintai Persib. Hanya saja, persoalan muncul ketika dukungan dianggap masuk ke ranah yang lebih jauh.

"Pertanyaannya adalah, bagaimana dengan politisi yang memang menyukai Persib? Memang dari awal dia sudah menyukai Persib tapi tidak melibatkan Persib sebagai alat politik, walaupun tidak secara eksplisit," ujar Alrand.

2. Berkaitan soal pemberian bantuan dari Maruarar Sirait kepada Persib Bandung

. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait (Ara) (IDN Times/Ilman Nafi'an)
. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait (Ara) (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Mengenai kaitannya dengan Dedi Mulyadi, Arlan menilai sosok gubernur Jawa Barat itu sudah terlalu masuk dalam narasi Persib, terutama melalui aktivitas di media sosial, terkait bantuan dana untuk Persib dari Maruarar Sirait sebelum laga melawan Dewa United.

"KDM dianggap terlampau masuk ke dalam ranah Persib, misalnya dengan meng-upload di sosial media terkait pemberian bonus dari Ara Rp1 miliar," katanya.

Dari sikap Dedi itu, menurut Arland membuat adanya persepsi publik yang menganggap gubernur sedang mencari panggung. Sementara, sebelumnya Dedi dapat kesan positif di mata Bobotoh yang menyatakan tidak akan ikut campur soal Persib karena merupakan klub profesional.

"Mungkin teman-teman Bobotoh melihatnya, sebelum lawan Dewa itu Pak Dedi ketika mengupload di sosial media, masyarakat melihat ada unsur politik di situ," katanya.

"Tapi kita tahu juga Pak Dedi dari awal beliau ber statemen bahwa Persib itu tim profesional, saya mah hadir kalau juaranya saja pas konvoi, begitu beliau bilang. Jadi ada statemen yang ditangkap Bobotoh sudah bagus," lanjutnya.

3. Bentuk warning agar Persib tidak dikaitkan dengan politik

large_ramon_selebrasi_sp_sut_8e13279610.jpg
Persib Bandung tumbangkan Semen Padang lewat dua gol Ramon Tanque. Dok Persib

Lebih lanjut, Arland menilai, Dedi Mulyadi seharusnya tidak perlu mengunggah di media sosial mengenai Maruarar yang ingin menyumbangkan uang kepada Persib.

"Kemarin kalau kita lihat di sosial media, karena ada Ara yang memberikan bantuan, sebenarnya ya sudah tidak perlu di up, akhirnya orang menganggap bahwa Persib dijadikan alat politik," ujarnya.

Meski begitu, Arland menekankan pesan dari spanduk tersebut tidak semata ditujukan kepada Dedi Mulyadi. Ia menegaskan, secara umum spanduk itu ditujukan untuk seluruh politisi dan pejabat agar tidak cari panggung lewat Persib Bandung.

"Saya melihat bahwa spanduk yang beredar di GBLA adalah warning kepada seluruh elite politik agar tidak menggunakan Persib sebagai alat politik apalagi di tengah situasi Persib yang sedang butuh dukungan," ujarnya.

Sebelumnya, Dedi Mulyadi beberapa waktu lalu mengunggah video berisikan informasi Persib Bandung menerima bantuan dana senilai Rp1 miliar dari Maruarar Sirait yang merupakan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).

Bantuan diberikan kepada skuad Persib menjelang laga menghadapi Dewa United, pekan kemarin. Dalam unggahannya, Dedi menjelaskan dukungan tersebut sebagai bentuk kepedulian dan kecintaan Maruarar terharu Persib yang sedang berupaya meraih gelar juara Liga 1 2025/2026.

"Saking inginnya Persib juara dalam tiga kali berturut-turut dan lima kali dalam sepanjang sejarah liga di Indonesia, Kang Asep Ara Sirait memberikan supporting bantuan Rp1 miliar dalam pertandingan melawan Dewa United di Banten," kata Dedi dikutip dari Instagram pribadinya, Senin (20/4) malam.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More