[OPINI] Pintar Saja Tidak Cukup: Salah Chat Bisa Menghambat Karier
![[OPINI] Pintar Saja Tidak Cukup: Salah Chat Bisa Menghambat Karier](https://image.idntimes.com/post/20261001/screenshot_2026-10-01-10-21-26-731_com_a189fb09-f77d-4eb3-93b4-c2bbf7a6e0c9.jpg)
- Dosen Taruna Bakti University Hendri Pramadya menilai kompetensi teknis dan prestasi kerja bisa kehilangan nilai jika tidak disertai komunikasi yang tepat, karena chat turut membentuk penilaian profesional.
- Kesantunan kerja mencakup penyesuaian bahasa dengan situasi, jabatan, hubungan, dan tujuan. Di ruang digital, pilihan kata, tanda baca, waktu kirim, serta emoji mudah memicu salah tafsir.
- Pesan digital meninggalkan jejak yang dapat diteruskan atau disimpan, sehingga profesional disarankan mengevaluasi kejelasan, nada, konteks, dan waktu pengiriman sebelum mengirim chat.
KEMAMPUAN teknis dan prestasi kerja sering dianggap sebagai faktor utama yang menentukan kesuksesan seseorang di dunia profesional. Namun, menurut Dosen Taruna Bakti University, Hendri Pramadya, kemampuan berkomunikasi juga memiliki peran yang tidak kalah penting dalam membangun karier.
Hendri menilai banyak orang menganggap pesan singkat atau chat hanya sebagai alat komunikasi sehari-hari. Padahal, cara seseorang menyampaikan pesan dapat memengaruhi bagaimana profesionalismenya dinilai oleh rekan kerja maupun atasan.
"Di balik setiap percakapan di kantor, ada sikap, karakter, dan citra profesional yang ikut dinilai," tulis Hendri dalam artikel opininya berjudul Pintar Saja Tidak Cukup: Salah Chat Bisa Menghambat Karier.
Menurut dia, keahlian teknis, penguasaan teknologi, hingga kemampuan mencapai target memang penting. Namun, berbagai keunggulan tersebut bisa kehilangan nilai ketika seseorang tidak mampu berkomunikasi secara tepat.
Kesantunan berbahasa bukan hanya soal mengucapkan terima kasih
Hendri menjelaskan, kesantunan dalam lingkungan kerja tidak sebatas mengucapkan kata "tolong", "maaf", atau "terima kasih". Kesantunan juga berkaitan dengan kemampuan menyesuaikan bahasa dengan situasi, hubungan sosial, jabatan, dan tujuan komunikasi.
Dalam kajian pragmatik, setiap orang memiliki kebutuhan untuk dihargai sekaligus memiliki ruang pribadi yang tidak ingin diganggu. Karena itu, cara menyampaikan permintaan atau instruksi perlu mempertimbangkan hubungan antara pengirim dan penerima pesan.
Ia mencontohkan beberapa bentuk komunikasi yang sering ditemui di tempat kerja.
Atasan bisa mengatakan, "Tolong laporan ini diselesaikan hari ini."
Sementara bawahan mungkin menulis, "Pak, mohon persetujuannya untuk dokumen ini."
Adapun rekan kerja dapat mengirim pesan, "Bisa bantu cek data ini?"
Meski sama-sama meminta tindakan dari orang lain, cara penyampaiannya berbeda karena posisi dan hubungan sosial masing-masing juga berbeda.
Komunikasi digital membuat pesan lebih mudah disalahartikan
Menurut Hendri, perubahan pola kerja membuat banyak percakapan kantor kini berlangsung melalui WhatsApp, email, grup kerja, hingga berbagai platform kolaborasi digital.
Masalahnya, komunikasi digital menghilangkan banyak unsur yang biasanya hadir dalam percakapan tatap muka, seperti intonasi suara, ekspresi wajah, maupun bahasa tubuh.
Akibatnya, penerima pesan sering kali harus menafsirkan maksud pengirim hanya dari pilihan kata, tanda baca, waktu pengiriman, atau bahkan emoji yang digunakan.
Ia memberikan contoh sederhana.
"Mana laporannya?"
"Laporannya mana???"
"Bu, izin mengingatkan. Apakah laporan kemarin sudah dapat saya terima? Terima kasih 🙏"
Ketiga kalimat tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu menanyakan laporan. Namun, kesan yang ditimbulkan kepada penerima bisa sangat berbeda.
Menurut Hendri, emoji memang dapat membantu menyampaikan nada positif dalam komunikasi digital. Namun, penggunaan yang tidak tepat juga berpotensi menimbulkan salah tafsir karena maknanya bisa berbeda pada setiap orang dan budaya.
Jejak digital ikut membentuk citra profesional seseorang
Hal lain yang sering luput dari perhatian adalah komunikasi digital meninggalkan rekam jejak yang dapat dilihat kembali di kemudian hari.
Pesan dapat diteruskan, dibaca ulang, hingga disimpan dalam bentuk tangkapan layar. Karena itu, setiap percakapan yang dikirimkan turut membentuk persepsi orang lain terhadap profesionalisme seseorang.
Menurut Hendri, kebiasaan berkomunikasi secara jelas, santun, dan proporsional berpotensi membangun citra positif di lingkungan kerja. Sebaliknya, kebiasaan mengirim pesan kasar, menggunakan huruf kapital secara berlebihan, menagih pekerjaan dengan nada agresif, atau memberikan instruksi tanpa konteks dapat menciptakan kesan negatif.
Karena itu, ia mengingatkan para profesional untuk membiasakan diri melakukan evaluasi sederhana sebelum menekan tombol kirim.
Mulai dari memastikan pesan mudah dipahami, memilih kata yang sesuai dengan hubungan kerja, hingga mempertimbangkan apakah pesan tersebut pantas dikirim pada waktu tertentu.
Hendri juga menilai literasi komunikasi digital perlu mendapat perhatian lebih besar, baik di lingkungan pendidikan maupun perusahaan. Menurut dia, pelatihan kesiapan kerja seharusnya tidak hanya membahas pembuatan CV, wawancara kerja, atau keterampilan teknologi, tetapi juga etika berkomunikasi di ruang digital.
Pada akhirnya, Hendri mengingatkan bahwa kesuksesan karier memang dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kompetensi, kinerja, jejaring, hingga kesempatan. Namun, kualitas komunikasi tetap menjadi bagian penting dari cara seseorang bekerja dan dipersepsikan oleh orang lain.
"Keahlian membuat seseorang dibutuhkan. Karakter membuat seseorang dipercaya. Dan dalam dunia kerja yang semakin banyak berlangsung melalui layar, kesantunan sering kali terlihat dari sesuatu yang sangat kecil: cara kita mengetik sebuah pesan sebelum menekan tombol kirim," tulisnya.
Artikel ini merupakan tulisan dari Hendri Pramadya, Dosen Taruna Bakti University.

![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)
![[WANSUS] Walkot Farhan: Upaya Mendongkrak Perekonomian dan Perbaikan SDM](https://image.idntimes.com/post/20260930/whatsapp-image-2026-09-30-at-11_a7be0134-9ab5-4665-a3bc-a96c3fd1f558.jpeg)






![[WANSUS] Wali Kota Bandung, Farhan: Saya dan Erwin Ini "Kawin Paksa"](https://image.idntimes.com/post/20260930/1623741138_477ac10e-1910-46dc-8b2c-56c73a762fc7.jpg)



![[WANSUS] Walkot Farhan: Apakah Sampah Masih Jadi Krisis di Kota Bandung?](https://image.idntimes.com/post/20260930/whatsapp-image-2026-09-30-at-11_4d429f7a-cdb4-4706-a75f-56214f474a67.jpeg)

![[WANSUS] 19 Bulan Farhan Memimpin Bandung: Kota Ini Bergerak, Tapi Belum Selesai](https://image.idntimes.com/post/20260930/1790593077728_bc60df4a-b7e8-46e3-b9b2-8020f84c4b29.jpg)



