Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kelompok Usaha Bentukan CDF di Bandung Raup Omzet Rp75 Juta
ilustrasi kebun teh (commons.wikimedia.org/Fandi Yogari Saputra/CC BY-SA)
  • Program Community Development Forum (CDF) di Kabupaten Bandung melibatkan 1.812 peserta dari pekerja, masyarakat, dan pemerintah desa untuk memperkuat komunikasi serta perlindungan perempuan dan anak.
  • Melalui CDF, terbentuk tiga Kelompok Usaha Bersama di perkebunan Malabar, Pasir Malang, dan Nagara Kanaan dengan omzet mencapai Rp75,6 juta per tahun hingga November 2025.
  • Inisiatif ini meningkatkan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan dan mendorong perubahan pola komunikasi antara pekerja dan perusahaan menuju lingkungan kerja yang lebih inklusif serta produktif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
2023

Program Community Development Forum (CDF) mulai dijalankan sebagai ruang komunikasi antara pekerja, komunitas, manajemen perkebunan, dan pemerintah desa.

November 2025

Tiga kelompok usaha binaan CDF di Perkebunan Malabar, Pasir Malang, dan Nagara Kanaan mencatat omzet sekitar Rp75,6 juta per tahun.

25 Mei 2026

Diskusi publik bertajuk 'Kolaborasi Multi Pihak dalam Rangka Mewujudkan Perkebunan Teh yang Inklusif, Produktif, dan Berkelanjutan' digelar di Kantor PTPN 1 Regional 2 Kota Bandung untuk membahas pelaksanaan CDF.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Program Community Development Forum (CDF) di Kabupaten Bandung mendorong pembentukan Kelompok Usaha Bersama yang berhasil meraih omzet sekitar Rp75,6 juta per tahun serta meningkatkan partisipasi masyarakat dan perempuan dalam pengambilan keputusan.
  • Who?
    Kegiatan ini melibatkan CARE Indonesia, PTPN 1 Regional 2, pemerintah desa, pekerja perkebunan, masyarakat sekitar, serta tokoh seperti Abdul Wahib Situmorang, H. Marlan, Mira Sumirah, dan Muhammad Ridwan.
  • Where?
    Program berlangsung di kawasan perkebunan teh Kabupaten Bandung, khususnya Desa Banjarsari, Margaluyu, Indragiri, serta dibahas dalam forum di Kantor PTPN 1 Regional 2 Kota Bandung.
  • When?
    CDF mulai dijalankan sejak tahun 2023 dan hingga November 2025 kelompok usaha mencatat omzet tersebut; diskusi publik digelar pada Senin, 25 Mei 2026.
  • Why?
    Inisiatif ini bertujuan memperkuat komunikasi antara pekerja dan perusahaan serta meningkatkan perlindungan perempuan dan anak melalui partisipasi aktif dalam forum komunitas dan kegiatan ekonomi lokal.
  • How?
    Pemberdayaan dilakukan lewat pembentukan forum CDF dan KUBE yang mengelola berbagai usaha seperti warung teh, penjualan gas elpiji, pupuk, kopi, lemon kering, serta pengolahan sayur dan buah di wilayah perkebunan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di Bandung, banyak orang kerja sama bikin kelompok usaha di kebun teh. Ada bapak dan ibu dari desa, pekerja, dan orang perusahaan. Ibu-ibu juga bisa ikut rapat dan punya jabatan penting. Mereka jual teh, kopi, gas, sayur, dan buah. Uangnya sudah banyak sekali, sampai tujuh puluh lima juta rupiah setahun. Sekarang semua orang senang kerja bareng dan tempat kerjanya jadi lebih baik serta aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Program Community Development Forum (CDF) di Kabupaten Bandung menunjukkan kemajuan nyata dalam membangun kolaborasi inklusif antara pekerja, masyarakat, dan perusahaan. Melalui peningkatan partisipasi perempuan hingga posisi kepemimpinan serta terbentuknya kelompok usaha dengan omzet Rp75 juta per tahun, inisiatif ini memperlihatkan tumbuhnya kepercayaan, kemandirian ekonomi lokal, dan komunikasi yang lebih terbuka di lingkungan perkebunan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Program Community Development Forum (CDF) yang berjalan di kawasan perkebunan teh Kabupaten Bandung mulai mendorong keterlibatan masyarakat, khususnya perempuan, dalam forum pengambilan keputusan di lingkungan kerja maupun desa.

Program yang berjalan di Desa Banjarsari, Margaluyu, dan Indragiri ini melibatkan unsur pemerintah desa, perusahaan perkebunan, pekerja, hingga masyarakat sekitar.

Forum tersebut pun turut dibahas dalam diskusi publik bertajuk Kolaborasi Multi Pihak dalam Rangka Mewujudkan Perkebunan Teh yang Inklusif, Produktif, dan Berkelanjutan di Kantor PTPN 1 Regional 2 Kota Bandung, Senin (25/5/2026).

1. Partisipasi komunitas mencapai 1.812 orang

Kebun teh (unsplash.com/yusup rachman)

CEO CARE Indonesia, Abdul Wahib Situmorang mengatakan, CDF mulai dijalankan sejak 2023 sebagai ruang komunikasi antara pekerja, komunitas, manajemen perkebunan, dan pemerintah desa.

Menurut Wahid, forum tersebut juga dipakai untuk memperkuat mekanisme perlindungan perempuan dan anak melalui pembentukan Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (SAPPANA) serta jalur pengaduan di tingkat desa.

"Program ini menunjukkan adanya peningkatan partisipasi komunitas. Sebanyak 1.812 orang terlibat langsung dalam CDF di tiga wilayah perkebunan," kata Wahid.

2. KUBE pun turut dibentuk untuk para pemetik teh

Kebun teh malabar @mayahmad623

Dia menyebut, sebanyak 91,7 persen anggota komunitas merasa memiliki peran dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kesejahteraan mereka. Selain itu, perempuan kini menempati 145 posisi dalam struktur CDF, termasuk 34 posisi kepemimpinan.

Selain forum diskusi, program tersebut juga mendorong pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) di Perkebunan Malabar, Pasir Malang, dan Nagara Kanaan.

Jenis usaha yang dijalankan beragam, mulai dari warung teh, penjualan gas elpiji, pupuk, kopi, lemon kering, hingga pengolahan sayur dan buah.

3. Sikap para petani semakin lugas

ilustrasi kebun teh (pexels.com/jason hu)

Wahid mengatakan, hingga November 2025, tiga kelompok usaha itu mencatat omzet sekitar Rp75,6 juta per tahun. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Bandung, H. Marlan menilai pemberdayaan perempuan penting untuk memperluas akses terhadap sumber daya ekonomi, sosial, hingga politik.

Sementara itu, Ketua Srikandi PTPN 1 Regional 2, Mira Sumirah mengatakan pendekatan dialog melalui CDF mulai mengubah pola komunikasi antara pekerja dan perusahaan.

"Kami melihat adanya perubahan sikap dari para pemetik yang menjadi lebih lugas dalam menyampaikan aspirasi kepada atasannya. Demikian juga dengan masyarakat yang tinggal di perkebunan bisa menyampaikan aspirasi dengan baik," tuturnya.

Mira juga menyampaikan, melalui CDF perusahaan semakin memahami kebutuhan para pekerja untuk mendukung produktivitas sekaligus menciptakan ruang kerja yang aman dan nyaman. Salah satu upaya yang dilakukan adalah penyediaan toilet portable di area perkebunan.

Senada dengan itu, Compliance Manager PT. Kabepe Chakra, Muhammad Ridwan, menilai, penguatan partisipasi masyarakat dan perempuan merupakan bagian penting dalam menciptakan tata kelola sosial yang berkelanjutan di lingkungan perkebunan.

"Program ini tidak hanya membentuk forum, tetapi juga memperkuat kepercayaan dan kolaborasi antar pihak," kata dia.

Editorial Team

Related Article