Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Harga Plastik Naik, Daun Jati-Pisang Jadi Solusi di Cirebon

Harga Plastik Naik, Daun Jati-Pisang Jadi Solusi di Cirebon
ilustrasi daun jati (pexels.com/homesh)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Pemerintah Kabupaten Cirebon mengimbau warga kurangi plastik sekali pakai akibat harga naik dan meningkatnya persoalan sampah, dengan ajakan beralih ke bahan ramah lingkungan.
  • Pemkab menyoroti kearifan lokal seperti penggunaan daun jati dan daun pisang sebagai pembungkus makanan alami yang mudah terurai serta mendukung pengurangan sampah plastik.
  • Sebanyak 40 titik sampah liar telah dipetakan di wilayah Cirebon untuk memperkuat penanganan sampah secara lebih terarah, melibatkan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Cirebon, IDN Times - Pemerintah Kabupaten Cirebon mengajak masyarakat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai seiring kenaikan harga bahan tersebut dan meningkatnya persoalan sampah.

Wakil Bupati Cirebon, Agus Kurniawan Budiman, menegaskan persoalan sampah plastik kini menjadi isu mendesak yang membutuhkan keterlibatan semua pihak.

Pemerintah daerah, kata dia, melihat momentum kenaikan harga plastik sebagai peluang untuk mengubah perilaku masyarakat agar lebih ramah lingkungan.

“Kami mengimbau masyarakat untuk mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Persoalan sampah sudah menjadi isu serius dan tidak bisa ditangani sendiri oleh pemerintah,” ujarnya, Sabtu (11/4/2026).

1. Harga plastik naik, tekanan ke pedagang

nasi jamblang cirebon
nasi jamblang cirebon

Agus mengatakan, lonjakan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir mulai dirasakan oleh pelaku usaha, khususnya pedagang makanan skala kecil.

Kondisi ini, menurutya, berdampak langsung pada biaya operasional, karena plastik selama ini menjadi pilihan utama untuk kemasan praktis dan murah.

"Ini seperti titik balik bagi pelaku usaha untuk beralih ke bahan pembungkus alternatif yang lebih ekonomis sekaligus ramah lingkungan," ujarnya.

Selain mengurangi ketergantungan terhadap plastik, langkah ini juga dinilai dapat menekan beban biaya di tengah fluktuasi harga bahan baku.

Agus menyebutkan, perubahan ini tidak harus dimulai dari langkah besar. “Mulai dari hal sederhana, seperti mengganti bungkus plastik dengan bahan alami, itu sudah memberi dampak signifikan jika dilakukan secara bersama,” katanya.

2. Kearifan lokal jadi solusi

Potret daun pisang
Potret daun pisang (pexels.com/Maksim Goncharenok)

Pemkab Cirebon menilai masyarakat sebenarnya telah memiliki solusi yang selama ini terabaikan, yakni penggunaan bahan alami seperti daun jati dan daun pisang.

Dalam tradisi kuliner lokal, praktik tersebut bukan hal baru dan telah digunakan secara turun-temurun.

Agus menyebutkan, penggunaan daun sebagai pembungkus makanan dinilai memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari mudah terurai hingga memberikan nilai tambah pada cita rasa makanan.

Salah satu contoh yang kerap dijumpai adalah nasi jamblang yang identik dengan bungkus daun jati.

“Sebetulnya kami punya kearifan lokal yang bisa dimanfaatkan kembali. Daun jati atau daun pisang mudah didapat dan lebih ramah lingkungan,” ujar Agus.

Ia menambahkan, mengubah kebiasaan lama ini dapat menjadi bagian dari solusi jangka panjang dalam mengurangi timbulan sampah plastik, tanpa harus bergantung sepenuhnya pada teknologi baru.

3. Ada 40 titik sampah liar terpetakan

Keberadaan TPS liar di tanah merah Cipayung, Kota Depok. (IDNTimes/Dicky)
Keberadaan TPS liar di tanah merah Cipayung, Kota Depok. (IDNTimes/Dicky)

Di sisi lain, lanjut Agus. pemerintah daerah mulai memperkuat langkah penanganan sampah melalui pemetaan lokasi pembuangan liar. Hasil pendataan sementara menunjukkan terdapat sedikitnya 40 titik sampah liar yang tersebar di wilayah Kabupaten Cirebon.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 22 titik berada di kawasan barat, sementara 18 titik lainnya tersebar di wilayah timur. Data ini menjadi dasar bagi pemerintah untuk menentukan langkah penanganan yang lebih terarah dan sistematis.

“Kami sudah memetakan titik-titik sampah liar sebagai bagian dari upaya penanganan yang lebih terstruktur,” kata Agus.

Agus berharap masyarakat dapat mulai beradaptasi dengan kebiasaan baru yang lebih ramah lingkungan.

"Jika dilakukan bersama-sama, dampaknya akan besar terhadap pengurangan sampah. Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita semua,” ujarnya.

Share
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More