Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ilustrasi bekal makanan kelas menengah di Bandung. Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil
  • Kelas menengah Jawa Barat mulai menghemat akibat kenaikan harga kebutuhan pokok dan pendapatan stagnan, misalnya lebih sering membawa bekal serta mengurangi makan dan belanja di mal.

  • Ekonom Unpad Ferry Hadiyanto menyebut downgrade lifestyle bukan berhenti rekreasi, melainkan memilih kafe, produk, promosi, atau tempat yang lebih murah demi menekan pengeluaran.

  • BPS Jabar mencatat inflasi Oktober 2026 sebesar 0,20 persen secara bulanan; kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar, dipicu kenaikan harga cabai dan tomat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Sejumlah warga kelas menengah Jawa Barat menurunkan tingkat konsumsi dengan memilih makanan, kafe, dan aktivitas rekreasi yang lebih murah, sambil tetap mempertahankan kegiatan sosial dan waktu luang.
  • Who?
    N. Abdurahman, karyawan swasta asal Kabupaten Bandung; keluarganya; ekonom Universitas Padjadjaran Ferry Hadiyanto; serta BPS Provinsi Jawa Barat yang mencatat perkembangan inflasi.
  • Where?
    Fenomena ini terjadi di Jawa Barat, termasuk pengalaman Abdurahman di Kabupaten Bandung dan pusat perbelanjaan. Inflasi Oktober juga tercatat di berbagai kota, dengan tertinggi di Kota Bogor.
  • When?
    Abdurahman menyampaikan kondisinya pada Rabu, 4 November 2026, setelah mengalami perubahan pengeluaran selama beberapa pekan. BPS Jabar mencatat inflasi sepanjang Oktober 2026.
  • Why?
    Kenaikan harga kebutuhan pokok sementara pemasukan tidak meningkat menekan pengeluaran. Inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau dipengaruhi kenaikan harga cabai rawit, cabai merah, dan tomat.
  • How?
    Warga membawa bekal dari rumah, mengurangi makan dan belanja di mal, memilih kafe lebih murah, mencari promosi atau diskon, serta tetap mengunjungi mal untuk menikmati suasana tanpa banyak belanja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Banyak orang kelas menengah di Jawa Barat jadi lebih hemat karena harga makanan naik. Pak Abdurahman sekarang sering bawa bekal dari rumah. Ia masih pergi ke kafe atau mal, tapi pilih yang lebih murah. Mereka juga lebih jarang belanja dan mencoba menabung. Harga cabai dan tomat ikut naik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah penyesuaian belanja, kelas menengah Jawa Barat menunjukkan kemampuan beradaptasi: membawa bekal, memilih kafe lebih terjangkau, dan memanfaatkan promosi tanpa sepenuhnya meninggalkan waktu bersama keluarga atau teman. Pola ini menjaga ruang untuk rekreasi sekaligus membuat alokasi pendapatan lebih cermat, sementara inflasi Oktober masih berada dalam rentang sasaran terkendali.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Sejumlah kelas menengah di Jawa Barat mulai menghadapi tekanan ekonomi akibat meningkatnya sejumlah harga kebutuhan pokok. Mereka terpaksa harus melakukan penghematan namun tetap dengan memenuhi gaya hidup.

Seperti yang dirasakan, karyawan swasta asal Kabupaten Bandung, N. Abdurahman (32 tahun) yang terpaksa semakin sering membawa bekal dari rumah agar lebih berhemat dan bisa tetap nongkrong bersama teman-temannya di kafe.

Dia mengatakan, perekonomian saat ini memang sedang tidak baik-baik saja. Sejumlah bahan pokok mengalami kenaikan harga, sementara pemasukan tidak mengalami peningkatan.

"Dulu jarang bawa bekal. Sekarang jadi semakin sering karena lumayan hemat yah in this ekonomi," kata Abdurahman kepada IDN Times, Rabu (4/11/2026).

1. 'Downgrade itu, dia mencari harga lebih murah'

Ilustrasi mal. (IDN Times/Indah Permata Sari)

Abdurahman mengungkapkan, kondisi ini juga terjadi saat dirinya bersama keluarga berlibur di akhir pekan yang memilih untuk tetap makan di rumah, dibandingkan di pusat perbelanjaan modern. Kondisi ini sudah dialaminya sejak beberapa pekan kemarin.

"Kami yang biasanya setiap Minggu keluar ke mal untuk makan dan belanja, sekarang rada berkurang. Kalau ke mal ya jalan-jalan saja sambil menikmati RTH-nya," kata dia.

Apa yang dialami oleh Abdurahman ini merupakan salah satu fenomena downgrade lifestyle atau penurunan tingkat konsumsi. Ekonom Universitas Padjadjaran (Unpad), Ferry Hadiyanto mengatakan, fenomena ini tidak selalu berarti masyarakat berhenti mengonsumsi atau mengurangi aktivitas rekreasi secara drastis.

Menurutnya, kelas menengah justru mempertahankan kegiatan yang memberikan kesenangan, tetapi mengganti pilihan produk maupun tempat dengan alternatif yang lebih terjangkau.

"Downgrade itu, dia mencari harga lebih murah. Kalau perlu, bawa makanan dari rumah," kata Ferry.

2. Tetap nongkrong, tetapi mencari kafe yang lebih murah

Ilustrasi mal (IDN Times/Yogie Fadila)

Ferry menjelaskan, masyarakat mulai menyesuaikan pengeluaran untuk mempertahankan aktivitas yang mereka sukai. Salah satu contohnya terlihat dari kebiasaan mengunjungi kafe.

Jika sebelumnya seseorang terbiasa mengeluarkan Rp50 ribu untuk sekali nongkrong, kini ia bisa beralih ke tempat dengan harga sekitar Rp25 ribu. Aktivitasnya tetap sama, tetapi biaya yang dikeluarkan lebih rendah.

Menurut Ferry, perubahan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan rekreasi. Mereka melakukan penyesuaian agar tetap memperoleh kesenangan atau leisure dengan pengeluaran yang lebih efisien.

"Pola serupa juga dapat terjadi ketika masyarakat berkunjung ke pusat perbelanjaan. Mereka tetap datang ke mal, tetapi lebih selektif dalam berbelanja dan memilih waktu ketika ada promosi atau diskon," katanya.

3. Bawa bekal dari rumah, tetapi tetap menikmati suasana mal

Ilustrasi mal (IDN Times/Athif Aiman)

Perubahan gaya hidup juga terlihat dari cara masyarakat menikmati ruang publik. Ferry mencontohkan pengunjung yang datang ke pusat perbelanjaan untuk duduk-duduk dan menikmati suasana, tetapi membawa makanan atau minuman sendiri dari rumah.

Dengan cara tersebut, mereka masih bisa menikmati waktu luang tanpa harus mengeluarkan uang untuk makan dan minum di tempat.

Menurut Ferry, konsep konsumsi saat ini tidak semata-mata berorientasi pada pembelian barang. Pengalaman, suasana, dan kenangan juga menjadi bagian dari aktivitas yang dicari masyarakat.

Lebih lanjut, Ferry mengingatkan pentingnya menjaga kemampuan menabung kelompok kelas menengah. Menurut dia, tabungan masyarakat menjadi salah satu sumber pembiayaan investasi yang dibutuhkan untuk menopang perekonomian.

Ia menilai masyarakat perlu lebih cermat mengalokasikan pendapatan, terutama dengan mengurangi pengeluaran sekunder dan tersier yang tidak mendesak.

"Harapan kita itu tabungan untuk investasi berasal dari golongan menengah ke atas," ujarnya.

Ferry juga mengomentari kenaikan inflasi yang berpotensi menekan daya beli. Jika harga kebutuhan terus meningkat, ruang bagi masyarakat untuk menyisihkan pendapatan bisa semakin terbatas.

Sementara, BPS Jabar mencatat sepanjang Oktober 2026, inflasi month-to-month (m-to-m) sebesar 0,20 persen. Sementara itu, inflasi year-to-date (y-to-d) berada di level 2,31 persen dan inflasi year-on-year (y-on-y) tercatat 2,90 persen.

"Meskipun mengalami sedikit kenaikan dibanding tahun sebelumnya, capaian ini masih berada dalam rentang sasaran target yang terkendali. Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang andil inflasi terbesar pada bulan ini, yakni sebesar 0,12 persen dengan inflasi kelompok 0,41 persen," ujar Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, baru-baru ini.

Komoditas utama yang mendominasi kenaikan harga meliputi cabai rawit, cabai merah, dan tomat, yang dipicu oleh keterbatasan pasokan akibat musim kemarau panjang serta serangan hama patek pada tanaman hortikultura.

"Di sisi lain, laju inflasi berhasil diredam oleh penurunan harga daging ayam ras dan telur ayam ras akibat pasokan yang melimpah, serta emas perhiasan yang mengekor tren penurunan harga emas di pasar global. Menariknya, harga beras yang sempat menjadi momok inflasi dalam beberapa bulan sebelumnya, kini mulai menunjukkan tren penurunan pada Oktober 2026," kata Ari.

Secara spasial, inflasi m-to-m tertinggi terjadi di Kota Bogor sebesar 0,35 persen, sedangkan Kota Bandung mencatatkan inflasi terendah sebesar 0,08 persen.

Curated For You

Editorial Team

Related Article