Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Biaya Hidup di Cirebon Makin Mahal, tapi Kantong Makin Tipis

Biaya Hidup di Cirebon Makin Mahal, tapi Kantong Makin Tipis
Ilustrasi belanja (unsplash.com/Imants Kaziļuns)
Intinya Sih
  • Kota dan Kabupaten Cirebon masuk kelompok daerah dengan biaya hidup tinggi di Jawa Barat, dengan pengeluaran per kapita bulanan mencapai Rp 1,64 juta dan Rp 1,36 juta.
  • BPS Jawa Barat mencatat peningkatan pengeluaran nonmakanan seperti perumahan, pendidikan, transportasi, dan komunikasi sebagai tanda perubahan pola konsumsi masyarakat perkotaan.
  • Kenaikan biaya hidup di Cirebon dianggap mencerminkan pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi yang pesat, namun pemerintah diminta menjaga keseimbangan antara pendapatan dan kesejahteraan warga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Cirebon, IDN Times - Kota dan Kabupaten Cirebon tercatat masuk dalam kelompok daerah dengan biaya hidup relatif tinggi di Provinsi Jawa Barat pada 2025. Data terbaru menunjukkan, rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di Kota Cirebon mencapai sekitar Rp1,64 juta, sementara Kabupaten Cirebon berada di kisaran Rp1,36 juta.

Angka tersebut menempatkan Kota Cirebon di kelompok menengah atas dibandingkan daerah lain di Jawa Barat, sedangkan Kabupaten Cirebon juga berada di atas sejumlah kabupaten dengan tingkat pengeluaran lebih rendah. Posisi ini mencerminkan meningkatnya konsumsi rumah tangga, terutama pada komponen non-makanan.

Secara umum, pengeluaran masyarakat di kedua wilayah ini didorong oleh aktivitas ekonomi perkotaan, perdagangan, serta jasa yang terus berkembang.

1 .Kesenjangan biaya hidup antarwilayah masih lebar

ilustrasi belanja (pexels.com/Kampus Production)
ilustrasi belanja (pexels.com/Kampus Production)

Perbedaan tingkat pengeluaran antarwilayah di Jawa Barat masih cukup mencolok. Daerah dengan pengeluaran terendah seperti Kabupaten Tasikmalaya tercatat sekitar Rp1,09 juta per kapita per bulan. Sementara itu, Kota Depok menjadi daerah dengan pengeluaran tertinggi, mencapai lebih dari Rp 3,37 juta.

Kesenjangan ini menunjukkan biaya hidup di wilayah perkotaan besar jauh lebih tinggi dibandingkan daerah berbasis agraris. Selain Depok, kota-kota seperti Bandung dan Bogor juga mencatat angka pengeluaran yang tinggi, didorong oleh kebutuhan non-makanan seperti perumahan, transportasi, dan gaya hidup.

Di sisi lain, wilayah selatan Jawa Barat seperti Garut, Cianjur, dan Tasikmalaya cenderung berada pada kelompok pengeluaran rendah.

2. Dorongan konsumsi nonmakanan meningkat

ilustrasi belanja di waktu tertentu (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)
ilustrasi belanja di waktu tertentu (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, menjelaskan kenaikan pengeluaran di sejumlah daerah, termasuk Cirebon, tidak hanya berasal dari kebutuhan makanan.

“Porsi pengeluaran non-makanan terus meningkat, terutama di wilayah yang aktivitas ekonominya berkembang. Ini mencerminkan perubahan pola konsumsi masyarakat,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).

Menurut dia, pengeluaran nonmakanan mencakup berbagai kebutuhan seperti perumahan, pendidikan, transportasi, hingga komunikasi. Di daerah perkotaan, komponen ini sering kali lebih dominan dibandingkan makanan.

Hal ini menjadi indikator meningkatnya taraf hidup sekaligus tekanan biaya hidup yang lebih tinggi di wilayah tersebut.

3. Indikasi pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi

Ilustrasi belanja (freepik.com)
Ilustrasi belanja (freepik.com)

Margaretha menyebutkan, masuknya Kota dan Kabupaten Cirebon dalam kelompok biaya hidup tinggi juga dinilai sebagai indikasi pertumbuhan ekonomi daerah. Aktivitas perdagangan, jasa, dan konektivitas wilayah yang semakin baik mendorong peningkatan daya beli masyarakat.

Selain itu, fenomena urbanisasi turut berperan dalam mendorong kenaikan pengeluaran. Perpindahan penduduk ke wilayah dengan peluang ekonomi lebih besar meningkatkan permintaan terhadap berbagai layanan dan kebutuhan hidup.

Meski demikian, kondisi ini juga menjadi perhatian pemerintah daerah. "Tingginya biaya hidup perlu diimbangi dengan peningkatan pendapatan masyarakat agar tidak menekan kesejahteraan," tuturnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More