Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[WANSUS] Walkot Farhan: Upaya Mendongkrak Perekonomian dan Perbaikan SDM

Kota Bandung
6 min read
[WANSUS] Walkot Farhan: Upaya Mendongkrak Perekonomian dan Perbaikan SDM
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan saat berbicang dengan IDN Times. IDN Times/Debbie Sutrisno
  • Ekonomi Bandung mulai pulih dengan pertumbuhan naik dari 4,99 persen pada 2024 menjadi 5,8 persen, tetapi lapangan kerja masih terbatas dan ketimpangan ekonomi tetap tinggi.

  • Industri manufaktur merosot tajam setelah pabrik pindah dan melakukan PHK; ekonomi kini bertumpu pada jasa, perdagangan, pariwisata, terutama kuliner, serta sektor informal.

  • Pemkot mendorong aktivasi Bandara Husein, promosi pendidikan, olahraga, dan belanja Pasar Baru untuk menarik pengunjung, sambil meningkatkan pendidikan warga sebagai penggerak ekonomi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Pasca COVID-19, perekonomian masih babak belur tak terkecuali di Kota Bandung. Perubahan banyak hal membuat iklim usaha masih belum pulih. Bahkan untuk sektor industri manufaktur di kota ini perlahan mati.

Setelah hampir dua tahun bekerja sebagai orang nomor satu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mencoba berbagai program untuk mengembalikan kondisi perekonomian masyarakat. Lantas seperti langkahnya? IDN Times berkesempatan mewawancarai Muhammad Farhan untuk mendapat informasi itu secara langsung. Berikut hasil wawancaranya:

Bandung seperti apa sekarang dari pandangan bapak setelah 1,5 tahun berjalan?

Saya rasa lebih baik ya. Karena artinya bahwa kita ini sekarang sedang bergerak. Semuanya bangun, bangkit gitu. Enggak ada yang mimpi lagi. Enggak ada yang terdiam lagi, enggak ada yang apatis lagi. E ada masanya kita mengalami apatisme yang luar biasa. Terutama karena ternyata data statistik menunjukkan kita ini belum pulih dari dampak Covid. Clear itu.

Kita masih belum pulih dari dampak Covid. Kita masih sulit mencari pekerjaan. Walaupun pertumbuhan ekonomi positif tetapi pertumbuhan ekonomi kita belum setinggi sebelum masa Covid. Jadi itu menjelaskan segalanya. Kenapa Bandung walaupun pertumbuhannya positif tapi masih sulit mencari kerja. Cuman kesempatan mencari kerjanya tetap ada. Itu.

Apakah sedang berada di jalur yang tepat dalam perekonomiannya?

Insya Allah. Pertumbuhan kita tahun 2024 itu hanya 4,99, sekarang sudah 5,8 selama 1,5 tahun. Jadi artinya kita sedang menuju ke arah sana. Tapi pertanyaannya apakah sudah merata? Belum. Belum bisa. Kita gini rasio kita 0,42 itu mendekati 0,5.

0,42 itu kira-kira bisa dikatakan begini, 40% sumber daya ekonomi di Kota Bandung hanya dikuasai oleh 10% orang. Itu teh wah itu enggak baik itu. Bukan berarti kemudian saya anti orang kaya, enggak. Tapi saya mesti memastikan bahwa setiap profit yang didapatkan oleh dunia usaha itu memberikan benefit kepada warga masyarakat.

Lantas bagaimana membuat pemerataan?

Berbagai macam. Enggak cuman CSR, tapi yang paling penting lapangan pekerjaan. Belum semuanya mampu memberikan lapangan pekerjaan. Kalau kita cek nih sekarang banyak pabrik yang sudah pindah ke luar kota Bandung.

Nah, ini masalah, karena ketika mereka pindah mereka melakukan PHK (pemutusan hubungan kerja). Itu. Sedangkan penggantinya hampir tidak ada. Karena kontribusi industri manufaktur di Kota Bandung itu dari yang 12 persen tahun 2019 sekarang hanya 0,02 persen, kecil sekali. Sekarang dari mana kita hidup? Industri jasa, pariwisata, perdagangan dan lain-lain. Akibatnya orang berebut pekerjaan apa aja lah, lebih banyak masuk ke sektor informal,

Sektor apa yang dirasa paling baik sekarang?

Sekarang ini wisata Kota Bandung yang paling menonjol adalah wisata kuliner. Terlihat dari besaran pajak, pajak restoran dan makanan minuman itu sudah melebihi pajak hotel.

Tapi sekarang juga hotel kan sulit sekali mengembalikan bisnis bisnis MICE. Padahal bisnis MICE ini yang namanya kawinan, konferensi, pameran itu banyak menyediakan pekerjaan harian yang jumlahnya sangat banyak. Nah, ini yang mesti kita kembalikan. Menuju ke arah sana ya kita mesti mengembalikan pertumbuhan ekonomi ke 7,2%. Sudah mengarah ke sana, kita sedang on the way.

Dengan adanya Bandara Husein apa bisa membantu?

Sangat penting. Itu sebabnya hal pertama yang saya sampaikan begitu saya dinyatakan sebagai pemenang adalah kita akan berjuang untuk mengaktifkan kembali Bandara Husein. Problemnya adalah ekspektasi kita begitu tinggi. Tetapi belum tentu sesuai dengan kenyataan. Karena ada satu hal yang sangat berpengaruh yaitu harga. Tahun 2023 kita hanya menghabiskan Rp1,6 juta untuk terbang dari Bandung ke Bali pulang lagi. Sekarang Rp1,6 juta enggak pulang lagi, pergi aja. Harganya naik dua kali lipat.

Pertanyaannya, apakah daya beli masyarakat sudah sampai belum ke sana? Apa yang membuat orang mau datang ke Bandung dan mengeluarkan harga tiket dua kali lipat? Pertanyaannya kan itu, maka kita mesti menciptakan alasan-alasan itu. Nah, salah satu alasan terpenting yang bisa kita sampaikan bahwa sudah datang saja ke Bandung, sok paksain.

Untuk orang bisa datang ke Bandung dengan adanya bandara ini?

Bahwa Bandung punya perguruan tinggi-perguruan tinggi terbaik. Nah, kalau ada orang Medan, Palembang, Padang, Lampung, Surabaya, Balikpapan, Banjarmasin, eh Pontianak, Balikpapan, Pontianak. anak, Makassar, Bali, gitu. Ada anaknya, adiknya, keponakannya diterima di Perguruan Tinggi di Bandung, ya terbang dong. Nah, makanya saya akan mengajak nanti Perguruan Tinggi Perguruan Tinggi di Bandung untuk ikut mempromosikan dan mendorong Perguruan Tinggi di Kota Bandung.

Supaya ekspektasi kita terhadap aktivitas si bandara ini bukan ekspektasi kosong. Karena kondisinya sudah jauh berbeda dengan 3 tahun yang lalu. Gitu kira-kira. Masih ibarat beli tiket sekali jalan aja, Pak. Iya. Datang ke Bandung kuliah. Datang Bandung kuliah. Nah, yang kuliahnya satu orang. Satu orang. Yang ngantarnya? Lima orang, keluarga. Itulah market kita.

Untuk wisatawan internasional?

Kita akan lihat dulu ya. Karena kalau bisa tawar asing alasannya tentu lain. Bukan cuman sekolah. Ada hal lain lagi. Ada daya tariknya. Daya tariknya apa nih? Bandung itu saya lagi menyusul sebuah kita, kita sedang mengurus sebuah konsep yang namanya Bandung Home of Sports. Jadi, kalau sedang olahraga sok ke Bandung.

Mau olahraga apa? Tiasa sadayana. Mau golf, mangga tiasa, mau padel, tiasa, tenis bisa, mau hiking juga ada. Enggak jauh dari Kota Bandung, tapi nginapnya di Bandung ya, gitu. House of Sports. Itu jadi makanya kita sangat rajin menjadi tuan rumah untuk event-event olahraga.

Daya tarik yang lainnya adalah belanja. Nah, Makanya untuk belanja ini saya sangat berharap, saya punya fokus yang lebih terhadap pasar baru karena pasar baru ini branding-nya sudah jadi di mata wisatawan. Pasar baru ini tempat belanja fashion yang berkualitas. Gitu, enggak sudah bukan murah lagi. Kita jangan mau cuman jualan murah berkualitas. Kita harus jualannya berkualitas. Nah, ini yang mesti didorong sehingga ekosistemnya jadi.

Kemarin kan ekosistemnya rusak ya?

Terputus nih ekosistemnya itu mulai dari para pelakunya. Sekarang pedagangnya mulai bangkit lagi. Punya barang yang bagus, sudah mulai terkumpul. Kontrak antara pedagang dengan pengelola pasar. Kontrak pengelola pasar dengan perumda pasar itu juga mesti harus diperbaiki. Kemudian pada saat bersamaan kita juga mulai mempromosikan kepada para tour operator agar yuk bawa wisatawan asing belanja di Pasar Baru.

Dari segi masyarakat apakah bisa juga mendorong perekonomian Bandung?

Pendidikan. Tingkat pendidikan dan kesempatan lama pendidikan. Tingkat pendidikan kita sudah 11 tahun 9 bulan. Jadi tinggal setahun 3 bulan lagi menuju ke 13 tahun. Kalau kita mau menerapkan wajib belajar 13 tahun. Tapi kalau wajib belajar 12 tahun itu tinggal 3 bulan lagi, maka rata-rata warga Kota Bandung sudah lulusan SMA.

Kesempatan untuk sekolahnya sampai berapa tahun? Sudah 14 tahun. Jadi kalau mau ngejar terus minimal D3 aja melulus. Itu. Padahal perguruan tinggi, enggak ada yang disubsidi. Ya. Sampai hari ini belum disubsidi kan? Iya. PTN juga belum gratis kan? Belum.

Sehingga yang terjadi adalah jumlah mahasiswa di Kota Bandung itu sekarang sudah meningkat ke 10 persen populasi. Tadinya 4 persen di tahun awal 2000, sekarang sudah mencapai angka 10 persen.

Dampaknya ke ekonomi bagaimana?

Artinya kita bisa keep up dengan kemajuan. Karena bagaimanapun juga konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah yang membuat pertumbuhan ekonomi itu terjadi. Apakah sudah merata? Nah, ini seperti saya bilang tadi. Gini rasio kita masih tinggi, belum meratakan.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More