Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

FMIPA ITB: Nilai Kompetensi Matematika Siswa SMA di Jabar Lemah

FMIPA ITB: Nilai Kompetensi Matematika Siswa SMA di Jabar Lemah
ilustrasi matematika (pexels.com/JESHOOTS.com)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • FMIPA ITB memetakan kompetensi matematika 3.046 siswa SMA di Jawa Barat dan menemukan lebih dari 75 persen masih berada pada level kemampuan dasar.
  • Hasil menunjukkan kesenjangan antarwilayah, dengan tujuh daerah mencatat skor tinggi seperti Pangandaran dan Kota Bekasi, sementara lima wilayah lain tertinggal signifikan.
  • FMIPA ITB dan Disdik Jabar menyiapkan program AMCT-Jabar untuk meningkatkan kompetensi guru matematika, menargetkan 80 persen guru memenuhi standar baru pada tahun 2028.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times - Skor kompetensi matematika tingkat SMA negeri dan swasta di Jawa Barat masih tergolong rendah. Hal ini diketahui berdasarkan hasil pemetaan kompetensi matematika yang dilakukan oleh Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 21–22 Oktober 2025.

Pemetaan yang dilakukan melalui platform online testing MathERA melibatkan 3.046 siswa dari 157 SMA negeri dan swasta di 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat. Skor rata-rata provinsi berada di angka 500, setara rerata skala PISA internasional.

Distribusi kompetensi siswa terbagi dalam empat level. Sebanyak 39,40 persen siswa berada di level I atau pemahaman konseptual dasar, dan 35,78 persen di level II kemampuan prosedural.

Artinya, lebih dari 75 persen siswa masih berada pada kemampuan dasar dan baru mampu menyelesaikan soal-soal rutin.

1. Geometri-kalkulus menjadi bidang dengan capaian paling lemah

ilustrasi matematika
ilustrasi matematika (pexels.com/Katerina Holmes)

Sementara itu, level III penalaran dan argumentasi matematis dicapai oleh 23,70 persen siswa dan hanya 1,12 persen atau 34 siswa yang berhasil menembus level IV problem solving tingkat tinggi, standar minimum yang dituntut dalam UTBK maupun asesmen internasional seperti PISA dan TIMSS.

"Matematika merupakan core competency yang harus dikuasai oleh semua siswa dari semua level. Matematika adalah fondasi untuk memahami perkembangan bidang-bidang lain, science, engineering, semuanya," ujar Guru Besar FMIPA ITB, Edy Tri Baskoro, dikutip Sabtu (9/5/2026).

Dari sisi bidang studi, kekuatan siswa Jawa Barat relatif merata pada bilangan serta data dan peluang. Adapun aljabar, geometri dan pengukuran serta matematika lanjut dan kalkulus menjadi bidang dengan capaian paling lemah.

2. Ada 13 wilayah dengan nilai di atas rata-rata provinsi

Ilustrasi matematika (freepik.com/jcomp)
Ilustrasi matematika (freepik.com/jcomp)

Dari 27 kabupaten/kota, sebanyak 13 wilayah mencatat nilai di atas rata-rata provinsi. Berdasarkan data, tujuh wilayah menunjukkan kinerja tinggi dan konsisten. Rinciannya, Kabupaten Pangandaran (542,06), Kabupaten Purwakarta (529,61), Kota Bekasi (532,83), Kota Sukabumi (531,06), Kabupaten Tasikmalaya (531,33), Kabupaten Bogor (528,64), dan Kota Bandung (527,16).

Sebaliknya, lima wilayah mencatat capaian terendah, yakni Kota Cirebon (443,07), Kota Tasikmalaya (450,49), Kabupaten Bandung Barat (461,44), Kabupaten Kuningan (464,44), dan Kabupaten Majalengka (467,45). Kesenjangan antarwilayah ini dinilai signifikan dan memerlukan strategi intervensi berbasis wilayah.

Edy menyebut, dua aktor utama yang harus menjadi prioritas dalam upaya peningkatan kompetensi matematika, yakni siswa dan guru. Dia secara khusus menyoroti persoalan latar belakang akademik tenaga pengajar matematika di lapangan.

"Guru memegang kendali dalam pembelajaran. Tapi tidak sedikit guru matematika yang latar belakangnya bukan matematika. Ada yang dari sains, bahkan sosial. Ini yang perlu kita perbaiki, baik kemampuan mengajarnya maupun kemampuan matematikanya itu sendiri," ujarnya.

3. Disdik Jabar dorong peningkatan kompetensi matematika untuk guru

Matematika dengan Sains Data
Ilustrasi Matematika dengan Sains Data (Sumber: freepik.com)

Merespons hal tersebut, Sekretaris Dinas Pendidikan Jawa Barat, Deden Saepul Hidayat mengatakan, kondisi numerasi Jabar pada 2025, skornya mencapai 66,81 atau masih berada di bawah target 70,6.

"Para kepala dinas pendidikan se-Indonesia pun menyampaikan hal yang sama bahwa nilai rapor numerasi masih sangat rendah, termasuk di Jawa Barat," katanya.

Persoalan ini, dikatakan Deden tidak hanya di SMA saja, melainkan jenjang SMK hingga sekolah luar biasa (SLB) pun mengalami kondisi yang sama.

"Dari hasil yang ada, terlihat adanya korelasi yang signifikan antara rapor mutu pendidikan dengan hasil TKA," ungkapnya.

FMIPA ITB bersama Disdik Jabar mendorong pelaksanaan Assessment of Mathematical Competency for Teachers (AMCT-Jabar) bagi seluruh guru matematika SMA di Jabar.

Program itu menargetkan 80 persen guru matematika memenuhi standar kompetensi baru pada 2028. Guru dengan kemampuan rendah, akan mengikuti program upskilling selama enam hingga 12 bulan.

"Intervensi juga perlu dilakukan kepada guru, baik melalui uji kompetensi maupun pelatihan. Sebab, ketika berbicara tentang STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics) dan sains, akan sulit meningkatkan kualitas layanan pendidikan di Jawa Barat tanpa penguatan kompetensi guru," tegas Deden.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Martin Tobing
EditorMartin Tobing
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More