Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Penantian 12 Tahun, Pedagang Bakso Tahu di Bandung Naik Haji
(IDN Times/Azzis Zulkhairil)
  • Halimah A Sujai, pedagang bakso tahu asal Bandung, akhirnya berangkat haji bersama anaknya setelah menanti 12 tahun sejak mendaftar pada 2014.
  • Biaya keberangkatan haji Halimah sepenuhnya berasal dari hasil jerih payah almarhum suami yang berjualan bakso tahu dan bubur serta tabungan yang disiapkan sebelum wafat pada 2021.
  • Meski kini bekerja serabutan dengan penghasilan terbatas, Halimah tetap bersyukur dapat memenuhi panggilan haji berkat tabungan peninggalan suami dan keyakinannya akan pertolongan Tuhan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
13 Juni 2014

Halimah dan suaminya mendaftar haji dengan uang muka Rp50 juta untuk dua orang. Pendaftaran dilakukan melalui bank dan Kementerian Agama.

2021

Suami Halimah meninggal dunia pada masa COVID-19. Sebelum wafat, ia telah menyiapkan tabungan untuk biaya haji keluarga.

20 April 2026

Halimah ditemui di rumahnya di Bandung dan menceritakan persiapan keberangkatan hajinya bersama anak pertama.

22 April 2026

Halimah dijadwalkan berangkat haji bersama anaknya melalui Embarkasi Indramayu, BIJB Kertajati.

kini

Halimah telah menyiapkan koper dan perlengkapan untuk berangkat ke tanah suci, merasa haru mengenang almarhum suaminya yang dulu bercita-cita berhaji bersamanya.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Seorang pedagang bakso tahu asal Bandung, Halimah A Sujai, akhirnya berangkat menunaikan ibadah haji setelah menunggu selama 12 tahun sejak pendaftaran pada 2014.
  • Who?
    Halimah A Sujai (48 tahun) bersama anak pertamanya, Mutia Salsabila (22 tahun), berangkat melalui Embarkasi Indramayu menuju tanah suci.
  • Where?
    Keberangkatan dilakukan dari Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Indramayu. Halimah berdomisili di Jalan Sukasirna, Kelurahan Padasuka, Cibeunying Kidul, Kota Bandung.
  • When?
    Pemberangkatan dijadwalkan pada Rabu, 22 April 2026. Persiapan keberangkatan dilakukan sejak beberapa hari sebelumnya di kediaman Halimah.
  • Why?
    Ibadah haji ini merupakan cita-cita keluarga yang dimulai oleh almarhum suami Halimah, yang menyisihkan hasil jualan bakso tahu untuk mendaftar haji sejak 2014.
  • How?
    Dana keberangkatan diperoleh dari tabungan hasil usaha menjual bakso tahu dan bubur milik almarhum suami serta penjualan perhiasan peninggalannya untuk melunasi biaya haji dua orang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ibu Halimah jualan bakso tahu di Bandung. Dulu suaminya bantu jualan juga dan mereka nabung lama sekali buat naik haji. Suaminya meninggal waktu corona, tapi uangnya masih disimpan. Sekarang Ibu Halimah mau berangkat haji sama anaknya Mutia. Mereka sudah siap koper dan senang sekali walau ingat suami yang sudah tiada.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Kisah Halimah menunjukkan kekuatan tekad dan ketulusan dalam menghadapi perjalanan panjang menuju impian spiritualnya. Dari hasil jualan bakso tahu dan bubur bersama mendiang suami, ia mampu menabung selama 12 tahun hingga akhirnya berangkat haji bersama anaknya. Perjuangan ini mencerminkan kesabaran, keikhlasan, dan keyakinan yang membuahkan kebahagiaan mendalam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Seorang pedagang bakso tahu atau siomay asal Kota Bandung, Halimah A Sujai (48 tahun) turut mendapatkan kesempatan berangkat ke tanah suci. Halimah dijadwalkan berangkat haji bersama anak pertamanya, Mutia Salsabila (22 tahun) melalui Embarkasi Indramayu, BIJB Kertajati pada Rabu (22/4/2026).

Perjuangan Halimah mendapatkan tiket ke Arab Saudi bersama anaknya itu tidak mudah karena dia harus menanti selama 12 tahun dari awal mendaftar pada tahun 13 Juni 2014. Dia menceritakan, awal mendaftar haji ini tidak lain dari kegigihannya mendiang suami menyisihkan hasil menjual bakso tahu untuk daftar haji.

"Ibadah haji dulu pas almarhum suami masih ada kita usaha jualan siomay. Alhamdulillah ada rezeki kita daftar langsung ke bank, dulu langsung kita ke Kementerian Kemenag nya, sekarang kan Kementerian Haji dulu masih Kemenag," ujar Halimah saat ditemui di kediamannya, Jalan Sukasirna, RT07 RW12, Kelurahan Padasuka, Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Senin (20/4/2026).

1. Uang haji semuanya hasil berjualan bakso tahu

(IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Setelah mendaftar, Halimah dan suami terus menyisihkan uang hasil usahanya itu selama bertahun-tahun. Bahkan, sang suami terkadang turut menjual bubur, tidak hanya bakso tahu saja.

Berjalanya waktu, tepat pada 2021 sang suami meninggal pada masa COVID-19 dan saat itu Halimah turut merasakan kehilangan yang mendalam. Hanya saja, sang suami turut meninggalkan tabungan untuk Halimah berangkat ke tanah suci.

Surat kuasa keberangkatan haji pun akhirnya dipindahkan ke pada anak pertamanya tersebut, di mana saat dia dan suaminya mendaftarkan haji sang anak masih berumur lima tahun.

"Terus selama berapa tahun kitanya sudah sudah nabung. Pas tahun 2021 suami meninggal tapi alhamdulillah tabungan mah udah cukup buat naik haji sebelum suami meninggal. Jadi kita sekarang gak nabung lagi," jelasnya.

2. Almarhum suami sudah menyiapkan semua dana keberangkatan haji

(IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Halimah ingat betul saat itu dirinya mendaftarkan haji dengan biaya uang muka Rp50 juta untuk dua orang. Sementara saat dimintai pelunasan untuk berangkat tahun ini, dia turut mengeluarkan uang Rp62 juta untuk dua orang.

Halimah mengatakan, untuk melunasi biaya haji ini semuanya memang berasal dari usaha sang suami berjualan bakso tahu dan bubur. Sebelum almarhum meninggal, semua untuk pembiayaan sudah dipersiapkan hingga akhirnya bisa melunasi dan mendapatkan tiket haji.

"Sudah ada tabungan dulu dari almarhum suami. Almarhum sudah nyiapin alhamdulillah buat ini sekolah anak-anak juga kan, anaknya masih sekolah semuanya empat," jelasnya.

Selain tabungan, Halimah pun memiliki sejumlah perhiasan yang akhirnya dijual untuk menambah bekal dalam berhaji, dan itu pun masih peninggalan mendiang suaminya.

"Jadi nabungnya sudah dari dulu, kalau kekurangan-kekurangan kemarin ada yang bisa dijual kita jual buat pelunasan. Jual perhiasan gitu peninggalan almarhum suami. Soalnya saya kerja kan serabutan. Seminggu cuma Rp100.000, anak empat, sekolah semuanya," kata dia.

3. Berangkat haji merupakan panggilan ilahi

(IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Halimah merasa tiket haji tahun ini merupakan panggilan ilahi, karena setelah peninggalan almarhum suaminya dia hanya bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara semua tabungan dan peninggalan suami tetap disimpan tidak digunakan sampai akhirnya ada panggilan untuk berangkat haji.

"Kalau menurut logika manusia kan enggak cukup Rp100.000 seminggu enggak akan cukup. Tapi kan Allah yang maha mencukupi segalanya," ucapnya.

"Ibu cuma yakin kalau kita diundang sama Allah berarti kita dimampukan sama Allah.Bukan kitanya yang mampu tapi Allah memampukan yang dia undang," sambung Halimah.

Pekerjaan Halimah sehari-hari sebagai pengasuh anak dari tetangga, kemudian membersihkan benang bordir dari konveksi. Dia tidak memiliki pekerjaan tetap setelah ditinggal sang suami.

"Tapi itu juga kadang seminggu sekali, kadang seminggu dua kali. Kalau masih lagi ada orderan banyak saya diundang, tapi kalau enggak ya, enggak," tuturnya.

Halimah kini sudah mempersiapkan semua koper dan barang bawaan untuk berangkat ke tanah suci. Mulai dari syarat administratif sudah dipersiapkan dengan baik, termasuk sang anak Mutia Salsabila yang sudah menata rapih keperluannya ke dalam koper.

"Perasaannya senang, sedih. Sedihnya karena ingat almarhum suami, tadinya mau sama almarhum tapi ternyata Allah berkehendak lain. Berarti sama anak saya yang mendampingi," kata Halimah.

Editorial Team