Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Fenomena Curhat Digital Remaja, Butuh Didengar atau Ingin Viral?

Fenomena Curhat Digital Remaja, Butuh Didengar atau Ingin Viral?
ilustrasi medsos (vecteezy.com/Khunkorn Laowisit)
Intinya Sih
  • Fenomena remaja curhat di media sosial muncul karena kebutuhan diterima secara sosial tinggi, sementara kemampuan regulasi emosi dan kontrol diri belum matang.
  • Media sosial memberi rasa aman, kontrol, serta validasi cepat melalui likes dan komentar yang membuat remaja merasa didengar dan dihargai.
  • Pencarian validasi digital berlebihan dapat memicu perbandingan sosial, kecemasan, hingga gangguan kesehatan mental jika tidak diimbangi dukungan emosional dari lingkungan nyata.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times - Fenomena anak usia SD hingga SMP yang makin sering mencurahkan perasaan atau curhat di media sosial kini menjadi perhatian banyak orang tua. Tak sedikit yang menganggapnya sebagai bentuk “drama remaja” atau sikap berlebihan. Padahal, menurut psikolog klinis anak, perilaku ini berkaitan erat dengan tahap perkembangan mereka.

Psikolog Klinis Anak Rumah Dandelion, Faradila Azka, M.Psi., Psikolog, CMHA, menjelaskan bahwa anak usia 9 hingga14 tahun sedang berada dalam fase eksplorasi identitas. Pada fase ini, kebutuhan untuk diterima secara sosial sangat tinggi, sementara kemampuan regulasi emosi dan kontrol diri belum sepenuhnya matang.

“Media sosial menjadi opsi yang sangat menarik karena memberikan koneksi, ruang ekspresi diri, serta respons cepat dan instan melalui likes dan komentar,” ujar Faradila kepada IDN Times beberapa waktu lalu.

Respons instan tersebut, lanjutnya, secara neurologis mengaktifkan sistem reward di otak remaja. Itulah yang membuat mereka merasa senang dan terdorong untuk mengulang perilaku serupa.

1. Media sosial terasa lebih aman dibanding tatap muka

Generasi digital
Medsos (Pin by.fake studios)

Faradila menilai, perubahan perilaku anak yang lebih nyaman curhat di media sosial ketimbang langsung ke orang terdekat dipengaruhi banyak faktor. Pada masa remaja awal, kebutuhan untuk diterima dan dipahami sangat tinggi, tetapi sensitivitas terhadap penolakan juga sedang kuat-kuatnya.

“Media sosial terasa lebih praktis, tidak perlu banyak effort, dan tidak ada batasan geografis. Anak bisa mendapatkan respons dari siapa saja,” katanya.

Di ruang digital, anak juga bisa mengurasi ceritanya. Mereka dapat menyusun kata, mengedit, bahkan menghapus unggahan sesuai persona yang ingin ditampilkan. Ada jarak emosional yang membuat mereka merasa lebih aman, terutama bagi remaja yang pemalu atau takut dihakimi.

Menurut Faradila, jika di lingkungan terdekat anak merasa emosinya sering diremehkan, langsung dinasihati, atau kurang didengarkan, maka mereka cenderung mencari ruang alternatif yang lebih nyaman. Media sosial kemudian menjadi tempat yang dianggap minim risiko konfrontasi.

“Jadi bukan semata karena anak menjauh dari relasi nyata, tetapi karena ruang digital memberi rasa aman, kontrol, dan validasi yang cepat,” jelasnya.

2. Validasi digital jadi tolok ukur nilai diri

Aktivitas Scrol Medsos
Aktivitas Scrol Medsos (pexels.com/Đan Thy Nguyễn Mai)

Kebutuhan validasi pada remaja sebenarnya bukan hal baru. Pada masa ini, mereka memang ingin merasa diterima, diakui, dan dianggap berarti oleh lingkungan sosial.

Penemuan dari American Psychological Association (2023) menunjukkan bahwa sensitivitas terhadap penerimaan dan penolakan sosial meningkat pada fase remaja awal. Respons dari teman sebaya menjadi sangat penting dalam pembentukan harga diri.

Yang berbeda saat ini, kata Faradila, bentuk validasi menjadi terukur dan terlihat secara publik melalui jumlah likes, views, komentar, hingga followers.

“Awalnya mungkin hanya ingin didengar. Tapi dalam ekosistem digital, dorongan itu bisa berkembang menjadi ingin dilihat atau bahkan viral, karena visibilitas digital sering diasosiasikan dengan nilai diri dan status sosial,” ujarnya.

Di sinilah risiko perbandingan sosial muncul. Remaja tidak hanya mencari dukungan emosional, tetapi juga mulai membandingkan angka-angka tersebut dengan orang lain.

3. Ada risiko pada emosi dan kesehatan mental

Kecanduan Medsos - Ilustrasi
Kecanduan Medsos - Ilustrasi

Faradila menegaskan, curhat di media sosial tidak selalu berdampak negatif. Namun, jika dilakukan secara berlebihan dan menjadi satu-satunya sumber pemenuhan kebutuhan emosional, ada risiko yang perlu diwaspadai.

Panduan American Psychological Association menyebut penggunaan media sosial yang bermasalah, terutama terkait pencarian validasi dan perbandingan sosial dapat memperburuk kesejahteraan psikologis sebagian remaja.

Respons instan memang memberi kepuasan jangka pendek. Namun jika anak menjadi bergantung pada validasi eksternal, kemampuan regulasi emosinya bisa kurang berkembang. Oversharing juga meningkatkan risiko cyberbullying atau komentar negatif yang dapat memicu kecemasan hingga rasa malu.

American Academy of Pediatrics turut mengingatkan bahwa remaja belum sepenuhnya matang dalam mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang. Unggahan impulsif bisa menimbulkan penyesalan atau konflik sosial di kemudian hari.

Beberapa penelitian juga menunjukkan adanya asosiasi antara penggunaan media sosial yang intens dengan peningkatan gejala kecemasan, depresi, gangguan body image, bahkan risiko self-harm pada kelompok yang rentan. Meski demikian, Faradila menekankan bahwa media sosial bukan penyebab tunggal.

“Dampaknya sangat bergantung pada pola penggunaan, kondisi psikologis sebelumnya, serta dukungan sosial yang dimiliki anak di dunia nyata,” katanya.

Pada akhirnya, fenomena remaja yang lebih memilih curhat di media sosial merupakan refleksi kebutuhan perkembangan yang mendasar: ingin diterima, didengar, dan merasa berarti. Tantangannya bukan sekadar melarang, melainkan memastikan anak memiliki ruang aman di rumah dan lingkungan sekitar untuk berbagi tanpa takut dihakimi.

Share
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More