Pemprov Jabar Jaga Cadangan Pangan dari Ancaman 'El Nino Godzilla'

- Pemprov Jabar memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah Daerah untuk menghadapi potensi gagal panen dan krisis pangan akibat kemarau panjang El Nino ekstrem.
- Pengadaan beras dipercepat sebelum puncak kemarau Agustus-September 2026, disertai peningkatan Gerakan Pangan Murah, koordinasi distribusi, serta pemantauan stok dan harga harian.
- BMKG memprediksi kemarau lebih cepat, panjang, dan kering di Jabar hingga Oktober; pemerintah diminta menyiapkan pasokan air, irigasi, serta mitigasi kekeringan sejak dini.
Bandung, IDN Times - Musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino ektrem atau El Nino Godzilla turut berdampak langsung ke masyarakat di Jawa Barat. Dampaknya, sejumlah daerah saat ini mengalami krisis air bersih, hingga adanya potensi gagal panen.
Potensi gagal panen tersebut turut menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Jabar, karena ditakutkan dampaknya mengarah pada minimnya stok pangan. Sejumlah langkah pun kini telah dipersiapakan oleh pemerintah provinsi.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat, Linda Al Amin mengatakan, antisipasi menipisnya stok pangan dilakukan dengan memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD).
"Pemerintah Jawa Barat menjalankan sejumlah langkah taktis diantaranya Penyaluran CPPD, Memobilisasi Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) ke wilayah-wilayah yang mengalami krisis pangan. sehingga dapat digunakan untuk kondisi darurat maupun stabilisasi pasokan," ujar Linda, Kamis (6/8/2026).
1. GMP akan ditingkatkan secara berkala

Selain itu, Pemprov Jabar akan mempercepat pengadaan cadangan beras sebelum memasuki puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi Agustus-September 2026 ini. Linda mengungkapkan, gelaran Gerakan Pangan Murah (GPM) pun akan ditingkatkan.
"GMP akan ditingkatkan secara berkala di berbagai kabupaten/kota untuk membantu menjaga keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat. di daerah dengan harga tinggi dan wilayah rentan," kata dia.
Langkah lain yang diterapkan yaitu memperkuat koordinasi dengan Bulog, Bapanas, distributor, dan pemerintah kabupaten/kota untuk menjamin kelancaran distribusi.
Monitoring harian stok dan harga pangan strategis pun dikatakan dia, akan dilakukan melalui sistem informasi pangan guna mengantisipasi gejolak lebih dini.
"Mitigasi produksi, antara lain, pompanisasi, optimalisasi irigasi, percepatan tanam, penggunaan varietas tahan kekeringan, pengamanan lahan sawah," kata dia.
2. Dedi Mulyadi sudah meminta sejak bulan lalu untuk antisipasi kemarau disertai El Nino

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi pun sebelumnya sudah menyampaikan agar pemerintah kabupaten dan kota mulai melakukan antisipasi terhadap kemarau panjang akibat fenomena El Nino Godzilla.
"Kami harus antisipasi dampak kemarau panjang ini, kekeringan bahkan kebakaran. Informasi dari BMKG, puncak kemarau di Jabar akan terjadi Agustus dan September," ujar KDM dalam Rakor di Markas Besar TNI Angkatan Darat (Mabes AD) Kamis (4/6/2026).
KDM menegaskan langkah antisipasi harus sudah dilakukan secepatnya tanpa menunggu bencana muncul terlebih dulu. Oleh karena itu, ia mengajak TNI dan juga masyarakat lainnya yang peduli untuk bersama-sama mengantisipasi kemarau panjang dan permasalahan sampah.
Langkah yang harus dilakukan secepatnya yaitu mendata wilayah yang selalu kesulitan air saat kemarau agar kebutuhan harian dan pertanian terpenuhi.
"Siapkan mobilisasi air dari sumber air menggunakan mobil tangki. Ini perlu dukungan dan kerjasama dengan TNI dan pengusaha air kemasan. Percepat pembangunan jaringan air bersih dan siapkan toren penampung air di setiap desa langganan kekeringan, harus sudah dimulai agar tidak ada rebutan air," katanya.
3. Pantura Jabar sudah masuk kemarau sejak bulan lalu

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani membenarkan kemarau panjang yang bakal terjadi di Jabar. Bahkan musim kemarau sudah mulai terjadi diwilayah pesisir pantai utara Jabar.
"Tahun ini kemarau datang lebih cepat, lebih panjang dan lebih kering karena fenomena El Nino. Bulan Juni ini di Pantura sudah terasa, dan bulan Juli hingga Oktober akan merata di Jabar, dimana puncaknya di bulan Agustus dan September," ujarnya.
Menurutnya secara umum musim kemarau di Jabar akan berlangsung tiga sampai tujuh bulan, sehingga tentunya diperlukan antisipasi kemungkinan bencana kekeringan.









.jpg)










