Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Jelang Kenaikan Harga Minyakita, Pedagang Keluhkan Minimnya Suplai

Jelang Kenaikan Harga Minyakita, Pedagang Keluhkan Minimnya Suplai
Penjualan Minyakita di Pasar Kosambi Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno
Intinya Sih
  • Pemerintah berencana menaikkan Harga Eceran Tertinggi (HET) Minyakita karena lonjakan harga bahan baku seperti minyak sawit, plastik, dan bahan dasar lainnya.
  • Pedagang di pasar tradisional mengeluhkan minimnya suplai Minyakita dari distributor dan Bulog, membuat stok langka meski modal pembelian tersedia.
  • Harga jual Minyakita di lapangan sudah melebihi HET akibat harga dari suplier yang tinggi, memaksa pedagang menjual hingga sekitar Rp21 ribu per liter.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Bandung, IDN Times - Pemerintah bakal menaikkan harga eceran tertinggi (HET) untuk Minyakita yang dijual pada masyarakat. Kenaikan tersebut karena harga bahan baku minyak sawit, plastik, hingga bahan dasarnya juga alami lonjakan harga.

Meski demikian, di sisi pedagang tingkat bawah seperti di pasar tradisional, keberadaan Minyakita masih menjadi hal gaib. Sebab, tidak banyak pedagang yang memperjualbelikan saking minimnya suplai dari distributor termasuk Bulog.

Bendi, salah satu pedagang di Pasar Kosambi menuturkan, selama ini dia tidak pernah dapat banyak suplai Minyakita. Bahkan ketika ada pengiriman saja dia hanya dapat beberapa saja padahal dia sanggup membeli jika memang disediakan.

"Kalau modal buat belinya ada. Misal, barangnya datang saya siap beli. Tapi kan sekarang barangnya memang susah di pasar, kalau dari Bulog juga turun ke pasar sekarang saya ga dapat," ujar Bendi, Jumat (5/6/2026).

1. Masyarakat butuh minyak terjangkau

IMG_20260605_101446.jpg
Penjualan Minyakita di Pasar Kosambi Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Dia menuturkan, selama ini juga mendapatkan Minyakita dari suplier lain di luar Bulog. Dengan harga eceran yang seharusnya dijual Rp15.700 per liter, dia sekarang menjual Rp21 ribu per liter.

Hal tersebut karena barang dari distributornya pun sudah lebih mahal dari HET jual yang ditetapkan pemerintah. Alhasil Bendi pun harus menaikkan harga jual pada konsumen.

"Dari sana sudah mahal ya kita juga jualnya jadi di atas HET pemerintah. Memang di wadahnya masih ditulis Rp15.700 per liter, tapi kan kita belinya saja sudah di atas ini," ungkap Bendi.

2. Harga dari suplier sudah tinggi

IMG_20260605_102708.jpg
Penjualan Minyakita di Pasar Kosambi Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Pedagang lainnya, Iis mengalami hal serupa di mana Minyakita yang dia dapat harganya sudah berada di atas HET harga jual. Kondisi tersebut memaksanya untuk menjual minyak per liter di kisara Rp21 ribu.

Dia sudah tahu akan ada kenaikan harga jual Minyakita di pasaran sehingga konsumen yang selama ini menjadi langganan pun sudah diinfokan lebih dulu.

"Sudah tahu mau naik, ya kita tunggu saja kalau suplainya dapat murah kita jual juga pasti murah ga mungkin dimahalin," papar Iis.

Dia pun memilih untuk memperbanyak stok minyak dengan merek lain yang memang harganya jauh lebih mahal tapi kualitasnya tetap bagus.

3. Kenaikan harga masih tunggu kepastian

IMG_20260605_102020.jpg
Penjualan Minyakita di Pasar Kosambi Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Sebelumnya, Pemerintah berencana menaikkan Harga Eceran Tertinggi (HET) MinyaKita. Hal itu disepakati setelah pemerintah menggelar rapat koordinasi yang dipimpin Kementerian Koordinator (Kemenko) Pangan.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan penyesuaian HET MinyaKita akan dilakukan setelah pemerintah mencermati perkembangan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang masih bergerak fluktuatif.

"Menindaklanjuti rapat sebelumnya dalam rakor Menko Pangan di kantor Kemenko Pangan, jadi hari ini kita menyepakati akan menaikkan Harga Eceran Tertinggi untuk MinyaKita," katanya dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Budi menjelaskan, rencana kenaikan HET MinyaKita dilakukan karena pemerintah melihat adanya perubahan pada pergerakan harga CPO dan tandan buah segar (TBS).

Menurut dia, harga CPO sebelumnya sempat berada di rata-rata Rp15.445 sebelum turun ke kisaran Rp14.000-an. Sementara itu, harga TBS juga sempat mengalami penurunan sebelum kembali bergerak naik.

Share Article
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha

Latest News Jawa Barat

See More