Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Harga Tepung Aci di Jabar Naik 30 Persen, UMKM Kuliner Terjepit

Kota Bandung
4 min read
Harga Tepung Aci di Jabar Naik 30 Persen, UMKM Kuliner Terjepit
Ilustrasi penjual tepung tapioka/aci di Pasar Kosambi, Kota Bandung. Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil
  • Harga tepung tapioka di Jawa Barat naik hampir 30 persen menjadi Rp16.000–Rp18.000 per kilogram, menekan pelaku UMKM kuliner seperti pedagang cilok dan cireng.

  • Produksi singkong menurun akibat cuaca ekstrem dan belum meratanya panen raya, sementara harga singkong petani naik dari sekitar Rp700 menjadi Rp3.000 per kilogram.

  • Pemprov Jabar memantau harga, pasokan, dan distribusi untuk mencegah penimbunan; pedagang melaporkan kenaikan harga aci, makanan olahan, serta penurunan fokus pembeli.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Kenaikan harga tepung tapioka atau aci sangat berdampak langsung terhadap pelaku UMKM di Jawa Barat. Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat, menyatakan kenaikan ini terjadi hampir di seluruh kabupaten dan kota.

Kepala DKPP Jawa Barat, Linda Al Amin mengatakan, berdasarkan informasi dan laporan yang didapatkan di sejumlah pasar wilayah Jabar, kenaikan harga tepung tapioka mencapai 30 persen dari harga normalnya.

"Lonjakan harga tepung aci yang saat ini menembus Rp16.000 hingga Rp18.000 per kilogram atau naik hampir 30 persen dari semula Rp10.000–Rp14.000 per kilogram sangat disoroti karena membebani UMKM kuliner lokal (pedagang cilok, cireng, dan sejenisnya)," kata Linda saat dikonfirmasi, Rabu (4/11/2026).

  1. 1. Panen singkong terdampak cuaca ekstrem

    IMG-20261104-WA0025.jpg
    Ilustrasi penjual tepung tapioka/aci di Pasar Kosambi, Kota Bandung. Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil

    Menurutnya, ada beberapa faktor pemicu molanjaknya harga tepung tapioka tersebut. Salah satunya produksi panen dari petani singkong yang mengalami penurunan karena terdampak cuaca ekstrem.

    Cuaca ekstrem yang sudah terjadi sejak beberapa pekan kemarin, kata Linda, membuat masa panen singkong berbuah di setiap daerah. Akibatnya, produksi tepung mengalami penurunan.

    "Faktor utamanya adalah merosotnya produksi singkong bahan baku dikarenakan belum semua daerah memasuki masa panen raya, musim kemarau berpotensi mengurangi ketersediaan bahan baku singkong yang menyebabkan kondisi pabrik tapioka kesulitan mendapatkan singkong dalam jumlah cukup," kata dia.

  2. 2. Pemprov Jabar lakukan pemantauan harga

    IMG-20261104-WA0022.jpg
    Ilustrasi penjual kerupuk di Pasar Kosambi, Kota Bandung. Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil

    Mengacu dari data Kementerian Pertanian pada 28 Oktober 2026, harga singkong petani yang sebelumnya sekitar Rp700 per kilogram telah meningkat menjadi sekitar Rp3.000 per kilogram. Linda mengatakan, pemerintah saat ini memperketat impor untuk menjaga ketersediaan.

    "Kenaikan harga singkong tersebut dapat meningkatkan biaya produksi tepung tapioka, sehingga pemerintah memperketat impor singkong dan tepung tapioka untuk melindungi petani lokal," tuturnya.

    Kendati begitu, Linda menilai, kebijakan itu memang baik untuk meningkatkan penyerapan singkong petani dalam negeri, namu perlu diimbangi dengan kecukupan produksi dan kelancaran distribusi agar kebutuhan industri tetap terpenuhi.

    "Pemprov Jabar akan melakukan pemantauan harga singkong dan tapioka dari produsen sampai pasar, kemudian pengamanan pasokanuntuk memastikan stok pabrik dan distributor tersedia, dan pengawasan distribusi untuk mencegah penimbunan dan permainan harga," kata Linda.

  3. 3. Pedagang dan pelaku UMKM menjerit

    Ilustrasi UMKM (ANTARA FOTO/Fauzan)
    Ilustrasi UMKM (ANTARA FOTO/Fauzan)

    Pedagang tepung tapioka di Pasar Kosambi, Kota Bandung membenarkan soal kenaikan harga tersebut. Salah satu pedagang, Sutiana (60 tahun) mengatakan, harga jual tepung tapioka sudah mencapai Rp19.000 per kilogram. Dia menduga hal ini akibat banyak petani singkong gagal panen.

    "Kayaknya akibat gagal panen, atau produksinya sedikit gitu (penyebab naiknya tepung tapioka)," katanya saat ditemui di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Rabu, (4/11/2026).

    Sutisna mengungkapkan, kondisi tersebut telah berdampak terhadap permintaan konsumen. Hal ini juga berdampak langsung terhadap harga kerupuk di mana peningkatnya mencapai 100 persen.

    "Permintaan mah ada, cuman harganya naik, yang beli juga enggak fokus gitu. Kaya yang bikin kerupuk, malah sekarang naiknya Rp20.000 per bal, naiknya 100 persen," ungkapnya.

    Setali tiga uang, Wasitah (57 tahun), pedagang aneka makanan ringan di Pasar Balubur Town Square, Kota Bandung merasakan langsung dampak kenaikan harga makanan ringan akibat melonjaknya harga aci.

    Harga aci yang sebelumnya dibeli sekitar Rp280 ribu per karung dengan berat 25 kilogram, kini melonjak menjadi Rp400 ribu lebih. Sementara itu, harga jual eceran per kilogram yang semula Rp14 ribu kini mencapai Rp18 ribu.

    "Biasanya itu cuma Rp280 ribu lebih, sekarang sudah Rp400 ribu lebih harganya. Bulan-bulan ini saja naiknya. Satu kilo aci biasanya jual Rp14 ribu, sekarang jadi Rp18 ribu," ujar Wasitah, Senin (2/11/2026).

    "Kenaikan pertama kalau enggak salah mendekati Rp10 ribu. Berikutnya naik lagi, malah lebih dari Rp10 ribu. Sekarang totalnya sampai meledak begini harga aci," katanya.

    Mahalnya bahan baku tersebut berimbas terhadap harga sejumlah makanan olahan aci. Harga cipuk dari pemasok, misalnya, naik dari Rp8.000 menjadi Rp9.500.

    Kenaikan serupa terjadi pada otak-otak. Untuk ukuran kecil, harga dari pemasok kini mencapai Rp5.000 dan dijual kembali Rp5.500. Adapun ukuran besar dibeli Rp6.000 dan dipasarkan Rp6.500.

    Tekanan biaya pembelian juga dirasakan pada komoditas lain. Harga makaroni meningkat dari Rp198 ribu menjadi Rp210 ribu per bal. Meski demikian, harga basreng dan kerupuk sejauh ini masih bertahan.

    "Jadi yang tadinya seporsi sekian, sekarang ditambahin harga atau dikurangin sedikit. Takut yang beli pada komplain kemahalan," katanya.

Related Articles

See More