Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mahasiswa ITB Bekali Pelajar Pengetahuan Mitigasi Banjir Citarum

Kota Bandung
5 min read
Mahasiswa ITB Bekali Pelajar Pengetahuan Mitigasi Banjir Citarum
Pelajar Didorong Jadi Agen Peringatan Dini Banjir Citarum (Dok. ITB)
  • Tim ITB melatih 30–35 siswa di masing-masing enam sekolah Majalaya selama September–Oktober tentang penyebab banjir Citarum, risiko luapan, dan langkah keselamatan.
  • Pelajar mempelajari peringatan dini komunitas Jaga Balai yang memantau hujan serta tinggi muka air, dengan informasi WhatsApp yang memberi waktu persiapan sekitar satu hingga dua jam.
  • ITB juga menyerahkan CCTV, micro SD, komputer, handy talkie, dan jaket pelampung kepada Yayasan Jaga Balai untuk mendukung pemantauan cuaca serta komunikasi siaga banjir.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times – Ancaman banjir akibat luapan Sungai Citarum tidak hanya dipengaruhi hujan yang turun di sekitar permukiman. Curah hujan di wilayah hulu dapat meningkatkan debit sungai dan memicu banjir beberapa jam kemudian. Karena itu, informasi cuaca dan kenaikan tinggi muka air menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko bencana.

Untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat, tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) Institut Teknologi Bandung (ITB) membekali pelajar di Kecamatan Majalaya dengan pengetahuan mengenai mitigasi banjir dan sistem peringatan dini berbasis komunitas.

Program yang didukung oleh Direktorat Pengabdian Masyarakat (DPMK) ITB melalui skema Bottom-Up ini dipimpin dosen ITB Faizal Immaddudin Wira Rohmat bersama Rangga Adiprima Sudisman dan Edi Riawan. Kegiatan melibatkan mahasiswa dari program studi Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air (TPSDA), Rekayasa Infrastruktur Lingkungan (RIL), dan Teknik Kelautan (KL), serta bekerja sama dengan Yayasan Jaga Balai Majalaya.

Sepanjang September hingga Oktober, pelatihan dilaksanakan di enam sekolah, yaitu SMA Aulia Majalaya, SMA Pasundan Majalaya, SMK KP 1 Majalaya, SMK Yadika 2 Cijagra Paseh, MA Al Azhar Majalaya, dan SMAN 1 Majalaya. Setiap sekolah menjangkau sekitar 30–35 siswa yang diajak memahami penyebab banjir, membaca informasi peringatan, serta mengenali langkah keselamatan sebelum, saat, dan setelah bencana.

  1. 1. Memahami penyebab banjir dan risiko luapan Citarum

    Pelajar Didorong Jadi Agen Peringatan Dini Banjir Citarum (Dok. ITB)
    Pelajar Didorong Jadi Agen Peringatan Dini Banjir Citarum (Dok. ITB)

    Dalam pelatihan, siswa diajak memahami karakteristik Sungai Citarum Hulu yang mengalir dari lereng terjal sebelum mencapai dataran yang lebih landai di kawasan Majalaya. Perubahan kemiringan tersebut dapat memperlambat aliran dan meningkatkan risiko penumpukan air.

    Curah hujan tinggi serta pendangkalan sungai akibat sedimentasi turut memperbesar potensi luapan hingga permukiman, sekolah, kawasan industri, dan jalan utama.

    Tim ITB menjelaskan proses terjadinya banjir melalui hubungan antara hujan, resapan, limpasan permukaan, dan peningkatan debit air yang melampaui kapasitas sungai maupun drainase. Siswa juga diperkenalkan pada dampak banjir, mulai dari gangguan akses air bersih dan kerusakan infrastruktur hingga risiko penyakit serta terganggunya kegiatan ekonomi. Mitigasi dibahas melalui upaya struktural, seperti pengerukan sedimentasi, dan nonstruktural, termasuk pemberdayaan masyarakat.

  2. 2. Mengenali sistem peringatan dini berbasis komunitas

    Sungai Citarum (instagram.com/andrearamadhaan)
    Sungai Citarum (instagram.com/andrearamadhaan)

    Siswa turut mempelajari perjalanan Yayasan Jaga Balai, yang berawal dari inisiatif warga saling berbagi informasi curah hujan melalui SMS dan grup WhatsApp. Seiring waktu, komunikasi warga tersebut berkembang menjadi sistem peringatan dini berbasis komunitas yang membantu masyarakat memantau kondisi hulu dan perubahan tinggi muka air Sungai Citarum.

    Informasi curah hujan dari pos pemantauan di Cisanti, Ibun, dan Cikitu direkam melalui sensor telemetri. Perubahan tinggi muka air sungai juga dipantau dan dianalisis untuk memperkirakan potensi banjir.

    Informasi kemudian disampaikan melalui grup WhatsApp Siaga Warga Majalaya, sehingga masyarakat berpotensi memiliki waktu sekitar satu hingga dua jam untuk mengamankan barang penting atau melakukan evakuasi sebelum banjir mencapai permukiman.

    Pelatihan juga mengenalkan empat tingkat status kebencanaan, yakni Aman, Waspada, Siaga, dan Awas/Bahaya, beserta tindakan yang perlu dilakukan pada setiap tingkat. Siswa belajar menyiapkan tas siaga bencana, memindahkan barang berharga ke tempat lebih tinggi, serta mematikan aliran listrik dan melakukan evakuasi mandiri saat kondisi membahayakan.

    Mereka juga diingatkan untuk menyebarkan informasi dari sumber resmi seperti BMKG, BPBD, dan pos pemantau lokal, serta menghindari pesan yang belum terverifikasi dan berpotensi memicu kepanikan.

  3. 3. Membekali pelajar dengan langkah kesiapsiagaan banjir

    Pelajar Didorong Jadi Agen Peringatan Dini Banjir Citarum (Dok. ITB)
    Pelajar Didorong Jadi Agen Peringatan Dini Banjir Citarum (Dok. ITB)

    Selain memahami peringatan dini, siswa mendapat panduan praktis menghadapi banjir dalam tiga tahap. Sebelum banjir, mereka didorong memantau informasi resmi, mengenali jalur evakuasi, memeriksa instalasi listrik, mengamankan dokumen penting dalam wadah kedap air, dan menyiapkan tas siaga bencana. Ketika banjir terjadi, keselamatan jiwa menjadi prioritas, termasuk menghindari arus deras, kabel listrik, serta genangan yang berpotensi menyembunyikan bahaya.

    Setelah banjir surut, siswa diingatkan untuk berhati-hati saat memasuki rumah dan menggunakan sepatu bot serta sarung tangan ketika membersihkan lumpur. Mereka juga dianjurkan mengonsumsi air kemasan untuk sementara, membuang makanan, minuman, atau obat-obatan yang tercemar, serta mencuci bersih pakaian dan perabot.

    Dalam keseharian, pelajar didorong ikut menjaga kebersihan selokan, bergotong royong melalui gerakan “Cek Got”, dan melaporkan perubahan tinggi muka air secara faktual melalui jaringan komunikasi warga.

    Kegiatan dilaksanakan secara interaktif melalui pre-test, post-test, diskusi, dan permainan edukatif. Siswa juga diperkenalkan dengan lingkungan akademik FTSL ITB, khususnya program studi TPSDA, RIL, dan Teknik Kelautan, untuk menunjukkan peran ilmu keteknikan dalam menangani persoalan lingkungan di sekitar mereka.

  4. 4. Dukungan sarana untuk siap siaga banjir

    Pelajar Didorong Jadi Agen Peringatan Dini Banjir Citarum (Dok. ITB)
    Pelajar Didorong Jadi Agen Peringatan Dini Banjir Citarum (Dok. ITB)

    Selain edukasi kepada pelajar, dukungan ITB tercermin pada hibah alat kepada Majalaya melalui Yayasan Jaga Balai yaitu CCTV dan micro SD utuk mendukung pemantauan cuaca secara visual lengkap dengan set Personal Computer untuk penunjang. Handy Talkie juga diberikan untuk meningkatkan efisiensi komunikasi saat kegiatan siaga banjir.

    Pada saat kejadian banjir, jaket pelampung penting untuk disiapkan dan ditingkatkan jumlahnya. Seluruh alat berfungsi dengan baik dan siap digunakan untuk meningkatkan sistem peringaran dini dan siap siaga bencana di Majalaya.

    Melalui kolaborasi perguruan tinggi, sekolah, dan komunitas, program ini diharapkan memperkuat kesiapsiagaan banjir di Majalaya. Pelajar diharapkan mampu memahami tanda-tanda potensi banjir, memilah informasi yang benar, menyampaikan peringatan secara bijak, serta berperan aktif menjaga lingkungan agar risiko luapan Citarum dapat diantisipasi lebih baik.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More