Biji plastik impor (IDN Times/Azzis Zulkhairil)
Langkah terakhir yang bisa dilakukan untuk menekan kenaikan harga plastik dan juga bahan baku, Nining menyarankan agar para pelaku usaha memiliki inisiatif untuk menyesuaikan dengan kebutuhan pasar. Misalnya, bisa dengan mengurangi ketebalan plastik.
"Kemudian yang berikutnya yang kami lakukan adalah mendorong pelaku usaha untuk melakukan penyesuaian berkaitan misalnya kemasan plastik sekarang ketebalannya dipertipis sehingga bisa lebih murah dalam biaya produksinya," katanya.
Selain itu, pengusaha bisa menggunakan alternatif bahan lain selain biji plastik murni dengan yang daur ulang. Langkah tersebut menurut Nining bisa dilakukan dalam situasi seperti saat ini.
"Kami mendorong recycle plastik di mana sebenarnya sudah ada industri yang saat ini me-recycle plastik yang ada untuk kemudian diproduksi kembali dengan kualitas yang cukup baik. Itu juga kami akan mendorong untuk mereka bisa ditingkatkan produksinya," tuturnya.
Tidak kalah penting dalam situasi ini yaitu bahan organik. Nining menjelaskan, bahan tersebut sebelumnya sudah banyak digunakan dengan kualitas baik, namun harga jual memang tengah tinggi. Saat ini, hal tersebut bisa menjadi momentum untuk bersaing.
"Selama ini kami sering melihat plastik yang terbuat dari jagung kemudian dari singkong, tapi waktu itu harganya lebih mahal dibanding plastik yang konvensional. Dengan posisi sekarang ini harga plastik yang cukup tinggi, kemungkinan nanti mereka bisa berkompetisi," jelasnya.
Bagi masyarakat, Nining mengimbau, bisa memilih menggunakan cara alternatif lainnya yaitu membawa tas belanjanya sendiri.
"Kami mendorong adanya transformasi model konsumsi. Cukup baik juga apabila kemudian masyarakat membawa sendiri kantong plastik atau kemudian mereka menerapkan refill reduce," kata dia.