Kesaksian Pengelola Kos: Korban Tak Pernah Bebas Keluar Kamar

- Pengelola kos bersaksi korban jarang terlihat dan selalu diawasi pelaku, bahkan kamar sering dikunci dari luar sehingga korban tak pernah berinteraksi dengan penghuni lain.
- Pelaku mengaku pada pengelola bahwa korban memiliki gangguan penglihatan berat dan butuh operasi, namun perilakunya yang sering menimbulkan suara benturan membuat situasi mencurigakan.
- Korban akhirnya dibawa ke rumah sakit dalam kondisi lemah hingga harus dibopong, memperkuat dugaan adanya penganiayaan yang kini diselidiki berdasarkan kesaksian penghuni kos.
Bandung, IDN Times - Kesaksian demi kesaksian mulai mengungkap kondisi perempuan yang diduga menjadi korban penganiayaan selama bertahun-tahun oleh pelaku Taufik Hidayat di sebuah rumah kos kawasan Cinunuk, Kabupaten Bandung. Salah satu cerita datang dari Mulyati, istri penjaga kos yang selama beberapa bulan terakhir tinggal berdekatan dengan pelaku.
Di mata Mulyati, perempuan tersebut nyaris tak pernah terlihat. Setiap kali muncul, korban selalu berada dalam pengawasan ketat pelaku. Bahkan, selama tinggal di kamar kos itu, korban disebut tidak pernah berinteraksi dengan penghuni lain maupun pengelola.
Namun, Mulyati mengaku, selama pelaku menyewa kamar, dirinya sempat mendengar suara benturan dari dalam kamar. Namun, saat dicek tidak ditemukan hal yang mencurigakan sehingga dirinya tidak menaruh curiga lebih jauh.
"Suara pukulan atau tendangan ke tembok sering terdengar. Tapi pas saya datangi tidak ada apa-apa," kata Mulyati, Selasa (23/6/2026).
1. Korban pertama kali datang dalam kondisi lemah dan tertutup

Mulyati menuturkan pelaku mulai menyewa kamar kos pada 9 Maret 2026. Namun saat pertama kali datang, pelaku tidak membawa korban ke hadapan pengelola. Keberadaan perempuan itu baru diketahui beberapa waktu kemudian.
Ketika akhirnya melihat korban, Mulyati mengaku langsung merasa ada yang tidak biasa. Korban berjalan sangat pelan seperti orang yang sedang sakit. Wajahnya pun tidak pernah terlihat jelas karena selalu tertutup helm dan jaket berwarna abu-abu.
"Ceweknya tidak dibawa ke sini saat pertama datang. Pas saya lihat, dia masih bisa jalan tapi seperti orang sakit, pelan-pelan. Pakai helm dan jaket abu-abu, wajahnya tertutup," kata Mulyati, Selasa (23/6/2026).
Meski tinggal berbulan-bulan di kamar tersebut, korban nyaris tidak pernah terlihat keluar. Mulyati juga tidak pernah mendengar korban berbicara, berteriak, ataupun meminta pertolongan.
Menurutnya, suasana kamar lebih sering diwarnai suara batuk keras pelaku dibanding suara korban. Kondisi itu membuat keberadaan perempuan tersebut seperti sengaja disembunyikan dari lingkungan sekitar.
2. Sebut korban matanya minus 17

Selama menjadi penghuni kos, pelaku dikenal cukup sering berbincang dengan pengelola. Kepada Mulyati dan suaminya, ia mengaku bekerja sebagai debt collector.
Dalam beberapa kesempatan, pelaku juga bercerita mengenai perempuan yang tinggal bersamanya. Ia mengklaim korban mengalami gangguan penglihatan serius dan membutuhkan tindakan operasi.
"Katanya matanya minus 17, dari kecil tidak bisa melihat. Mau operasi pakai BPJS dan butuh uang Rp10 juta," ujar Mulyati.
Cerita itu sempat membuat pengelola tidak menaruh curiga. Namun seiring waktu, sejumlah perilaku pelaku mulai menimbulkan tanda tanya. Salah satunya kebiasaan mengunci kamar dari luar setiap kali meninggalkan kos.
Menurut Mulyati, hal itu selalu dilakukan meski pelaku hanya pergi sebentar untuk membeli makanan atau kebutuhan sehari-hari.
"Kalau keluar sebentar beli nasi atau apa, selalu dikunci. Jadi tidak pernah ditinggal terbuka," katanya.
Selain itu, pengelola juga beberapa kali mendengar suara benturan keras dari dalam kamar. Suara tersebut terdengar seperti pukulan atau tendangan yang menghantam tembok.
Meski demikian, saat diperiksa tidak ditemukan sesuatu yang mencurigakan sehingga kecurigaan itu tidak berkembang lebih jauh.
"Suara pukulan atau tendangan ke tembok sering terdengar. Tapi pas saya datangi tidak ada apa-apa," ungkapnya.
3. Korban sempat dibawa ke rumah sakit dengan kondisi dibopong

Momen yang paling diingat Mulyati terjadi pada 9 Juni 2026, saat korban akhirnya dibawa keluar dari kos untuk mendapatkan perawatan medis.
Sebelum berangkat, pelaku sempat meminjam kerudung milik Mulyati untuk dikenakan kepada korban. Setelah itu, korban dirias cukup lama di dalam kamar sebelum akhirnya keluar untuk dijemput kendaraan daring.
Saat itulah kondisi korban terlihat jauh lebih memprihatinkan dibanding sebelumnya.
"Waktu mau ke rumah sakit sempat pinjam kerudung ke saya. Pas keluar, korban dibopong sama pelaku dan wajahnya ditutupi," kata Mulyati.
Ia mengaku tidak menyangka perempuan yang selama ini jarang terlihat ternyata berada dalam kondisi sedemikian lemah. Belakangan, berbagai fakta yang terungkap membuat dirinya mengingat kembali sejumlah kejanggalan yang pernah terjadi selama pelaku tinggal di kos tersebut.
Menurut Mulyati, pelaku dikenal memiliki temperamen yang cukup tinggi. Ia bahkan beberapa kali terlihat mabuk dan menunjukkan sikap agresif terhadap penghuni lain.
"Kalau habis mabuk suka emosian, pernah ngajak berantem juga. Tapi kami tidak menyangka ada kejadian seperti ini," tuturnya.
Kini, kesaksian para penghuni dan pengelola kos menjadi bagian penting dalam mengungkap dugaan penganiayaan yang dialami korban selama bertahun-tahun.



















