Farhan Siapkan Teknologi Sampah per Kelurahan, PSEL Tetap Jalan

- Pemkot Bandung menyiapkan teknologi pengolahan sampah kecil-menengah di kelurahan dan kecamatan bersama ITB, PT Pindad, serta kementerian terkait.
- Kota Bandung menambah fasilitas pengolahan hingga mendekati 30 unit, dengan teknologi berstandar lingkungan dan pengendalian pencemaran udara, bukan insinerator kecil terlarang.
- PSEL Jelekong tetap dikaji; studi kelayakan ditargetkan selesai sekitar sebulan, sementara Bandung menangani sekitar 1.500 ton sampah harian tanpa memiliki TPA sendiri.
Bandung, IDN Times – Setelah berbulan-bulan berpacu dengan krisis sampah, Pemerintah Kota Bandung mulai menyiapkan strategi yang berbeda. Jika selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju pada proyek besar seperti Tempat Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), kini Pemkot Bandung juga mulai mendorong pengolahan sampah skala kecil dan menengah langsung di tingkat kelurahan dan kecamatan.
Langkah tersebut diungkapkan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan saat memberikan perkembangan terbaru penanganan sampah di Kota Bandung. Menurut dia, Pemkot akan menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB), PT Pindad, dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk membahas pemanfaatan teknologi pengolahan sampah yang dapat ditempatkan lebih dekat dengan sumber timbulan sampah.
"Sore ini saya akan rapat dengan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Dirut Pindad, dan Rektor ITB untuk membahas teknologi-teknologi baru berkapasitas kecil dan menengah yang bisa ditempatkan di wilayah kelurahan dan kecamatan," kata Farhan.
Strategi tersebut menunjukkan perubahan pendekatan Pemkot Bandung dalam menangani persoalan sampah. Alih-alih hanya mengandalkan fasilitas pengolahan berkapasitas besar, kota ini mulai membangun sistem yang lebih terdistribusi agar sampah bisa diselesaikan sedekat mungkin dengan sumbernya.
Langkah itu dinilai penting karena Bandung masih menghadapi persoalan mendasar: menjadi satu-satunya kota di Jawa Barat yang tidak memiliki tempat pembuangan akhir (TPA) sendiri dan masih bergantung pada fasilitas di luar wilayahnya.
1. Bandung tambah fasilitas pengolahan sampah

(Dok.Humas Bandung) Selain menyiapkan teknologi pengolahan sampah di tingkat kewilayahan, Pemkot Bandung juga terus menambah fasilitas pengolahan sampah berkapasitas besar.
Farhan mengatakan jumlah insinerator yang dimiliki Kota Bandung akan terus bertambah. Saat ini terdapat tambahan unit yang sedang dipersiapkan sehingga total fasilitas pengolahan sampah tersebut mendekati 30 unit.
Namun ia menegaskan teknologi yang digunakan bukan insinerator kecil yang sebelumnya dilarang pemerintah pusat, melainkan fasilitas yang telah memenuhi standar lingkungan dan dilengkapi sistem pengendalian pencemaran udara (air pollution control). Pernyataan ini sejalan dengan kebijakan Pemkot Bandung yang sebelumnya menegaskan tidak menggunakan teknologi termal skala kecil di bawah 10 ton per hari.
Menurut Farhan, keberadaan fasilitas-fasilitas tersebut dibutuhkan untuk memperkuat kapasitas pengolahan sampah kota yang selama ini masih menghadapi keterbatasan.
2. PSEL Jelekong masih menjadi proyek jangka panjang

(Dok.Humas Bandung) Di saat yang sama, rencana pembangunan fasilitas pengolahan sampah skala besar di Jelekong juga tetap berjalan.
Farhan memastikan kawasan Jelekong masih menjadi lokasi yang dikaji untuk pengembangan fasilitas pengolahan sampah. Dalam waktu sekitar satu bulan ke depan, Pemkot Bandung menargetkan studi kelayakan dapat diselesaikan sebelum masuk ke tahap perhitungan investasi dan penjajakan kerja sama dengan pihak swasta.
Lokasi tersebut bukan nama baru dalam peta penanganan sampah Bandung. Sejak awal tahun, Jelekong sudah beberapa kali disebut sebagai salah satu opsi strategis untuk mengurangi ketergantungan Bandung terhadap daerah lain. Kendala terbesar yang masih dihadapi hingga saat ini adalah akses menuju lokasi.
"Lahannya milik kita sekitar 9,7 hektare. Yang menjadi tantangan adalah akses jalannya karena masih melewati lahan milik pihak lain," ujar Farhan.
Karena itu, Pemkot Bandung berencana menyiapkan jalur akses baru agar aktivitas pengolahan sampah tidak menimbulkan gangguan bagi warga sekitar.
Farhan mengakui penggunaan jalur lama berpotensi memunculkan penolakan masyarakat sehingga solusi akses menjadi syarat penting sebelum proyek dapat direalisasikan.
3. Bandung mencari jalan keluar dari ketergantungan TPA luar daerah

(Dok.Humas Bandung) Persoalan sampah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Kota Bandung dalam beberapa tahun terakhir. Produksi sampah harian yang mencapai sekitar 1.500 ton membuat kota ini harus terus mencari alternatif pengolahan selain mengandalkan pengiriman ke TPA Sarimukti.
Karena itu, Pemkot Bandung kini tampak mengembangkan tiga jalur sekaligus: pengolahan sampah skala kelurahan dan kecamatan, penguatan fasilitas pengolahan berkapasitas menengah, serta pembangunan fasilitas besar seperti PSEL.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa Bandung tidak lagi hanya menunggu satu solusi besar untuk menyelesaikan persoalan sampah. Sebaliknya, kota ini mulai membangun sistem berlapis agar pengolahan sampah dapat dilakukan di berbagai tingkatan.
"Khusus untuk Kota Bandung. Karena kita harus ingat, Kota Bandung adalah satu-satunya kota di Jawa Barat yang tidak punya TPA sendiri," kata Farhan.
Bila studi kelayakan Jelekong berjalan sesuai rencana dan teknologi pengolahan sampah di tingkat kewilayahan mulai diterapkan, Bandung berpeluang memiliki sistem pengelolaan sampah yang lebih mandiri dalam beberapa tahun ke depan. Bagi kota yang berkali-kali menghadapi tekanan akibat keterbatasan kapasitas pembuangan, langkah itu bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan upaya mengurangi ketergantungan yang selama ini menjadi akar persoalan.























