Ilustrasi UMKM (ANTARA FOTO/Fauzan)
Pedagang tepung tapioka di Pasar Kosambi, Kota Bandung membenarkan soal kenaikan harga tersebut. Salah satu pedagang, Sutiana (60 tahun) mengatakan, harga jual tepung tapioka sudah mencapai Rp19.000 per kilogram. Dia menduga hal ini akibat banyak petani singkong gagal panen.
"Kayaknya akibat gagal panen, atau produksinya sedikit gitu (penyebab naiknya tepung tapioka)," katanya saat ditemui di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Rabu, (4/11/2026).
Sutisna mengungkapkan, kondisi tersebut telah berdampak terhadap permintaan konsumen. Hal ini juga berdampak langsung terhadap harga kerupuk di mana peningkatnya mencapai 100 persen.
"Permintaan mah ada, cuman harganya naik, yang beli juga enggak fokus gitu. Kaya yang bikin kerupuk, malah sekarang naiknya Rp20.000 per bal, naiknya 100 persen," ungkapnya.
Setali tiga uang, Wasitah (57 tahun), pedagang aneka makanan ringan di Pasar Balubur Town Square, Kota Bandung merasakan langsung dampak kenaikan harga makanan ringan akibat melonjaknya harga aci.
Harga aci yang sebelumnya dibeli sekitar Rp280 ribu per karung dengan berat 25 kilogram, kini melonjak menjadi Rp400 ribu lebih. Sementara itu, harga jual eceran per kilogram yang semula Rp14 ribu kini mencapai Rp18 ribu.
"Biasanya itu cuma Rp280 ribu lebih, sekarang sudah Rp400 ribu lebih harganya. Bulan-bulan ini saja naiknya. Satu kilo aci biasanya jual Rp14 ribu, sekarang jadi Rp18 ribu," ujar Wasitah, Senin (2/11/2026).
"Kenaikan pertama kalau enggak salah mendekati Rp10 ribu. Berikutnya naik lagi, malah lebih dari Rp10 ribu. Sekarang totalnya sampai meledak begini harga aci," katanya.
Mahalnya bahan baku tersebut berimbas terhadap harga sejumlah makanan olahan aci. Harga cipuk dari pemasok, misalnya, naik dari Rp8.000 menjadi Rp9.500.
Kenaikan serupa terjadi pada otak-otak. Untuk ukuran kecil, harga dari pemasok kini mencapai Rp5.000 dan dijual kembali Rp5.500. Adapun ukuran besar dibeli Rp6.000 dan dipasarkan Rp6.500.
Tekanan biaya pembelian juga dirasakan pada komoditas lain. Harga makaroni meningkat dari Rp198 ribu menjadi Rp210 ribu per bal. Meski demikian, harga basreng dan kerupuk sejauh ini masih bertahan.
"Jadi yang tadinya seporsi sekian, sekarang ditambahin harga atau dikurangin sedikit. Takut yang beli pada komplain kemahalan," katanya.