Habib Jafar Soroti Empati dan Arti Rezeki di Ramadan

- Acara Ramadan Baik Bersama Katadata menghadirkan Husein Jafar Al Hadar yang mengajak audiens menata ulang makna rezeki, empati, dan kekayaan hati di tengah gaya hidup urban selama Ramadan.
- Husein Jafar menekankan bahwa puasa seharusnya melatih empati dan kesadaran berbagi, sementara rezeki sejati tidak selalu berupa materi, melainkan kesehatan, waktu, iman, serta kehadiran bagi sesama.
- CCO Katadata Heri Susanto menyoroti zakat sebagai investasi sosial berkelanjutan yang memperkuat nilai memberi dalam Islam, didukung data peningkatan tren donasi digital setiap Ramadan.
Bandung, IDN Times - Ramadan sering dimaknai sebagai bulan menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Namun di tengah kekhusyukan itu, realitas sosial justru memperlihatkan meningkatnya konsumsi dan gaya hidup yang kian ekspresif selama bulan suci.
Fenomena tersebut menjadi latar diskusi dalam rangkaian Ramadan Baik Bersama Katadata yang digelar di Taman Literasi Blok M, Jakarta Selatan, Kamis (26/2/2026). Mengangkat tema Jadi Muslim Kaya Hati, Bukan cuma Kaya Materi, acara ini menghadirkan penulis sekaligus pendakwah Husein Jafar Al Hadar.
Kegiatan yang berlangsung menjelang berbuka puasa itu mengajak audiens menata ulang cara memandang rezeki, kepemilikan, dan makna hidup. Ramadan tidak sekadar ritual tahunan, melainkan ruang refleksi untuk menimbang kembali apa arti cukup dan apa arti berbagi.
Dalam suasana santai namun reflektif, diskusi berkembang dari pengalaman personal hingga fenomena sosial masyarakat urban. Pesan yang mengemuka sederhana, tetapi relevan: menjadi kaya hati sering kali lebih menantang dibanding mengejar kaya materi.
1. Empati lahir dari rasa lapar

Husein Jafar menekankan bahwa puasa seharusnya melatih empati, bukan hanya menahan diri secara fisik. “Puasa membuat kita merasakan lapar dan haus. Dari situ empati tumbuh. Kita jadi paham betapa beratnya menjadi orang yang kekurangan, dan karena itu kita diajak untuk tidak membiarkan orang lain merasakannya sendirian,” ujarnya, dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, Ramadan adalah momentum untuk keluar dari pusat diri sendiri. Praktik berbagi, kata dia, tidak boleh berhenti pada simbol atau seremoni, tetapi mesti lahir dari pengalaman empatik yang nyata dan kesadaran untuk hadir bagi sesama.
Ia juga mengingatkan bahwa kekayaan sejati tidak berhenti pada angka di rekening. “Sering kali masalahnya bukan pada harta tetapi pada mentalnya. Kekayaan sejati itu kekayaan mental, kekayaan hati,” ujar Husein Jafar.
2. Rezeki tak selalu berbentuk materi

Dalam tausiah tersebut, Husein Jafar mengajak audiens memperluas makna rezeki. “Rezeki itu tidak selalu harta. Kesehatan, waktu luang, dan iman adalah rezeki yang nilainya jauh lebih tinggi dari materi,” katanya.
Di tengah ritme kehidupan urban yang serba cepat, ia menyoroti bahwa kehadiran menjadi hal yang kian langka.
“Banyak keluarga bahagia bukan karena diberi uang, tapi karena diberi waktu. Kehadiran itu rezeki yang paling dibutuhkan hari ini,” tuturnya.
Ramadan, lanjutnya, menjadi kesempatan untuk menata ulang cara berpikir tentang sukses dan rasa cukup. Kepemilikan tanpa kesiapan mental justru berpotensi melahirkan kecemasan, perbandingan sosial, hingga dorongan pamer yang melelahkan.
3. Zakat sebagai investasi sosial berkelanjutan

Dalam kesempatan yang sama, CCO Katadata, Heri Susanto, menegaskan bahwa tema kaya hati diangkat sebagai refleksi atas kecenderungan masyarakat modern yang mengukur nilai diri dari capaian materi. Ia mengutip Al-Baqarah ayat 245 untuk menegaskan bahwa memberi bukanlah kehilangan:
“Sedekah dan zakat tidak membuat kita rugi. Justru Allah SWT menjanjikan balasan yang berlipat. Ukuran seorang muslim bukan hanya dari apa yang dimiliki, tetapi dari apa yang dibagikan dan seberapa besar manfaatnya bagi orang lain,” kata Heri.
Selain tausiah, acara ini juga menghadirkan sesi diskusi bersama Databoks by Katadata. Manajer Databoks, Jamalianuri, memaparkan tren peningkatan pencarian informasi zakat dan donasi digital setiap Ramadan, sementara VP Finance and Business Development Katadata, Ivan Triyogo Priambodo, menekankan bahwa “Zakat bukan sekadar kewajiban individual, tetapi investasi sosial yang dampaknya bisa dirasakan lebih luas ketika dikelola dengan baik,” tuturnya.















