ilustrasi kebun teh (pexels.com/jason hu)
Wahid mengatakan, hingga November 2025, tiga kelompok usaha itu mencatat omzet sekitar Rp75,6 juta per tahun. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Bandung, H. Marlan menilai pemberdayaan perempuan penting untuk memperluas akses terhadap sumber daya ekonomi, sosial, hingga politik.
Sementara itu, Ketua Srikandi PTPN 1 Regional 2, Mira Sumirah mengatakan pendekatan dialog melalui CDF mulai mengubah pola komunikasi antara pekerja dan perusahaan.
"Kami melihat adanya perubahan sikap dari para pemetik yang menjadi lebih lugas dalam menyampaikan aspirasi kepada atasannya. Demikian juga dengan masyarakat yang tinggal di perkebunan bisa menyampaikan aspirasi dengan baik," tuturnya.
Mira juga menyampaikan, melalui CDF perusahaan semakin memahami kebutuhan para pekerja untuk mendukung produktivitas sekaligus menciptakan ruang kerja yang aman dan nyaman. Salah satu upaya yang dilakukan adalah penyediaan toilet portable di area perkebunan.
Senada dengan itu, Compliance Manager PT. Kabepe Chakra, Muhammad Ridwan, menilai, penguatan partisipasi masyarakat dan perempuan merupakan bagian penting dalam menciptakan tata kelola sosial yang berkelanjutan di lingkungan perkebunan.
"Program ini tidak hanya membentuk forum, tetapi juga memperkuat kepercayaan dan kolaborasi antar pihak," kata dia.