Harga Daging Ayam Potong Melambung, Telur Masih Stabil

- Harga ayam potong di Pasar Cihapit Bandung naik menjadi Rp48 ribu per kg, dari sekitar Rp38 ribu sebelum program makan bergizi gratis kembali berjalan, sehingga penjualan menurun.
- Harga telur di Bandung stabil di kisaran Rp26 ribu per kg, setelah sempat turun menjadi Rp23 ribu saat libur program MBG dan sekolah.
- Inflasi Jawa Barat pada Mei 2026 tercatat 0,24 persen bulanan dan 3,07 persen tahunan; kenaikan pangan-energi tertahan deflasi telur serta daging ayam.
Bandung, IDN Times - Harga ayam potong mengalami lonjakan harga usai program makan bergizi gratis (MBG) kembali bergulir. Di sejumlah pasar pedagang mengeluhkan kenaikan ini yang membuat penjualan menurun.
Salah satu pedagang adalah Yeti yang berjualan di Pasar Cihapit, Kota Bandung. Menurutnya, harga ayam potong per kilogram (kg) sekarang mencapai Rp48 ribu.
"Sebelum MBG jalan lagi ini paling Rp38 ribu per kg, sekarang naik terus setiap hari," kata dia, Jumat (31/7/2026).
1. Harga harusnya bisa ditekan

Menurutnya, harga untuk daging fillet juga alami kenaikan bisa mencapai Rp50 ribu per kg. Angka tersebut meningkat karena memang dari supliernya juga naik sehingga tidak bisa ditekan di pasar tradisional.
Dia pun berharap harga sembako seperti ayam potong bisa ditekan oleh pemerintah daerah sehingga masyarakat tidak menurunkan minat belinya.
"Kalau kita ma ya dagang saja, tapi emang pas MBG libur itu harga turun. Tapi pas sekolah masuk lagi harga naik lagi," papar Yeti.
2. Telur di kisaran Rp26 ribu per kg.

Sementara itu, Eko, salah satu pedagang telur dan sayuran mengatakan bahwa harga telur sekarang mulai stabil Rp26 ribu per kg. Sebelumnya harga telur memang sempat turun mencapai Rp23 per kg ketika program MBG diliburkan seiring dengan libur sekolah.
Eko menilai bahwa harga telur bisa saja meningkatk kembali ke Rp29 ribu hingga Rp30 ribu per kg ketika MBG semakin banyak menggunakan telur sedangkan suplai dari peternak menurun.
"Harapannya ma ya stabil lah di harga ini," kata dia.
3. Inflasi masih terkendali

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Barat pada Mei 2026 tetap terkendali. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, inflasi tercatat sebesar 0,24 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm). Sementara secara tahunan, inflasi Jawa Barat mencapai 3,07 persen year-on-year (yoy).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Junanto Herdiawan mengatakan, capaian inflasi tahunan di Jawa Barat masih sedikit lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang berada di angka 3,08 persen (yoy).
Secara bulanan, inflasi di Jawa Barat dipengaruhi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan dan energi. Komoditas dengan andil inflasi tertinggi yakni cabai merah sebesar 0,06 persen dan bawang merah 0,05 persen. Selain itu, minyak goreng menyumbang inflasi sebesar 0,04 persen, bahan bakar rumah tangga 0,03 persen, dan bensin 0,02 persen.
Di sisi lain, tekanan inflasi tertahan oleh sejumlah komoditas yang mengalami deflasi. Telur ayam menjadi penyumbang deflasi terbesar sebesar minus 0,07 persen, diikuti emas perhiasan dan daging ayam masing-masing minus 0,06 persen. Sementara itu, bawang putih dan tomat turut memberikan andil deflasi sebesar minus 0,02 persen.


















