Investasi Jabar Tembus Rp91 Triliun, Bagaimana Serapan Kerjanya?

Realisasi investasi Jawa Barat mencapai Rp91 triliun pada Triwulan III 2026, tertinggi nasional dan setara 17,2 persen total investasi Indonesia.
Investasi Januari-September 2026 disebut menyerap 399.003 tenaga kerja, terutama di manufaktur, pergudangan, dan ritel; Bekasi, Karawang, Bogor, serta Subang mencatat penyerapan besar.
Aplikasi Nyari Gawe mencatat 728.085 pencari kerja dan 2,4 juta lamaran, tetapi 230 perusahaan hanya membuka 32.125 posisi dengan 1.282 pelamar tercatat diterima.
Bandung, IDN Times - Realisasi investasi di Jawa Barat mencapai Rp91 triliun pada Triwulan III 2026, tertinggi dibandingkan provinsi lain di Indonesia. Namun, di tengah derasnya investasi tersebut, ratusan ribu warga masih bersaing mendapatkan pekerjaan melalui aplikasi Nyari Gawe milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Berdasarkan data Nyari Gawe hingga 21 Oktober 2026, tercatat 728.085 pencari kerja telah mengajukan sekitar 2,4 juta lamaran. Sementara itu, dari 803 perusahaan yang terdaftar, baru 230 perusahaan yang membuka lowongan dengan total 32.125 posisi kerja. Adapun jumlah pelamar yang tercatat diterima mencapai 1.282 orang.
Data ini menunjukkan besarnya jumlah pencari kerja yang mengakses layanan tersebut dibandingkan dengan posisi yang tersedia. Meski begitu, angka penerimaan di aplikasi belum tentu mencakup seluruh proses rekrutmen perusahaan di Jawa Barat.
1. Masih banyak tenagakerja belum terserap

ilustrasi pengangguran (IDN Times/Aditya Pratama) Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi alias KDM mengatakan, peningkatan investasi di daerah diharapkan dapat berdampak terhadap ketersediaan lapangan kerja. Namun, ia mengakui jumlah angkatan kerja masih lebih besar dibandingkan dengan kesempatan kerja yang tersedia.
"Investasi di Jawa Barat terus melonjak dan mudah-mudahan investasi ini memiliki dampak bagi ketersediaan lapangan pekerjaan," kata KDM, Rabu (21/10/2026).
Sementara itu Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, realisasi gabungan penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) di Jawa Barat mencapai Rp91 triliun pada Triwulan III 2026.
Nilai tersebut setara dengan 17,2 persen dari total investasi nasional dan menjadi yang tertinggi dibandingkan provinsi lain. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Barat menyatakan realisasi investasi sepanjang Januari hingga September 2026 telah menyerap 399.003 tenaga kerja.
Adapun penyerapan tenaga kerja tersebut berasal dari berbagai sektor usaha, mulai dari manufaktur hingga pergudangan dan ritel. Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Subang menjadi sejumlah daerah dengan penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar.
2. Aplikasi Nyarigawe hanya membantu pencari kerja

Ilustrasi pengangguran dan PHK (IDN Times/Arief Rahmat) Di sisi lain, Pemprov Jabar mengandalkan aplikasi Nyari Gawe untuk mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja. Aplikasi ini mencatat 728.085 pencari kerja hingga 21 Oktober 2026.
Berdasarkan sebaran wilayah, Kabupaten Subang menjadi daerah dengan jumlah pencari kerja terbanyak, yakni 92.172 orang. Berikutnya Kabupaten Karawang dengan 79.110 orang dan Kabupaten Bekasi sebanyak 52.852 orang.
Kabupaten Purwakarta mencatat 43.380 pencari kerja, disusul Kabupaten Bandung sebanyak 42.159 orang. Sementara itu, jumlah pencari kerja dari luar Jawa Barat mencapai 41.036 orang.
"Sistem layanan Nyari Gawe merupakan jalan dari banyak jalan untuk membuka lapangan kerja agar transparan dan memberikan manfaat bagi kepentingan masyarakat," kata KDM.
3. Jumlah angkatan kerja lebih banyak dibandingkan lapangan kerja

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (tengah), CEO BDx Indonesia Agus Hartono Wijaya, dan CEO BDx Data Centers Mayank Srivastava menghadiri upacara peletakan batu pertama pada 28 Juli 2026 untuk kampus CGK4 di Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, bersama para tokoh daerah dan perwakilan masyarakat. (BDx Indonesia) Namun, KDM mengakui aplikasi yang dikembangkan oleh Disnakertrans dan Diskominfo Jabar ini tidak bisa dengan sendirinya menampung seluruh pencari kerja apabila jumlah lowongan yang tersedia masih terbatas.
"Jumlah angkatan kerja lebih banyak dibanding ketersediaan lapangan kerja. Dan itu tugas kami pemerintah provinsi Jawa Barat, pemerintah kabupaten kota dan pemerintahan desa untuk memacu investasi agar masuk ke Jawa Barat," kata dia.
Sebelumnya, Realisasi PMA Provinsi Jawa Barat mencapai Rp132 triliun sepanjang Januari-September 2026. Raihan tersebut mengalahkan DKI Jakarta, Jawa Timur hingga Maluku Utara. Nilai PMA Jabar mencapai 17,9 persen dari total investasi asing nasional pada periode tersebut.
Sementara itu, realisasi investasi gabungan Penanaman PMA dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Jawa Barat mencapai Rp91 triliun pada Triwulan III 2026, setara dengan 17,2 persen dari total investasi nasional.nAngka tersebut menempatkan Jawa Barat di atas DKI Jakarta yang mencatatkan investasi Rp75,7 triliun pada periode yang sama.




















