Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Gas Melon Mahal dan Langka di Sukabumi Selatan, Warga Pakai Kayu Bakar

Gas Melon Mahal dan Langka di Sukabumi Selatan, Warga Pakai Kayu Bakar
Ilustrasi Gas Elpiji 3 Kilogram. Doc. IDN Times
Intinya Sih
  • Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram di Sukabumi Selatan membuat warga kesulitan, harga melonjak hingga Rp30 ribu per tabung, dan banyak yang kembali memakai kayu bakar untuk memasak.
  • Dinas Perdagangan dan Perindustrian menyebut lonjakan permintaan hampir dua kali lipat serta panic buying menjadi penyebab utama kelangkaan, dan telah berkoordinasi dengan pihak distribusi gas.
  • Distribusi gas yang tidak seimbang dengan tingginya permintaan menyebabkan stok cepat habis di pangkalan, sementara warga berharap ada operasi pasar atau penambahan kuota distribusi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kabupaten Sukabumi, IDN Times - Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram atau gas melon di wilayah Sukabumi Selatan bikin warga kelimpungan. Selain sulit didapat, harganya juga melonjak jauh di atas ketentuan pemerintah.

Dalam sepekan terakhir, gas melon dilaporkan langka di sejumlah wilayah Sukabumi Selatan. Kalaupun tersedia, warga harus membelinya dengan harga tinggi hingga Rp30 ribu per tabung.

Kondisi ini membuat ibu rumah tangga hingga pelaku UMKM terpaksa mengeluarkan biaya lebih besar demi memenuhi kebutuhan memasak.

Di lapangan, warga bahkan harus berkeliling dari satu pangkalan ke pangkalan lain, termasuk ke pelosok desa, untuk mendapatkan gas. Namun, stok yang ada kerap habis dalam waktu singkat.

1. Warga terpaksa tempuh jarak jauh hingga pakai kayu bakar

Ilustrasi gas elpiji 3 kilogram. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas
Ilustrasi gas elpiji 3 kilogram. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

Kelangkaan gas dirasakan warga di Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah. Salah seorang warga, Usep Saepul Rohmat (31 tahun), mengaku kesulitan mendapatkan gas meski sudah berkeliling.

"Iya, sudah ada hampir satu pekan di sini kesulitan mendapatkan gas LPG. Sudah muter ke mana-mana, tapi kosong. Kalau ada juga langsung habis, harganya juga naik jadi Rp30 ribu," keluh Usep, Senin (6/4/2026).

Ia menilai kondisi ini berdampak besar terhadap kebutuhan rumah tangga. "Jelas kelangkaan gas ini sangat berdampak pada warga yang saat ini mengandalkan gas untuk memasak," ujarnya.

Hal serupa disampaikan warga lainnya, Yayat (45). Ia menyebut warga terpaksa kembali menggunakan kayu bakar.

"Mau tidak mau (pakai kayu bakar) karena sudah tidak ada pilihan, kalau ada tambahan pasokan gas tidak akan mengalami kelangkaan," ucapnya.

2. Disdagin: permintaan naik drastis

Ilustrasi gas elpiji 3 kilogram. (IDN Times/Larasati Rey)
Ilustrasi gas elpiji 3 kilogram. (IDN Times/Larasati Rey)

Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Sukabumi pun angkat bicara terkait kondisi ini. Kepala Disdagin, Dani Tarsoni, menyebut lonjakan permintaan menjadi salah satu penyebab utama kelangkaan.

"Penyebabnya banyak, mulai dari panic buying hingga permintaan tinggi. Saat ini permintaan di lapangan terpantau naik hampir dua kali lipat," kataDani.

Pihaknya mengaku telah menelusuri rantai distribusi dan berkoordinasi dengan pihak terkait.

"Kami sudah koordinasi dengan Hiswana Migas dan SPBE. Pihak mereka sedang menjajaki pemenuhan kebutuhan yang melonjak tersebut. Kami pastikan kondisi ini sudah diketahui oleh pihak-pihak terkait," tutur Dani.

3. Distribusi tidak seimbang, stok cepat habis

Ilustrasi Gas Elpiji 3 Kilogram. Doc. IDN Times
Ilustrasi Gas Elpiji 3 Kilogram. Doc. IDN Times

Meski koordinasi telah dilakukan, kondisi di lapangan masih belum stabil, distribusi yang tidak sebanding dengan tingginya permintaan membuat stok cepat habis begitu tiba di pangkalan.

"Minimnya distribusi dan lemahnya pengawasan diduga menjadi penyebab berulangnya kelangkaan LPG, terutama saat momentum hari besar," ujarnya.

Warga kini berharap ada langkah konkret seperti operasi pasar atau penambahan kuota distribusi agar harga kembali normal.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More