Farhan Siapkan Teknologi Pengolah Sampah 300 Ton per Hari

- Pemkot Bandung mengkaji uji coba teknologi pengolahan sampah berkapasitas 50–300 ton per hari untuk mengurangi ketergantungan pada TPA.
- Bandung menyiapkan pengembangan fasilitas di Legok Nangka serta komitmen bersama Danantara di Sarimukti, berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
- Danantara direncanakan menanggung investasi fasilitas, sedangkan Pemkot Bandung membiayai operasional sekitar Rp250 ribu hingga Rp400 ribu per ton sampah.
Bandung, IDN Times – Pemerintah Kota Bandung terus mencari jalan keluar dari persoalan sampah. Kali ini, Pemkot menyiapkan uji coba teknologi pengolahan sampah yang mampu mengolah hingga 300 ton sampah per hari. Teknologi tersebut tengah dikaji bersama Danantara dan Kementerian Riset dan Teknologi sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Rencana itu menjadi salah satu tindak lanjut yang disiapkan setelah Presiden menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah daerah dengan lembaga riset dan perguruan tinggi dalam menyelesaikan persoalan sampah. Bagi Bandung yang selama beberapa tahun terakhir terus berpacu dengan tingginya timbulan sampah harian, teknologi baru dinilai menjadi salah satu opsi untuk memperkuat kapasitas pengolahan di dalam kota.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, selain menyiapkan fasilitas pengolahan di Legok Nangka, Pemkot Bandung juga telah menandatangani komitmen pengembangan bersama Danantara di Sarimukti yang dikoordinasikan dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
1. Bandung mulai bergerak mencari solusi di luar pola lama

(Dok.Humas Bandung) Persoalan sampah bukan isu baru bagi Kota Bandung. Namun keterbatasan kapasitas pembuangan membuat pemerintah daerah harus mulai mencari pendekatan yang lebih berkelanjutan dibanding sekadar mengangkut dan membuang sampah ke tempat pemrosesan akhir.
Karena itu, Pemkot Bandung mulai mempercepat sejumlah kerja sama yang berfokus pada peningkatan kapasitas pengolahan sampah. Salah satunya melalui pengembangan fasilitas di Legok Nangka dan penjajakan teknologi baru yang dinilai lebih efektif dalam mengurangi volume sampah sejak awal.
"Kami sudah menandatangani komitmen pengembangan fasilitas pengolahan sampah di Legok Nangka. Selain itu, ada juga komitmen pengembangan bersama Danantara di Sarimukti yang dikoordinasikan dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat," ujar Farhan.
Menurut dia, kolaborasi dengan lembaga riset dan investor menjadi penting karena tantangan pengelolaan sampah di perkotaan semakin kompleks. Kota Bandung membutuhkan lebih banyak alternatif teknologi agar tidak terus bergantung pada pola pengelolaan konvensional.
2. Teknologi baru diklaim mampu olah hingga 300 ton sampah per hari

(Dok.Humas Bandung) Di tengah kebutuhan meningkatkan kapasitas pengolahan, Pemkot Bandung tengah mengkaji teknologi yang disebut memiliki biaya lebih efisien dibanding sejumlah metode yang sudah ada.
Farhan menjelaskan teknologi tersebut bukan teknologi yang sepenuhnya baru. Namun metode pengolahannya dinilai mampu memberikan hasil yang lebih optimal dengan biaya operasional yang lebih rendah.
Kapasitas yang sedang dikaji berkisar antara 50 hingga 300 ton sampah per hari. Untuk tahap awal, fasilitas percontohan akan dibangun di atas lahan sekitar 5.000 meter persegi.
"Teknologinya tidak benar-benar baru, tetapi metodenya lebih efisien dan lebih murah," katanya.
Jika hasil uji coba sesuai harapan, teknologi tersebut dapat menjadi salah satu instrumen tambahan dalam sistem pengelolaan sampah Kota Bandung, sekaligus membantu mengurangi beban sampah yang selama ini harus dikirim ke tempat pembuangan akhir.
3. Danantara tanggung investasi, Pemkot siapkan biaya operasional

Wisma Danantara Indonesia (IDN Times/Vadhia Lidyana) Skema pembiayaan menjadi salah satu hal yang membedakan proyek ini dengan sejumlah program pengelolaan sampah lainnya. Dalam rancangan yang sedang dibahas, investasi pembangunan fasilitas akan ditanggung oleh Danantara.
Sementara itu, Pemerintah Kota Bandung akan bertanggung jawab terhadap biaya operasional ketika fasilitas mulai beroperasi. Berdasarkan perhitungan awal, biaya pengolahan diperkirakan berada di kisaran Rp250 ribu hingga Rp400 ribu per ton sampah.
Farhan menilai skema tersebut memungkinkan percepatan implementasi teknologi tanpa membebani anggaran daerah dengan investasi awal yang besar. Dengan dukungan pendanaan dari investor, pemerintah dapat lebih fokus memastikan fasilitas berjalan efektif dan memberikan dampak nyata terhadap pengurangan sampah.
Meski masih dalam tahap pembahasan, rencana ini menunjukkan arah baru yang tengah ditempuh Kota Bandung dalam menghadapi persoalan sampah. Alih-alih hanya mengandalkan perluasan kapasitas pembuangan, Pemkot mulai menggeser fokus pada peningkatan kapasitas pengolahan melalui pemanfaatan teknologi dan kolaborasi dengan berbagai pihak.















.jpg)


