Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kemarau 2026 Lebih Kering, Suplai Air Warga Jabar Diprediksi Turun
Armada mobil tangki disiagakan PDAM Makassar untuk menyuplai air bersih ke wilayah terdampak selama pengerjaan koneksi pipa berlangsung. (Dok. PDAM Makassar)
  • BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di Jawa Barat datang lebih awal, lebih kering, dan berlangsung lebih lama dari normal, dengan puncak kekeringan terjadi pada Agustus 2026.
  • Pemerintah daerah dan warga diimbau menghemat air serta menyesuaikan pengelolaan sumber daya agar pasokan air bersih dan sektor pertanian tidak terdampak parah selama kemarau panjang.
  • Disdamkarmat Bandung memperingatkan potensi kebakaran meningkat saat cuaca kering, terutama akibat pembakaran sampah atau kelalaian di dalam bangunan yang bisa memicu penyebaran api cepat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Musim kemarau tahun 2026 di Jawa Barat diprediksi datang lebih awal dan berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal. Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas I Bandung, Teguh Rahayu, berdasarkan analisis dinamika atmosfer dan model prediksi iklim periode normal 1991–2020.

Menurut Teguh, awal musim kemarau di Jawa Barat diperkirakan berlangsung secara bertahap mulai Maret hingga Juni 2026 dengan sebagian besar wilayah mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026.

“Secara umum, sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami sifat hujan bawah normal, dengan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dan durasi kemarau berkisar 13 hingga 15 dasarian, bahkan cenderung lebih panjang dari normal,” kata Teguh melalui siaran pers dikutip, Selasa (17/3/2026).

1. Kekeringan di berbagai wilayah

ilustrasi kekeringan (pexels.com/icon0 com)

Berdasarkan data BMKG, sekitar 56 persen wilayah Jawa Barat diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026. Sementara sekitar 66 persen wilayah diprediksi mengalami awal musim kemarau lebih cepat dibandingkan rata-rata klimatologisnya.

Adapun wilayah yang lebih dahulu memasuki musim kemarau pada Maret 2026 meliputi sebagian kecil wilayah Bekasi dan Karawang. Selanjutnya pada April 2026, musim kemarau diperkirakan meluas ke wilayah Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Indramayu, serta sebagian Cirebon.

Kemudian pada Mei hingga Juni 2026, musim kemarau diprediksi meluas ke sebagian besar wilayah Jawa Barat, termasuk Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung Raya, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Pangandaran, Majalengka, Kuningan, Ciamis hingga Banjar.

BMKG juga mencatat sekitar 93 persen wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami kondisi lebih kering dibandingkan kondisi normal. Selain itu, sekitar 81 persen wilayah diperkirakan mengalami durasi musim kemarau yang lebih panjang.

"Dengan kondisi tersebut, sejumlah potensi dampak perlu diantisipasi sejak dini, di antaranya kekeringan meteorologis, berkurangnya ketersediaan air bersih, gangguan pada sistem irigasi pertanian, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan," kata dia.

2. Warga harus hemat air

Ilustrasi hemat air (unsplash.com/Photo by Luis Tosta)

Oleh karena itu, BMKG mengimbau pemerintah daerah serta masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi, seperti mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air dan menyesuaikan kalender tanam di sektor pertanian.

Informasi prediksi musim ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam perencanaan sektor pertanian, pengelolaan air, serta mitigasi bencana di wilayah Jawa Barat menjelang musim kemarau tahun ini.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Bandung (BPBD), Didi Ruswandi menyebutkan, potensi yang harus diwaspadai selama musim kemarau adalah kekeringan. Kondisi ini dapat berdampak pada ketersediaan air bersih bagi masyarakat apabila musim kemarau berlangsung cukup panjang.

Didi juga mengimbau masyarakat mulai melakukan langkah antisipasi sederhana, salah satunya dengan menghemat penggunaan air.

“Yang paling penting adalah masyarakat bisa menghemat penggunaan air. Jangan sampai penggunaan air berlebihan apalagi jika musim kemarau berlangsung cukup lama,” ujarnya.

3. Waspadai pemicu kebakaran

ilustrasi kebakaran (pexels.com/Pixabay)

Sementara itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung (Disdamkarmatan) Soni Bakhtiar mengingatkan, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai penyebab kebakaran.

Menurutnya, potensi kebakaran saat musim kemarau umumnya lebih banyak terjadi di luar ruangan. Kondisi cuaca yang kering membuat api lebih mudah menyebar, terutama di lahan kosong yang ditumbuhi rumput atau ilalang kering.

“Pada saat kemarau panjang tentu potensi kebakaran akan lebih banyak, terutama yang terjadi di luar ruangan. Namun untuk Kota Bandung sendiri sebenarnya tidak memiliki potensi kebakaran hutan dan lahan karena secara geografis kita tidak memiliki kawasan hutan maupun lahan luas seperti daerah lain,” kata Soni.

Meski demikian, ia menuturkan, sebagian besar kejadian kebakaran justru berasal dari dalam bangunan, bukan dari luar ruangan. Oleh karena itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi kebakaran di lingkungan rumah maupun tempat usaha.

Berdasarkan data Disdamkarmat Kota Bandung, hingga saat ini tercatat 51 kejadian kebakaran di berbagai lokasi di Kota Bandung. Menurut Soni, kondisi ini perlu diwaspadai terutama saat musim kemarau, karena tidak menutup kemungkinan masyarakat membakar tumpukan sampah di lahan terbuka akibat keterbatasan tempat pembuangan.

“Pembakaran sampah di lahan kosong bisa sangat berbahaya. Api bisa merembet ke lingkungan sekitar terutama jika berada dekat permukiman,” ujarnya.

Editorial Team